
Waktu sudah menjelang
sore keluarga Gita dan mama Gilang pulang untuk mengurus pekerjaan yang mereka
tinggalkan.
Gita berada di rumah
sakit bersama Gilang dan juga teman-temannya. Mereka heboh untuk menemukan nama
buat anak Gita dan Gilang.
“Git, gimana kalau anak
lo di beri nama Arvian putra pratama.” Vian tiba-tiba memberikan nama kepada
anak Gita dan Gilang.
“Ogah, lo kata dia anak
lo. Sembarangan saja.” Gita tidak terima bayinya di beri nama Vian.”
“Eh, Vian makanya
buruan lo punya bini biar bisa kasih nama ankan lo sendiri.” Jelas Fara.
“Kenapa sih emang,nih
ya gue berikan nama itu biar kegantengan gue turun di anak lo.”
“Ngaca kenapa lo, dari
dulu juga gantengan Kak Gilang. Lagian kalau lo ganteng undah nikah pastinya
sekarang.” Omel Fara.
“Gimana anak lo kalau
di kasin nama Gigi atau Tala kepanjangan dari Gita dan Gilang.”
“Ah lo mah nggak pernah kreatif kalau kasih nama,
gue udah punya nama untuk baby.” Kata
Gita.
“Kamu udah siapkan
nama?” tanya Gilang sembari mengerutkan keningnya.
“Iya, pertama Ooh
Sehun, Kedua Lee min Ho, atau Siwon. Biar dia ganteng, sukses kayak para idola
gue.” Katanya sambil terkekeh.
“No.. dia anak aku.
Bukan anak idola korea kamu.” Gilang tidak setuju, dia suka merasa cemburu
dengan idola yang sering di halukan Gita menjadi suami, pacar, sahabat dan
sebagainya. Jelas-jelas dia suami sahnya masih saja mengaku-aku memiliki suami
lain.
“Iih... cemburu nih ya.”
__ADS_1
Gita menjulurkan lidahnya.
“Bayangin aja ya kalian
semua, yang tiap hari kasih makan, kasih perhatian bukan kita yang jadi
satu-satunya. Masih saja puja-puja cook lain. Mana masuk doa harian lagi.” Kata
Gilang sembari menggelengkan kepala.
“Ya mending menghaluin
yang nggak bisa di gapai daripada yang bisa di gapai, bisa perang dunia lo.”
Fara belain Gita.
“Noh dengarin kakak
ipar tersayang.” Gita senang mendapatkan pembelaan.
“Udahlah Lang, lo nggak
bakalan menang melawan mereka. Mending lo banyakin sabar-sabar aja.”
“Trus siapa nih anak
lo? Lama amat kasih nama.” Vian sudah tidak sabar.
“Sabar dong, gue udah
punya nama buat anak gue.”
“Kamu udah punya nama?”
tanya Gita.
sudah sepakat mau kasih nama dia, waktu kamu aal-awal hamil.” Kata Gilang.
Gita mulai mengingat
apa yang di katakan oleh Gilang, yang dia ingat masih saja bingung untuk
mencarikan nama babynya.
“Siapa ya kok lupa?”
“Aiden Galang
Bramastya.” Jawab Gilang.
“Ah iya, baby Ai.” Gita
mengingat.
“Nah, ini baru keren.” Jawab
Vian.
“Hai baby Ai, cepat
besar yuk nanti om ajarin jadi cowok keren.” Vian menggendong Baby Ai yang ada
di box.
“Big no Vian, lo nggak
akan gue ijinin bergaul sama anak gue.” Kata Gita.
__ADS_1
“Pelit ama, sih lo.”
“Bodo.”
Tawa riuh terdengar memenuhi
satu ruangan, kedatangan Aiden membuat kebahagia keluarga kecil Gilang dan Gita
semakin ramai. Tanggung jawab mereka pun semakin besar.
Gita beranjak dari
kasurnya, dia menggendong bayi mungil dengan pipi tembem, hidung mancung
seperti Gilang.
Gilang mengelus pipinya
yang sangat lembut, “Semoga kamu tumbuh seperti papa kamu ya nak, baik,
bijaksana, pandai, keren.” Gita mencium pipi Aiden.
“Jangan seperti mama
yang ceroboh.” Katanya lagi sembari mengusap kepalanya lembut.
Gilang yang baru saja
mengantarsahabat-sahabatnya pulang langsung masuk dan memeluk Gita dan Aiden
dari belakang.
“Mereka sudah pulang?”
tanya Gita.
“Iya.” Katanya sambil
mencium pelipis milik Gita.
“Kak Gilang udah makan
belum?” Tanya Gita.
“Udah. Sayang.”
“Hem...”
“Makasih ya.”
“Makasih buat apa?”
“Makasih karena kamu
telah memberikan warna yang sangat indah di hidupku. Kamu sama Aiden adalah
anugerah terindah yang di berikan Tuhan untuk aku. Terima kasih selalu menjadi
wanita yang sangat hebat, hanya demi membuat aku bahagia. Aku tidak pernah
salah mengejar kamu selama ini.” Kata Gilang memeluk erat Gita.
“Sama-sama sayang, kamu
juga anugerah terindah yang aku miliki. Aku tidak tahu kalau aku tidak bersama
kamu. Mungkin aku nggak akan sebahagia ini.”
__ADS_1