
Liburan selesai, Gilang
mengajak Gita dan yang lain pulang. Gilang baru tahu kalau sbenarnya tujuan
Gita dan kedua sahabatnya itu hanya untuk menemui Bayu.
Selama perjalanan
pulang, Gilang hanya diam dia tidak mau bicara dengan Gita. Suasana di mobil
pun menjadi sangat sunyi. Sampai Gita
pun tidak berani bersandar melihat Gilang yang dingin.
Gilang menaruh kopernya
di kamar, dia menutup rapat pintu kamarnya setelah Gita masuk.
“Jadi ini tujuan kamu?”
Gilang marah sama Gita.
Gita terdiam, dia tidak
bisa menjawab karena memang tujuan dia di jogja itu ingin menemui Bayu bukan
liburan. Liburan hanya bonus.
“Kenapa diam?”
“Maafin aku, tapi bukan
maksud aku seperti ini.”
“Terus maksud kamu apa?”
Gilang menatap tajam Gita.
“Sayang, memangnya aku
salah mau membantu sahabatku?” Mata Gita yang berjaca-kaca mulai mencair.
“Tidak salah, tapi kamu
sudah ke bablasan. Ini bukan ranhnya orang-orang ikut campur. Itu hanya akan
memperkeruh keadaan. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri.”
“Terus menurut kamu aku
harus membiarkan sahabat aku di selingkuhi. Bahkan dia sama sekali tidak di
beri kabar. Dia itu suaminya bisa-bisanya
dia mengabaikan istrinya yang lama tidak ada disampingnya.”
“Gita, kamu nggak tahu
kan solusi apa yang sedag di upayakan Bayu. Kamu jangan sok tahu.”
“Aku nggak peduli, yang
aku tahu Kak Bayu itu mengkhianati Anita dengan mau menikahi gadis itu. Nggak
seharusya kan Kak Bayu meninggalkan Anita karena dia tidak bisa keturunan.
Harusny dia tinggalkan, cerai saja kalau perlu.”
“Gita jaga mulut kamu,
memangnya punya hak apa kamu mengatakan cerai untuk hubungan orang lain.
Bagaimana kalau orang lain juga mengatakan itu sama kamu.”
“Jangan.”
“Makanya, kamu harus
hati-hati. Kamu nggak boleh bertemu Anita sama Fara selama urusan Bayu sama
__ADS_1
Anita berakhir.”
“Tapi..”
“Nggak ada tapi-tapian.
Tinggal di rumah titik.”
“Sayang.. aaaah..” Gita
memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.
“Kamu nggak usah
pura-pura, aku nggak bakalan kasih kamu pergi.” Kata Gilang. Dia menganggap
kalau Gita hanya pura-pura agar di ijinkan pergi.
“Aahh.. Sayang, sakit
banget perut aku.” Rintih Gita dia sudah tidak kuat berdiri dia berusaha duduk
dengan hati-hati.
“Kamu bercanda kan?”
tanya Gilang.
Gita mulai tidak
menjawab, dia memegangi perutnya. Gilang berlari mendekati Gita. Dia mulai
panik, saat melihat Gita tidak pura-pura.
“Sayang...sayang.. kamu
kenapa?” Gilang menggendong Gita.
“Sakit, Gita sepertinya
mau lahiran.” Kata Gita dengan menahan sakit yang luar biasa.
“Beni..Beni...” Panggil
Gilang.
langsung menuju ke arah Gilang.
“Siapakan mobil
sekarang, kita akan ke rumah sakit.” Kata Gilang.
“Mas..Mas... Mbak Gita
mau lahiran?”
“Iya Bik, Gilang ke
rumah sakit dulu.”
Kemarahan Gilang mereda
kini berubah menjadi kecemasan yang luar biasa.
“Sabar ya sayang, kita
segera sampai ke rumah sakit.”
“Ini sakit banget,
gimana kalau ada apa-apa sama bayi kita?” Gita menagis.
“Kamu ngomong apaan
sih, kamu dan bayi kita tidak akan kenapa-kenapa.” Kata Gilang sembari mengusap
rambut Gita supaya dia tenang.
“Beni, bisa lebih cepat
__ADS_1
tidak?”
“Iya Mas.”
Gilang mengisi
administrasi agar Gita segera di tangani oleh dokter, setelah selesai dia
langsung di bawa ke ruang.
“Masih sakit?” tanya
Gilang setelah Gita mendapatkan perawatan.
“Iya. Masih sakit.”
Katanya sambl menangis.
“Sini biar aku usap.”
Gilang mengusap perut Gita. Sebenarnya tidak ada pengaruh sedikitpun namun Gita
merasa sedikit lebih baik.
“Sayang..”
“Iya sayang.”
“Gimana kalau nanti aku
nggak selamat?” ujarnya pelan penuh dengan ketakutan.
“Kamu ngomong apasih,
kamu sama bayi kamu bakalan selamat.”
“Tapi.. orang mau
melahirkan itu kemungkinannya fifty-fifty. Aku takut.”
“Sayang, aku akan
menemani kamu. Jangan khawatir semua orang akan mendoakan kamu.” Gilang mengelus rambut Gita lalu mencium
keningnya.
“Sayang, kalau
seandaynya nanti aku tidak selamat kamu harus jaga anak kita. Kamu boleh kok
menikah lagi, asal perempuan itu sayang sama anak kita.” Tiba-tiba Gita nangis
sesenggukan membayangkan hal-hal terburuk yang akan terjadi.
“Sayang, kamu jangan
ngomong seperti itu terus. Kamu pasti bisa percaya sama aku. Kalaupun hal buruk
itu terjadi aku tidak akan pernah menikah lagi. Cintaku hanya sama kamu.” Kata
Gilang.
“Sayang, kamu jangan
takut. Ibu akan selalu mendoakan kamu.” Kata Wanda yang baru saja datang.
“Iya sayang kamu jangan
khawatir.” Rima menyemangati Gita.
“Selamat malam Bu Gita,
apa sudah siap?” tanya dokter dengan senyuman.
“Iya dok,”
“Jangan takut, nanti kamu jadi tegang rilex saja oke.”
“Dokter mah gampang banget oke..oke.. akunya kan takut dokter.” Jawab Gita saat melihat dokternya santai.
__ADS_1
“Kamu harus percaya, bahwa aku adalah orang yang dikirim Tuhan untuk membantu kamu melahirkan putra yang sangat lucu.” Kata Dokter lagi.
"Aku percaya kamu itu kuat." Gilang menggenggam tangan Gita.