Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Undangan


__ADS_3

"Akhirnya dua bucin udah baikan lagi." kata Vian saat melihat Gita dan Gilang berjalan menuju kantor.


"Diem lo Vian." Seru Gita.


"Kemarin aja nangis-nangis, mewek, sedih, galau.."


"Gue lempar mulut lo pakai sendal Vian." Gita gereget. Dia malu di kecengin Vian.


"Udah, jangan marah-marah. Nanti sakit lagi perutnya."


"Benar juga, nanti kontraksi lagi perut aku."


"Lo tu ya, kalau iri bilang. Makanya cari pacar jomblo kok di pelihara." Fara menempeleng kepala Vian.


Vian meringis sambil mengelus kepala belakangya, "Wah..ini pasukan penjajah datang."


"Penjajah-penjajah, nih gue baik. Gue bawain bidadari hati lo." Fara menarik tangan Anita sampai dia di depan Vian.


"Far.." Anita mendelik.


"Sayang, serasi kan mereka berdua." tanya Gita.


"Em.. Lumayan. Tapi jangan berlebihan kalian bercandanya. Anita kan masih istri orang, kasian mereka berdua nanti jadi omongan." Ujar Gilang.


"Nah.. Dengerin tuh kata Pak Bos yang baik hati." Vian mencentikkan tangannya.


"Nggak asyik." Kata Gita.


"Nggak seru." sahut Fara.


"Jangan mulai mancing-mancing deh kalian berdua, yang di katakan Kak Gilang benar. Surat cerai gue kan belum turun."


"Tapi lo suka nggak sama Vian." Gita memberikan pertanyaan brutal kepada Anita membuat dia gelagapan tak bisa menjawabnya.


Dia bingung dengan perasaannya sendiri, dia sedang kacau. Dan dia takut kalau jawabanya menjadi serba salah nantinya.


"Ini juga nggak asik." Kata Fara.


"Ck..kalian berdua tuh ya." Gilang menjewer telingan Gita dan Fara.


"Eeh..." Gita dan Fara meringis bareng.


"Selamt pagi." Sapa seseorang yang memecah kehobohan pagi di depan kantor Gilang.


"Pagi." Jawab mereka serantak. Mereka saling berpandangan satu sama lain karena tidak ada yang mengenalnya.


"Siapa ya?" tanya Gita.


"Kalian benarkan teman-temannya Bayu?" katanya dengan sangat lembut.


"Iya. Ada yang bisa di bantu?" tanya Vian.

__ADS_1


"Perkenalkan nama gue Vivi, calon istri Bayu."


Seketika emosi Gita dan Fara meledak, mereka ingin sekali mencakar-cakar namun di tahan sama Gilang.


Anita tersentak, hatinya rasanya hancur. Ingin rasanya menangis sekuat tenaga. Vian menggenggam tangan Anita, dia menatap Anita dengan mengisyaratkan bahwa dia bisa melewatinya.


"Lalu apa tujuan lo kesini?" Gilang berjalan sedikit maju untuk membentengi istri dan teman-temannya menyerang Vivi.


"Gue kesini mau memberikan undangan sama kalian." Vivi memberikan undangan kepada Gilang dan meminta membagikan kepada yang lain.


"Dimana Bayu?"


"Dia tidak bisa ikut karena sedang sibuk di kantor, dan juga sibuk mengurusi pernikahan kami. Oiya.. Anita."


"Ya." Anita mencoba menjawab dengan sangat biasa meskipun hatinya dongkol, tenggorokannya penuh.


"Gue mohon lo jangan ganggu Bayu lagi, dia sudah menjadi suami gue sekarang." Ujarnya tanpa mikir kalau Anita masih sah menjadi istri Bayu yang sah.


"Eh lo perempuan gila, lo sadar nggak sih sama omongan lo barusan." Gita sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Maksud lo?"


"Kenapa lo jadi tuduh Anita yang mengganggu hubungan kalian, hey... Anita itu istri sahnya Bayu. Lo yang pelakor!" Gita greget banget ingin menjambak rambut Vivi. Namun dengan cepat Gilang menahan istrinya.


"Istri yang sudah meninggalkan rumah berbulan-bulan tanpa kabar, dan tak bisa di harapakan masa depannya itu. Bayu sudah tidak mau." Jawabnya dengan lembut tapi bikin jengkel yang mendengarnya.


"Mulut lo!" Fara berjalan maju mendekati Vivi.


Anita dengan wajah sok kuatnya berdiri di hadapan Vivi.


"Tenang saja Vivi, lo jangan cemas aku akan mengganggu mantan suami gue yang tidak berguna itu. Gue sudah punya yang baru." Anita mengangkat genggaman tangannya bersama Vian.


"Bilang sama Kak Bayu, mama mertua lo kalau gue sudah tidak peduli. Gue sudah mendapatkan seseorang yang lebih baik. Gue akan datang di pernikahan lo, akan gue saksikan pernikahan penghianat dan pelakor. Pasti sangat cocok kalian bersanding."


"Benar juga lo Nit, pelakor itu serasi sama Penghianat." Fara setuju.


"Pelakor kan sukanya ngambilin sampah bekas." Gita terkekeh.


"Vivi, katakan pesan dari Vian sama Bayu. Apa yang dia sia-siakan jangan pernah dia sesali."


"Ok, terima kasih bisa bertemu kalian. Dan sudah menyambut gue dengan baik." Katanya dengan senyuman lalu pergi.


"Dasar muka tebal, ada gitu manusia macam dia." Gita geleng kepala.


Anita terduduk di lantai, kakinya lemas.


"Anita, lo kenapa?" Vian jongkok dia panik melihat Anita yang lemas.


"Hari ini tiba juga." ujar Anita lemah, air matanya menetes dengan lancar.


Vian memeluk erat Anita, "Menangislah sampai lo puas saat ini. Tapi besok tidak boleh sedikit pun air mata jatuh untuknya." Kata Vian.

__ADS_1


Gita dan Fara pun tak tega melihat Anita tersakiti seperti itu. Gita menoleh kearah Gilang dan memeluknya. Sedangkan Fara bingung dia mau memeluk siapa. Tidak ada Raka di situ.


"Gue meluk siapa?" katanya sambil ikut mewek juga.


"Sonoh meluk pohon atau tiang." Jawab Gita.


...----------------...


Pulang kerja Gita dan Fara menawari Anita untuk jalan-jalan untuk menghilangkan kesedihannya.


"Lo mau ke mana biar kita temani?" tanya Gita.


"Iya, lo mau main, makan atau apa nanti kita temani."


"Gue nggak mau kemana-mana, gue baik-baik saja." Anita tersenyum.


"Lo nggak boleh sendirian, gimana kalau kita karaoke sampai pagi." Fara mengusulkan untuk karaoke biar Anita mencurahkan semua kekesalanya.


"Iya, kita temani."


"Eheem..." Gilang berdehem di belakang mereka bertiga.


Gita menoleh, "Karaokean doang sayang, nggak aneh-aneh kok." Kata Gita.


"Gue nggak apa-apa kok, beneran deh." Anita meyakinkan Gita dan Fara kalau dia baik-baik saja.


"Kita kumpul saja dirumah, Fara ajak Raka ke rumah. Sayang, jangan lupa hubungi Vian juga." Gilang memberikan ide yang lebih baik.


Dia tidak mau istrinya pergi ke tempat karaoke, lebih baik mereka menghibur Anita di rumahnya. Lebih terpantau dan aman.


"Boleh juga, kita berbaquean aja. Sudah lama kan kita nggak ngumpul bareng." Gita setuju dengan ide Gilang.


"Boleh juga, itung-itung reunian kan." Fara pun setuju.


"Gue ikut saja." kata Anita. Anita amendadak menangis, dia memeluk Gita dan Fara.


"Lo kenapa Nit?" Gita bingung.


"Makasih ya, lo udah mau temani gue. Kalian benar-benar sahabat gue yang paling the best." Anita tak berhenti bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa.


"Lo jangan sedih-sedih lagi ya, kalau ada apa-apa lo harus ngomong sama kita."


"Pasti." Anita melepaskan pelukannya. Dia mengusap air matanya.


"Lo mau pulang dulu atau langsung ke rumah gue?" tanya Gita.


"Langsung ke rumah lo saja."


"Ok, kalau gitu kita belanja sekalian." Gita memandang Gilang.


"Ok." Jawab Gilang simpel.

__ADS_1


__ADS_2