Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Selingkuh


__ADS_3

Kyra melihat kursi kosong belakangnya yang sudah kosong selama dua hari. Dia merasakan ada yang hilang seperti yang dirasakan oleh Ibob dan Rafa. Sangat sepi, meskipun Aiden dan Luki cuma tidur saja namun sangat rame ketika istirahat.


“Kenapa tengak-tengok belakang terus? Kangen sama Kak Ai ya,” goda Dinda.


“Nggak, siapa juga yang kangen,” kilah Kyra.


“Yakin lo nggak kangen?” Dinda mendekatkan wajahnya kearah Kyra.


“Nggak.” Kyra mendorong tubuh Dinda.


“Din.”


“Hem,” jawab Dinda.


“Memangnya kriteria pacar Ai kayak gimana?” tanya Kyra hati-hati.


“Lo beneran suka ya sama Kak Ai?” kedua mata Dinda berbinar mendengar Kyra menanyakan cewek idaman Aiden.


“Nggak, gue cuma kepo saja. Dia kan orangnya nggak bisa di tebak banget. Sifatnya kadang baik, kadang dingin, kadang konyol dan kadang biasa saja.”


“Dia kan memang bunglon, sering berubah sifat tergantung dia dalam keadaan apa,” jawabnya tanpa beban.


Kyra menghela napas panjang, menyesal dia bertanya sama Dinda. Pasti saja jawabnya nyeleneh.


“Ngomong saja lo nggak tahu,” Kyra sewot.


“Ky, lo beneran pingin tahu kriteria cewek Kak Ai?”


“Nggak jadi, sudah nggak mood,” katanya mulai sibuk dengan buku yang ada di depannya.


“Beneran nggak mau?”


“Nggak.”


“Ya sudah, padahal gue lagi tanyain sama Kak Ai loh.” Dinda senyum sembari mengedi- ngedipkan matanya kearah Kyra.


“Din, mata lo sakit?” tanya Ibob.


“Nggak, kenapa?”


“Lah mata lo kenapa kedip-kedip begitu?” tanya Ibob.


“Nggak apa-apa, Kak memangnya Kak Ai sudah punya cewek ya?” tanya Dinda. Kyra menyenderkan punggungnya di sandaran kursi agar mendengar jawaban Ibob. Dia kepo, sebenarnya Aiden itu sudah punya pacar atau belum.


“Belum.”


“Tapi kalau gebetan sudah punya ya?”


“Nggak tahu juga sih, soalnya masih abu-abu.”

__ADS_1


“Abu-abu bagaimana kak?” Dinda semakin penasaran.


“Ya kayaknya sih suka, tapi sukanya itu cinta atau sahabat gue nggak paham,” jawab Ibob jujur.


“Kalau kritaria cewek Kak Ai itu yang kayak gimana?”


“Yang cantik, pinter, nggak sombong dan rajin menabung,” jawab Ibob sembarangan. Rafa yang mendengar jawaban Ibob terkekeh.


“Tuh Ky, lo sudah dengar kan jawabannya.” Dinda menyenggol lengan Kyra.


“Loh kok gue sih?” Kyra malu banget. Penyesalanya bertambah, harusnya dia tidak mengatakan apa-apa sama Dinda. Lebih baik dia mencari tahu sendiri.


“Oh, jadi Ky yang cari tahu?” Rafa meminta Ibob bergeser duduk di sebelahnya.


“Nggak, ini akal-akalan Dinda saja,” Kyra mengelak, tensin banget kalau mereka mengira dirinya yang mencari tahu. Apalagi kalau sampai Aiden tahu mau di taruh di mana mukannya.


“Kalau benar juga nggak apa-apa kok, asal lo jangan songong. Kita berdua pasti restuin. Ya kan Raf?” tanya Ibob.


“Benar.”


“Kalian kenapa pada ngelantur sih.” Kyra memajukan tubuhnya menjauh dari Ibob, Rafa dan Dinda.


“Suka malu-malu dia mah, nggak ngaku,” bisik Dinda kepada Rafa dan Ibob.


*****


Bel istirahat berbunyi, Dinda mengajak Kyra buru-buru ke kantin sebelum mengantri banyak orang.


“Iya sedang sibuk basket dia. Kemarin kan habis tanding dan sekarang juga masih sibuk latihan.” jawabnya sembari membawa nampan berisikan pesanananya dan juga Kyra.


“Tumben lo nggak heboh ngajakin gue nonton.” Kyra mengambil mangkok berisikan bakso dari ampan ke depannya.


“Lo kan sejak kemarin sibuk, apalagi sekarang lo dijemput nyokap lo gimana gue ngajakin lonya,” kata Dinda.


“Benar juga, makin susah gue pergi sekarang. Semua gara-gara Kak Kris,” dengus Kyra.


“Ky, gimana kalau habis makan ini lo anterin gue ke lapangan basket. Gue mau beliin minuman Bimo, sudah lama juga gue nggak temani dia latihan,” ujarnya.


“Boleh.”


Hampir satu bulan ini Dinda jarang sekali bertemu dengan Bimo, dia yang sibuk lomba dan latihan basket menyita waktunya untuk bersama. Meskipun satu sekolah namun jarang sekali bisa bertemu.


Setelah makan Dinda membelikan dua air mineral dingin dan batagor kesukaan Bimo. Dinda melihat ke arah lapangan yang berisikan anak-anak yang sedang latihan basket. Namun dia tidak melihat ada Bimo di sana.


“Mana ya kok nggak ada?” Dinda celingukan.


“Sedang ke kantin mungkin.”


“Kita baru saja dari kanti Ky, kan nggak ada dia.”

__ADS_1


“Oiiya lupa,” Kyra terkekeh, “atau di kamar mandi. Tanya saja sama mereka.”


“Regan, Bimo di mana ya?” tanya Dinda.


“Masih di kelas, katanya sebentar lagi ke sini. Mau gue panggilin?” tanya Regan sahabat Bimo.


“Nggak usah, gue samperin saja ke sana. Makasih ya,” ucap Dinda.


“Sama-sama.”


Dinda dan Kyra pergi ke kelas Bimo yang melewati dua ruang kelas. Dinda masuk pelan sembari tengak-tengok nggak enak kalau tiba-tiba nyelonong di kelas orang.


Langkah kakinya terhenti melihat Bimo yang sedang berpegangan tangan dengan cewek sekelasnya.


“Bim, kapan lo putus sama Dinda si cupu itu?”


“Sabar Rani, gue juga sedang cari waktu yang tepat buat putusin Dinda. Nggak mungkin juga kan gue tiba-tiba putus sama dia tanpa alasan.”


“Lo selalu saja bilang begitu, gue nggak mau ya jdi selingkuhan lo terus.” Rani melipat kedua tangannya di dada.


“Sabar sayang, nggak lama lagi kok.” Bimo mengusap rambut Rani.


Dada Dinda bergemuruh, jadi selama ini dia tidak sibuk tapi sedang selingkuh.


“Putus saja, kan sekarang lo sudah punya alasan untuk putus sama gue!” seru Dinda yang mengagetkan Bimo dan Rani.


Mereka berdua langsung berdiri dengan jarak yang lumayan jauh.


“Dinda.” Bimo berjalan mendekati Dinda. Dinda menepis tangan Bimo yang menyentuhnya.


“Bagus ya, setelah sekian lama bersama ternyata ini kelakuan lo dibelakang gue.”


“Dindaa, ini nggak seperti yang lo lihat,” ujar Bimo.


“Lalu seperti apa?”


“Rani itu cuma --,”


“Cuma selingkuhan lo? Suda lah kalau lo bingung cara putus sama gue. Biarkan gue yang putusin saja. Mulai sekarang lo bukan pacar gue lagi, lo bebas pergi sama selingkuhan lo yang murahan itu!” bentak Dinda.


“Jaga mulut lo!” seru Rani sembari menunjuk Dinda. Dia tidak terima di katakan cewek murahan oleh Dinda.


“Kenapa?” Dinda menurunkan jari telunjuk Rani.


“Bimo, lo tega ya sama Dinda. Din tahu begitu kemarin lo terima saja waktu di tembak Luki. Dari pada mempertahankan cowok brengsek seperti ini,” ujar Kyra.


“Harusnya, gue sangat menyesal menolaknya.”


“Siapa Luki?” Bimo tidak terima mendengar Dinda ada yang menembaknya.

__ADS_1


“Apa urusan lo menanyakan siapa dia. Yang perlu lo ingat sekarang, kita tidak ada hubungan apa-apa.”


Dinda menarik tangan Kyra untuk meninggalkan kelas Bimo, dia sudah tidak sudi melihat Bimo.


__ADS_2