
Berita empat sekawan masuk ke sekolah barunya sudah tersebar, mereka mengira empat cowok itu menggunakan mobil mewah ataupun dengan motor mewah. Nyatanya mereka hanya naik angkot.
“Wah, bening-bening banget ini cewek-cewek disini,” mata Ibob langsung mengerah ke kumpulan cewek yang sudah mengelu-elukan ketampanan mereka berempat.
“Dinda mana ya?” Luki mencari keberadaan Dinda.
“Ai lo sudah bilang Dinda belum sih kalau kita mau sekolah di sini?” tanya Rafa.
“Belum,” Aiden rersenyum lebar.
“Lo gimana Ai, kemarin katanya lo yang mau bilang,” ucap Rafa.
“Udah buat suprize aja kalau kita pindah sekolah di sini,” ujarnya.
Keempat sekawan itu pergi ke ruang guru untuk menyelesaikan semua persyaratan perpindahannya. Mereka senang bisa sekolah di tempat Gita, Gilang dan teman-temannya waktu muda.
Selain ceweknya bening-bening tempatnya memang sangat asyik di bandingkan sekolahannya yang lama.
“Selamat siang Buk Intan, saya kesini membawa empat anak pindahan yang akan bergabung di kelas ibu,” Kata Pak Bangun kepala sekolah.
“Iya Pak, terima kasih.”
Aiden, Luki, Ibob dan Rafa berdiri di depan kelas yang membuat anak-anak perempuan histeris.Gimana tidak empat cowok ganteng masuk ke dalam satu kelasnya.
Mata Dinda langsung melotot melihat kedua kakaknya bersekolah bersama dengannya. Meskipun mereka bukan kakak kandung namun mereka selalu main bersama sebelum Rafa dan Aiden pindah rumah.
Setelah perkenalan mereka langsung menuju ke tempat duduk, dan pilihan mereka berempat adalah meja pojok dekat jendela dan paling belakang.
“Baikalah, sekarang kalian lanjutkan tugas yang ibu berikan. Ibu ke kantor sebentar.”
Dinda mengambil kesempatan, untuk temu kangen dengan Aiden dan Rafa.
“Kak Ai, Kak Rafa,” serunya lompat dari kursi melewati Kyra teman duduknya.
“Santai kali Din,” keluhnya.
Dinda memeluk Aiden dan Rafa bersamaan, kelas langsung riuh mereka iri dengan Dinda yang langsung kenal dengan Aiden dan juga Rafa.
“Kak kangen banget, kenapa nggak bilang mau pindah ke sini?” cerocos Dinda.
“Buat kejutan,” jawab Aiden.
“Kalian tinggal di mana?” tanya Dinda.
“Di rumah nenek,” jawab Rafa.
Obrolan mereka terhenti saat Bu Intan kembali lagi ke kelasnya, Dinda merasa belum hilang kangennya.
“Kenapa dia nggak peluk gue juga?” Luki merengut karena tidak mendapat pelukan dari Dinda.
“Jangan macam-macam lo, gue beri juga,” Aiden mengancam Luki kalau sampai berani macam-macam sama Dinda.
__ADS_1
“Cuma satu macam Ai, jadikan gue pacarnya,” pinta Luki dengan merenges.
Luki hampir sama dengan Aiden yang tidak terlalu banyak bicara. Namun sekalinya bicara mereka berdua akan cerewet banget. Dan Luki akan sangat cerewet kalau sudah membahas tentang Dinda.
Bel istirahat berbunyi empat sekawan itu langsung di kerubungi cewek-cewek di kelasnya.
“Permisi,” Dinda membutkan jalan agar kedua kakanya beserta dua temannya bisa keluar dari kerumunan teman-teman sekelasnya.
“Kenalannya nanti lagi ya,” Dinda menarik tangan Aiden dan Rafa keluar dari gerombolan anak-anak.
Dinda mengajak mereka ke kantin, dan memesankan makanan yang mereka mau.
“Din, lo kenapa mau jadi babu mereka sih,” protes Kyra.
“Kok babu sih, mereka itu kakak-kakak gue, oiya lo belum kenalan kan sama mereka,” kata Dinda sembari mengangkat nampan berisikan makanan.
Kyra mendengus, ia pun tidak tertarik berkenalan dengan saudara Dinda yang sok keren menurutnya.
“Tara, selamat makan,” kata Dinda sambil duduk.
“Lo kenapa repot-repot, kita bisa pesan sendiri kok,” ujara Aiden.
“Nggak apa-apa, sekali-kali buat penyambutan kalian datang. Kak kenalin ini teman sebangku Dinda namanya Kyra,” Dinda memperkenalkan Kyra.
“Hai, Kyra,” Sapa Ibob di ikuti yang lain.
“Hai,” jawabnya jutek.
“Jutek amat,” protes Ibob.
“Ya Kyra memang agak jutek, itu karena dia tr --,” ucapannya terputus saat Kyra mnginjak kakinya.
“Jangan terlalu mengumbar aib orang, biarkan saja dia menyimpanya sendiri,” kata Aiden dengan memasukan gorengan ke dalam mulutnya.
“Benar, Ibob lo jangan lemes jadi cowok,” tambah Luki.
“Kan gue cuma berkata jujur.”
“Dah makan, nanti keburu masuk kelas lo kelaparan kita yang repot,” Rafa menyuapi Ibob bakso yang ada di depannya.
Kyra melihat kearah Aiden, ucapanya dengan wajah datar dan terdengar dingin. Sepertinya dia tidak akan menjadi perusuh di kelasnya.
“Hai Kyra,” sapa Kris kakak kelasnya yang suka kepada Kyra sejak tahun ajaran baru.
“Hai, ada apa Kak?” tanya Kyra.
“Giliran sama dia aja ngomongnya halus,” protes Ibob.
“Lo ngomong apa?” tanya Kris.
“Nggak.”
__ADS_1
“Gue kok nggak pernah lihat kalian, anak baru?” tanya Kris.
“Iya, Kak ini saudara Dinda baru pindah hari ini,” sahut Dinda.
“Anak baru ya, kenalkan nama gue Krisdian Ari wibowo. Ketua osis di sekolah kita ini.”
Cowok tinggi dan tegap itu memperkenalkan diri di depan emapat sekawan yang sebenarnya tidak peduli dia siapa.
“Dinda perkenalkan dari sebelah kanan, Kak Aiden, Kak Rafa, kak Ibob dan juga Kak Luki.” Dinda memperkenalkan dengan semangat.
“Ya semoga saja kalian ini masuk sini tidak macem-macem,” kata Kris.
“Maksudnya apa ini?” Luki yang sejak ke kantin diam saja mulai angkat suara. Dia tidak bisa ada yang menyenggol dia dan juga teman-temannya.
“Sekolah kami tidak menerima biang kerusuhan, harus patuh dan disiplin,” ucap Kris sembari melihat dandanan keempat orang di depannya.
“Lo pikir kita ini biang kerusuhan?” Rafa juga mulai tersulu emosi.
“Teman-teman cukup, jangan membuat masalah di pertama kali kita sekolah. itukan tugas ketua osis untuk mengingatkan muridnya,” jawab Aiden dengan tidak memperkeruh keadaan.
Kyra merasa ada yang berbeda dengan Aiden, ia terlihat sangat bijaksana menyikapi masalah yang ada.
“Tapi Ai,” Ibob menghentikan ucapannya saat Aiden mengangkat tangan irinya ke udara.
“Din, makasih ya traktirannya. Nanti kita main ke rumah lo kalau kita senggang. Makasih juga perkenalannnya ketua osis,” ucap Aiden sembari mengkode teman-temannya agar segera pergi dari kantin.
“Dinda lo bilangin sama teman-teman lo itu agar tidak membuat masalah di sekolah kita yang damai ini,” jelas Kris.
“Baik Kak,” jawab Dinda dengan nada males.
“Kak tadi mau ngomong apa ya sama Kyra?” Kyra menanyakan keperluan Kris kepadanya.
“Mau mengingatkan nanti setelah pulang sekolah kita akan ada rapat untuk kegiatan acra amal minggu besok.”
“Iya Kak, nanti Kyra datang,”
“Kalau begitu gue cabut dulu, sampai jumpa di ruang osis,” Kris melambaikan tangannya.
“Aneh banget, baru juga tadi pemberitahuannya. Ini belum ada loh tiga jam sudah mau mengingatkan lagi,” Dinda menggelengkan kepala.
“Itu namanya ketua osis yang baik.”
“Ketua osis yang baik apa modus mau deketin lo,” goda Dinda.
“Ngaco.”
“Coba cek aja siapa saja yang di ingetin lagi sama sang ketua osis kita ini,” tandas Dinda.
Kyra juga merasa kalau perlakuan Kris kepada dirinya berbeda dengan orang lain. Namun ia tidak terlalu memperdulikannya, ia selalu merasa kalau Kris memperlakukan sama seperti yang lainnya.
“Pikiran lo saja. Ini makanan banyak banget yang nggak di makan loh,” ujar Kyra melihat makanan di piring dan mangkok yang masih banyak.
__ADS_1
“Gara-gara ketua osis pujaan lo itu, saudara gue jadi kabur semua,” tukas Dinda. Kyra mendelik mendengar ucapan Dinda yang di balas dengan senyuman lebar.