Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Menuju Lahiran


__ADS_3

Liburan selesai, Gilang


mengajak Gita dan yang lain pulang. Gilang baru tahu kalau sbenarnya tujuan


Gita dan kedua sahabatnya itu hanya untuk menemui Bayu.


Selama perjalanan


pulang, Gilang hanya diam dia tidak mau bicara dengan Gita. Suasana di mobil


pun menjadi sangat sunyi.  Sampai Gita


pun tidak berani bersandar melihat Gilang yang dingin.


Gilang menaruh kopernya


di kamar, dia menutup rapat pintu kamarnya setelah Gita masuk.


“Jadi ini tujuan kamu?”


Gilang marah sama Gita.


Gita terdiam, dia tidak


bisa menjawab karena memang tujuan dia di jogja itu ingin menemui Bayu bukan


liburan. Liburan hanya bonus.


“Kenapa diam?”


“Maafin aku, tapi bukan


maksud aku seperti ini.”


“Terus maksud kamu apa?”


Gilang menatap tajam Gita.


“Sayang, memangnya aku


salah mau membantu sahabatku?” Mata Gita yang berjaca-kaca mulai mencair.


“Tidak salah, tapi kamu


sudah ke bablasan. Ini bukan ranhnya orang-orang ikut campur. Itu hanya akan


memperkeruh keadaan. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri.”


“Terus menurut kamu aku


harus membiarkan sahabat aku di selingkuhi. Bahkan dia sama sekali tidak di


beri kabar. Dia itu  suaminya bisa-bisanya


dia mengabaikan istrinya yang lama tidak ada disampingnya.”


“Gita, kamu nggak tahu


kan solusi apa yang sedag di upayakan Bayu. Kamu jangan sok tahu.”


“Aku nggak peduli, yang


aku tahu Kak Bayu itu mengkhianati Anita dengan mau menikahi gadis itu. Nggak


seharusya kan Kak Bayu meninggalkan Anita karena dia tidak bisa keturunan.


Harusny dia tinggalkan, cerai saja kalau perlu.”


“Gita jaga mulut kamu,


memangnya punya hak apa kamu mengatakan cerai untuk hubungan orang lain.


Bagaimana kalau orang lain juga mengatakan itu sama kamu.”


“Jangan.”


“Makanya, kamu harus


hati-hati. Kamu nggak boleh bertemu Anita sama Fara selama urusan Bayu sama

__ADS_1


Anita berakhir.”


“Tapi..”


“Nggak ada tapi-tapian.


Tinggal di rumah titik.”


“Sayang.. aaaah..” Gita


memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.


“Kamu nggak usah


pura-pura, aku nggak bakalan kasih kamu pergi.” Kata Gilang. Dia menganggap


kalau Gita hanya pura-pura agar di ijinkan pergi.


“Aahh.. Sayang, sakit


banget perut aku.” Rintih Gita dia sudah tidak kuat berdiri dia berusaha duduk


dengan hati-hati.


“Kamu bercanda kan?”


tanya Gilang.


Gita mulai tidak


menjawab, dia memegangi perutnya. Gilang berlari mendekati Gita. Dia mulai


panik, saat melihat Gita tidak pura-pura.


“Sayang...sayang.. kamu


kenapa?” Gilang menggendong Gita.


“Sakit, Gita sepertinya


mau lahiran.” Kata Gita dengan menahan sakit yang luar biasa.


“Beni..Beni...” Panggil


Gilang.


langsung menuju ke arah Gilang.


“Siapakan mobil


sekarang, kita akan ke rumah sakit.” Kata Gilang.


“Mas..Mas... Mbak Gita


mau lahiran?”


“Iya Bik, Gilang ke


rumah sakit dulu.”


Kemarahan Gilang mereda


kini berubah menjadi kecemasan yang luar biasa.


“Sabar ya sayang, kita


segera sampai ke rumah sakit.”


“Ini sakit banget,


gimana kalau ada apa-apa sama bayi kita?” Gita menagis.


“Kamu ngomong apaan


sih, kamu dan bayi kita tidak akan kenapa-kenapa.” Kata Gilang sembari mengusap


rambut Gita supaya dia tenang.


“Beni, bisa lebih cepat

__ADS_1


tidak?”


“Iya Mas.”


Gilang mengisi


administrasi agar Gita segera di tangani oleh dokter, setelah selesai dia


langsung di bawa ke ruang.


“Masih sakit?” tanya


Gilang setelah Gita mendapatkan perawatan.


“Iya. Masih sakit.”


Katanya sambl menangis.


“Sini biar aku usap.”


Gilang mengusap perut Gita. Sebenarnya tidak ada pengaruh sedikitpun namun Gita


merasa sedikit lebih baik.


“Sayang..”


“Iya sayang.”


“Gimana kalau nanti aku


nggak selamat?” ujarnya pelan penuh dengan ketakutan.


“Kamu ngomong apasih,


kamu sama bayi kamu bakalan selamat.”


“Tapi.. orang mau


melahirkan itu kemungkinannya fifty-fifty. Aku takut.”


“Sayang, aku akan


menemani kamu. Jangan khawatir semua orang akan mendoakan kamu.”  Gilang mengelus rambut Gita lalu mencium


keningnya.


“Sayang, kalau


seandaynya nanti aku tidak selamat kamu harus jaga anak kita. Kamu boleh kok


menikah lagi, asal perempuan itu sayang sama anak kita.” Tiba-tiba Gita nangis


sesenggukan membayangkan hal-hal terburuk yang akan terjadi.


“Sayang, kamu jangan


ngomong seperti itu terus. Kamu pasti bisa percaya sama aku. Kalaupun hal buruk


itu terjadi aku tidak akan pernah menikah lagi. Cintaku hanya sama kamu.” Kata


Gilang.


“Sayang, kamu jangan


takut. Ibu akan selalu mendoakan kamu.” Kata Wanda yang baru saja datang.


“Iya sayang kamu jangan


khawatir.” Rima menyemangati Gita.


“Selamat malam Bu Gita,


apa sudah siap?” tanya dokter dengan senyuman.


“Iya dok,”


“Jangan takut, nanti kamu jadi tegang rilex saja oke.”


“Dokter mah gampang banget oke..oke.. akunya kan takut dokter.” Jawab Gita saat melihat dokternya santai.

__ADS_1


“Kamu harus percaya, bahwa aku adalah orang yang dikirim Tuhan untuk membantu kamu melahirkan putra yang sangat lucu.” Kata Dokter lagi.


"Aku percaya kamu itu kuat." Gilang menggenggam tangan Gita.


__ADS_2