
"Prisil..!" panggil Om Sultan.
"Om, cukup. Prisil capek, jangan ganggu hidup Prisil lagi." kata Prisil ketika di temukan Om Sultan.
"Bagi uang lima puluh juta baru Om lepaskan kamu." Kata Om Sultan.
"Om, sudah berapa kali mengatakan itu, tapi kenyataanya Om terus menggagu Prisil. Meminta uang terus." kata Prisil sambil menangis.
"Salah sendiri kamu tidak mau om nikahin sama teman om."
"Maaf Om, tapi ini sudah keterlaluan. Dia bukan anak Om kenapa terus diminta uang." Raka membantu bicara.
"Tidak perlu ikut campur masalah orang." Kata Om Sultan dengan galak.
"Saya tidak mau ikut campur, kalau Om tidak memperlakukan wanita dengan kejam. Apalagi Prisil ini kan keponakan om." Raka coba menenangkan.
"Diam! Kamu itu tidak tahu apa-apa jangan ikut campur!" Om Sultan langsung ingin menghajar Raka namun langsung di tahan sama Raka.
"Jangan seperti ini atau, Om akan mendekam di penjara." ancam Raka.
"Banyak omong!"
"Bugh..."
Pukulan melayang di wajah Raka yang mengenai ujung bibirnya hingga berdarah. Raka sedikit oleng namun masih bisa berdiri.
"Lepasin dia, atau kamu mau mati." Ancam Om Sultan. Raka belum menberikan perlawanan.
"Saudara Sultan, angkat tangan!" teriak polisi dari belakang Om Sultan. Dia langsung di ringkus dan di bawa ke kantor polisi.
Sebelum menemui Prisil, Raka ke kantor polisi dekat mall dan meminta pertolongan.
"Makasih ya Raka, lo masih mau membantu gue." ujarnya sambil memeluk Raka.
"Sama-sama." Kata Raka sambil melepaskan pelukan Prisil. Dia tidak mau kalau sampai Fara tahu akan menjadi masalah besar.
"Lo sekarang sudah aman, gue balik dulu ya. Lo hati-hati." kata Raka sambil berjalan meninggalkan Prisil.
"Raka tunggu." panggil Prisil sambil berjalan mendekati Raka.
"Ada apa?" tanya Raka sambil menghentikan langkahnya.
"Lo luka, biar gue obatin dulu." Kata Prisil ingin memegang ujung bibir Raka namun langsung di tepis.
"Gue nggak apa-apa kok, gue cabut dulu ya. Istri gue udah nungguin gue." katanya sambil buru-buru kabur dari Prisil. Takut Prisil salah sangka dengan kebaikannya.
Raka kembali ke parkiran mall, dengan napas terengah-engah dia mencari letak mobilnya.
"Gue yakin tadi parkir disini." katanya masih dengan napas terengah-engah.
Raka mengambil ponsel di kantong celananya, dia menelpon Fara. Sayangnya, Fara langsung merejectnya. Raka mencoba menelponya lagi. Sekarang nomor telpon Fara langsung tidak aktif.
"Ya ampun, pasti marah dia."
Raka langsung mencari taksi untuk segera pulang. Dia tidak lupa parkir mobilnya, tapi dia sengaja di tinggal sama Fara.
__ADS_1
...----------------...
Raka membuka pintu rumah langsung berlari ke kamarnya. Namun dia tidak melihat Fara.
"Bik..Bik..Bik Janah." Panggil Raka sambil menuruni tangga.
"Ada apa Mas Raka?" Bik Janah berjalan menuju Raka.
"Fara kemana?" katanya dengan wajah panik.
"Mbak Fara menyusul Ibu Wanda sama Mbak Gita ke Surabaya." kata Bik Janah.
"Ke Surabaya sama Rafa juga?" tanya Raka.
"Iya Mas, tadi pulang langsung meminta bibik siapin baju-baju lalu pergi. Perginya juga buru-buru gitu." Cerita Bik Janah.
"Bik Fara mengatakan sesuatu atau nggak?" tanya Raka.
"Nggak Mas."
"Ya udah terima kasih ya Bik." Kata Raka sambil mencoba menghubungi Fara namun masih tak aktif.
Raka kembali ke kamarnya lemas, dia mengacak-acak rambutnya. Dia mengambil obat lalu mengobati luka yang di ujung bibirnya.
"Harusnya gue tadi nggak pergi pasti Fara nggak akan pergi ke Surabaya." katanya dengan penuh penyesalan.
"Tapi kalau gue nggak pergi satu nyawa bisa melayang." keluhnya, dia benar-benar bingung.
Raka merasa kesepian tidak ada istri bar-barnya itu. Dia mau pergi ke rumah Gilang untuk menghilangkan kesepiannya.
"Mau ke rumah Gilang, Bik." Kata Raka.
"Oiya Bik, ini kan hp Fara nggak bisa di hubungi. Kalau dia telpon ke rumah bilang saja lagi di rumah Gilang. Suruh telpon ke sana." Pinta Raka.
"Siap Mas."
...----------------...
Raka sampai ke rumah Gilang, tapi rumahnya tampak sepi. Dia mengetuk pintu lumayan kencang takutnya nggak dengar karena sudah malam.
"Iya sebentar." sahut Bik Siti dari dalam. "Eh.. Mas Raka, tumben malam-malam datang." Kata Bik Siti saat pintu terbuka lebar.
"Iya Bik, pada kemana ya kok sepi banget." Tanya Raka sambil masuk.
"Mbak Gita lagi ke Surabaya sama Bu Wanda. Kalau Mas Gilang ada di atas sama Mas Vian." Bik Siti memberikan penjabaran.
"Ok, makasih Bik. Raka langsung ke atas ya."
"Iya Mas."
Raka berlari menaiki tangga, habis itu mendorong pintu kamar tamu. Gilang dan Vian yang sedang asyik main game langasung menoleh ke arah pintu.
"Kenapa wajah kalian berdua kaget gitu lihat gue." kata Raka sambil jalan masuk dan duduk di samping Gilang.
"Gue kira siapa, lo tumben malam-malam kesini ada apa?" tanya Gilang.
__ADS_1
"Iya, gue kesepian di rumah di tinggal Fara pergi ke Surabaya nyusulin mama sama Gita." Ujarnya sambil beranjak dari sofa memilih merebahkan tubuhnya ke Sofa.
"Jadi Fara mendadak minta cuti itu gara-gara mau ke Surabaya?" tanya Gilang sambil menoleh ke arah Raka.
"Cuti?" Raka kembali duduk. Dia sama sekali tidak tahu kalau Fara ambil cuti.
"Iya, Fara mendadak ambil cuti." jelas Gilang.
"Gue justru nggak tahu kalau dia ambil cuti."
"Sebenarnya, Fara ambil cuti bukan masalah itu. Tapi dia sedang marah sama Anita." Vian membuka mulutnya setelah mengabaikan pembicaraan kedua sahabatnya.
"Ah.. Masalah itu." Raka menganggukkan kepalanya.
"Masalah apaan kok gue nggak tahu?" tanya Gilang.
"Yang gue bilang kemarin, Anita tuh sepertinya masih megharapkan Bayu. Nah kan Fara tuh maki-maki si Bayu saat telponin Anita. Terus Anita kesal, dia bilang kalau Fara terlalu ikut campur urusanya. Dan dia ngambek, terus tiba-tiba ambil cuti." Carita Vian.
"Mampus gue, pasti kesalnya berkali-lipat dia." ujar Raka dengan menjatuhkan tubuhnya.
"Kenapa?" tanya Gilang.
"Gue rasa Fara ke Surabaya selain karena Anita dia juga marah besar sama gue. Sampai telpon gue di reject mulu." katanya.
"Memangnya lo bikin kesalahan apa?" tanya Vian.
"Gue tadi habis ngantetin Fara belanja, makan karena dia lagi kesal. Pas mau pulang tidak sengaja bertemu Prisil. Nah gue mau bantuin Prisil, Fara tidak boleh tapi gue tetap membantunya." cerita Raka.
"Lo emang uji nyali Raka, cari mati tahu nggak. Udah istri lo itu emosian malah lo tantang. Untung dia cuma kabur nyusulin emak lo. Kalau minta cerai gimana?"
"Ya gue harus gimana, soalnya itu kalau gue tidak tolong bisa melayang nyawa Prisil." jelas Raka masih dengan pembelaan dirinya.
"Macem-macem aja sih lo, memangnya Prisil kenapa?" Gilang kepo.
"Omnya terus saja meminta uang padanya, kalau tidak kasih bisa di hajar. Selain itu dia juga mau di jual sama Omnya." jelas Raka.
"Kalau lo Lang?" tanya Vian. Vian masih penasaran kalau sebenarnya Gita dan Gilang itu sedang tidak baik-baik saja.
"Gue kenapa memangnya?"
"Lo nggak usah ngeles lagi, gue yakin lo sama Gita sedang tidak baik-baik saja kan?"
"Lo juga ribut sama Gita?" tanya Raka.
Dia bangun lalu duduk di tengah-tengah antara Gilang dan Raka.
"Iya gue ribut besar sama Gita. Gita mau menginap ke rumah mama, eh kebetulan mama datang. Malah mau ajak Gita menginap di Surabaya."
"Kan, gue udah kira kalau lo itu pasti sedang tidak baik-baik saja. Lo banyak marahnya di kantor soalnya." kata Vian.
"Pusing kalau lagi ribet begini."
"Benar."
"Memang lebih benar jadi jomblo, nggak ribet." sahut Vian.
__ADS_1
"