Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Perdebatan Nama Bayi


__ADS_3

Waktu sudah menjelang


sore keluarga Gita dan mama Gilang pulang untuk mengurus pekerjaan yang mereka


tinggalkan.


Gita berada di rumah


sakit bersama Gilang dan juga teman-temannya. Mereka heboh untuk menemukan nama


buat anak Gita dan Gilang.


“Git, gimana kalau anak


lo di beri nama Arvian putra pratama.” Vian tiba-tiba memberikan nama kepada


anak Gita dan Gilang.


“Ogah, lo kata dia anak


lo. Sembarangan saja.” Gita tidak terima bayinya di beri nama Vian.”


“Eh, Vian makanya


buruan lo punya bini biar bisa kasih nama ankan lo sendiri.” Jelas Fara.


“Kenapa sih emang,nih


ya gue berikan nama itu biar kegantengan gue turun di anak lo.”


“Ngaca kenapa lo, dari


dulu juga gantengan Kak Gilang. Lagian kalau lo ganteng undah nikah pastinya


sekarang.” Omel Fara.


“Gimana anak lo kalau


di kasin nama Gigi atau Tala kepanjangan dari Gita dan Gilang.”


“Ah lo  mah nggak pernah kreatif kalau kasih nama,


gue udah punya nama untuk baby.”  Kata


Gita.


“Kamu udah siapkan


nama?” tanya Gilang sembari mengerutkan keningnya.


“Iya, pertama Ooh


Sehun, Kedua Lee min Ho, atau Siwon. Biar dia ganteng, sukses kayak para idola


gue.” Katanya sambil terkekeh.


“No.. dia anak aku.


Bukan anak idola korea kamu.” Gilang tidak setuju, dia suka merasa cemburu


dengan idola yang sering di halukan Gita menjadi suami, pacar, sahabat dan


sebagainya. Jelas-jelas dia suami sahnya masih saja mengaku-aku memiliki suami


lain.


“Iih... cemburu nih ya.”

__ADS_1


Gita menjulurkan lidahnya.


“Bayangin aja ya kalian


semua, yang tiap hari kasih makan, kasih perhatian bukan kita yang jadi


satu-satunya. Masih saja puja-puja cook lain. Mana masuk doa harian lagi.” Kata


Gilang sembari menggelengkan kepala.


“Ya mending menghaluin


yang nggak bisa di gapai daripada yang bisa di gapai, bisa perang dunia lo.”


Fara belain Gita.


“Noh dengarin kakak


ipar tersayang.” Gita senang mendapatkan pembelaan.


“Udahlah Lang, lo nggak


bakalan menang melawan mereka. Mending lo banyakin sabar-sabar aja.”


“Trus siapa nih anak


lo? Lama amat kasih nama.” Vian sudah tidak sabar.


“Sabar dong, gue udah


punya nama buat anak gue.”


“Kamu udah punya nama?”


tanya Gita.


sudah sepakat mau kasih nama dia, waktu kamu aal-awal hamil.” Kata Gilang.


Gita mulai mengingat


apa yang di katakan oleh Gilang, yang dia ingat masih saja bingung untuk


mencarikan nama babynya.


“Siapa ya kok lupa?”


“Aiden Galang


Bramastya.” Jawab Gilang.


“Ah iya, baby Ai.” Gita


mengingat.


“Nah, ini baru keren.” Jawab


Vian.


“Hai baby Ai, cepat


besar yuk nanti om ajarin jadi cowok keren.” Vian menggendong Baby Ai yang ada


di box.


“Big no Vian, lo nggak


akan gue ijinin bergaul sama anak gue.” Kata Gita.

__ADS_1


“Pelit ama, sih lo.”


“Bodo.”


Tawa riuh terdengar memenuhi


satu ruangan, kedatangan Aiden membuat kebahagia keluarga kecil Gilang dan Gita


semakin ramai. Tanggung jawab mereka pun semakin besar.


Gita beranjak dari


kasurnya, dia menggendong bayi mungil dengan pipi tembem, hidung mancung


seperti Gilang.


Gilang mengelus pipinya


yang sangat lembut, “Semoga kamu tumbuh seperti papa kamu ya nak, baik,


bijaksana, pandai, keren.” Gita mencium pipi Aiden.


“Jangan seperti mama


yang ceroboh.” Katanya lagi sembari mengusap kepalanya lembut.


Gilang yang baru saja


mengantarsahabat-sahabatnya pulang langsung masuk dan memeluk Gita dan Aiden


dari belakang.


“Mereka sudah pulang?”


tanya Gita.


“Iya.” Katanya sambil


mencium pelipis milik Gita.


“Kak Gilang udah makan


belum?” Tanya Gita.


“Udah. Sayang.”


“Hem...”


“Makasih ya.”


“Makasih buat apa?”


“Makasih karena kamu


telah memberikan warna yang sangat indah di hidupku. Kamu sama Aiden adalah


anugerah terindah yang di berikan Tuhan untuk aku. Terima kasih selalu menjadi


wanita yang sangat hebat, hanya demi membuat aku bahagia. Aku tidak pernah


salah mengejar kamu selama ini.” Kata Gilang memeluk erat Gita.


“Sama-sama sayang, kamu


juga anugerah terindah yang aku miliki. Aku tidak tahu kalau aku tidak bersama


kamu. Mungkin aku nggak akan sebahagia ini.”

__ADS_1


__ADS_2