
Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Gilang meminta menyudahi meeting hari itu.
“Baiklah teman-teman, kita sudahi meeting malam ini. Kita akan sambung lagi besok.” Kata Gilang.
“Baik Pak.” Jawab serentak.
Gilang bergegas pergi ke parkiran untuk segera pulang, Indah sengaja tidak membawa mobil sendiri mendekati Gilang.
“Pak Gilang..” Panggilnya pelan.
“Iya Bu Indah, ada apa?” Gilang menghentikan tangannya yang ingin membuka pintu.
“Begini Pak, saya kan tidak membawa mobil dan disini cari taksi sudah sudah apa bisa saya nebeng sampai depan?” Tanya Indah.
“Baiklah.” Gilang pun mengijinkan Indah nebeng sampai di depan.
“Yes.” Batinya sambil masuk ke mobil.
Ini adalah kesempatan bagi Indah untuk merayu Gilang, dia masih penasaran dengan Gilang. Kenapa dia bisa tidak tertarik dengan perempuan cantik model kayak dia.
Indah pura-pura minum dan tiba-tiba menumpahkan di dalam bajunya.
“Ah.. ya ampun.” Serunya.
“Kenapa Bu Indah?” tanya Gilang sembari menoleh sebentar lalu fokus lagi ke depan.
“Baju saja ketumpahan air minum, ini basah sekali.” Kata Indah sambil membuka outernya hingga dia memakai kemben yang melihatkan bagian dadanya.
Gilang merasa Indah mulai aneh-aneh, dia tahu kalau Indah pasti ada maksud tertentu pada dirinya.
“Bu Indah, memangnya tidak dingin memakai baju seperti itu?” Tanya Gilang.
Indah tersenyum senang, apa yang dia lakukan mendapat respon dari Gilang.
“Tentu saja dingin, tapi mau gimana lagi outer saya kan basah.” Indah berharap Gilang akan meminjami jasnya untuk dirinya.
“Bu Indah mau nebeng sampai mana?” tanya Gilang.
Indah kaget kenapa Gilang bukannya mmbahas dirinya yang kedinginan melainkan ke tujuan awal yaitu nebeng. Bahkan Gilang sudah
menghentikan mobilnya di halte bis paling pertama di temui Gilang.
“Pak, bisakah saya minta tolong lagi. Saya kan sekarang berpakaian begini. Kalau naik taksi takut mereka kan melecehkan saya.” Katanya
sambil memegang tangan Gilang.
Gilang menarik tanganya, dia memandang Indah sambil menghela napas panjang. Indah memasang wajah melas, namun dia juga berusaha menggoda dengan perlahan menaikan roknya yang sudah sepaha.
“Kalau kamu takut sama sopir taksi apa kamu tidak takut sama saya?” tanya Gilang yang membuat matanya terbelalak.
“Maksud Pak Gilang apa?”
“Saya disini juga laki-laki bukan.”
“Saya percaya kok kalau sama Pak Gilang, pasti bapak tidak akan melakukan itu sama saya.” Indah justru memajukan tubuhnya sama dengan
__ADS_1
Gilang. Dia pikir dengan Gilang mengatakan seperti itu dia tertarik dengan dirinya.
“Bagus Indah, sebentar lagi lo bakalan dapatin Gilang. Orang ini benar-benar membuat gue gila.” Batinnya.
Gilang mendorong Indah pelan, dia langsung turun dari mobil. Dan membukakan pintu mobil Indah.
“Pak, ngapai kita turun disini?” tanya Indah sambil menoleh kanan kiri dengan keadaan yang sangat sepi.
Gilang mengambil tas dan outer milik Indah, dia kemudia memakaikan ke tubuh Indah.
“Taksi.” Panggil Gilang saat ada taksi yang lewat.
“Bapak nggak mau nganterin saya?” Indah kecewa. Dia kesal banget karena Gilang sama sekali tidak mau meliriknya sedikitpun. Biasanya
cowok akan langsung nyosor kalau melihat wanita sexy.
“Jangan menjadi murahan hanya untuk mendapatkan perhatian orang, asal kamu tahu saya sama sekali tidak akan tergoda dengan kamu meskipun kamu telanjang sekalipun. Jaga lah barang berharga yang kamu punya. Atau kamu akan menyesali seumur hidupmu.” Gilang langsung masuk kembali ke mobilnya meninggalkan Indah yang belum juga masuk taksi.
Dia sudah tidak peduli lagi dengan wanita penggoda yang akan menghancurkan rumah tangganya.
Gilang sampai rumah tengah malam, dia mencari Bani masih terjaga atau sudah tertidur.
“Bani.” Panggil Gilang.
“Ya Mas?” Bani yang masih begadang bermain game langsung menaruh ponselnya dan mendekati Gilang.
“Tolong bersihkan dan cuci mobil saya sampai bersih.” Kata Gilang sambil memberikan kunci mobilnya.
“Sekarang mas?” tanya Bani dengan wajah bingung.
Gilang langsung pergi mandi, dia memakai membersihkan seluruh badanya sampai merasa sangat bersih dan tidak ada lagi bekas sentuhan Indah.
Selesai mandi dia mengetuk pintu kamar Bik Siti. Malam ini dia akan merepotkan orang-orang yang ada di rumahnya.
“Iya Mas, ada yang bisa bibik bantu?” tanya Bik Siti sambil menguap.
“Maaf Bik, menggangguk tidurnya Bik Siti.” Katanya.
“Nggak Mas, Bik siti juga belum tidur kok. Mas Gilang mau bibik buatin teh atau makanan?” tanya Bik Siti.
“Nggak Bik, tolong ini buang yang jauh atau bakar terserah bibik.” Kata Gilang.
“Loh kenapa Mas?” Bik Siti menerima dengan wajah terheran-heran.
“Ini sudah tidak layak pakai, ada orang yang menyentuhnya dan Gilang tidak suka Bik.” Katanya.
“Baik Mas, bibik laksanakan tugas dari Mas Gilang.” Bik Siti tahu maksud yang ucapan majikannya itu sehingga dia tak banyak bertanya lagi.
Gilang perlahan membuka pintu kamarnya, dia langsung masuk ke dalam selimut memeluk erat Gita dari belakang.
“Sayang, kamu sudah pulang?” Gita yang merasa kehadiran Gilang langsung memutarkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Gilang.
“Iya, baru saja pulang.” Ucapnya sambil memeluk Gita dan mencium keningnya.
“Kamu sepertinya capek dan juga kesal?” tanya Gilang.
__ADS_1
“Iya. Sayang..aku ingin cerita sama kamu. tapi aku takut kamu marah sama aku.” Kata Gilang pelan dengan mata sayu yang mengantuk namun dia paksakan untuk tidak tidur.
“Memangnya kamu melakukan kesalahan apa yang buat aku harus marah?” Gita langsung duduk. Dia penasaran dengan Gilang, dan dia juga mau mendengarkan lebih fokus dengan duduk.
“Janji kamu tidak marah dan berpikir aneh-aneh denga aku?” Gilang mengangkat jari kelingkingnya.
“Iya janji.” Gita langsung meraihnya.
Gilang ikut duduk juga, dia menatap Gita dengan lekat. Sebenrnya dia was-was kalau Gita justru kan salah paham dengan apa yang akan dia katakan nanti.
“Aku percaya sama kamu.” Kata Gita ketika melihat kecemasan dalam wajah Gilang.
“Tadi, setelah meeting Indah kamu tahu kan asiseten Pak Gio yang tadi pagi datang ke kantor.”
“Iya, tahu cewek cantik dan sexy itu kan.” Kata Gita sedikit sewot.
“Tadi dia nggak bawa mobil sendiri dia nebeng sampai halte depan untuk mencari taksi. Terus aku ijinin dia nebeng...” Gilang menghentikan
ceritanya. Rasanya sudah tidak sanggup untuk meneruskan ceritanya.
“Terus?” sedangkan Gita semakin penasaran dengan cerita Gita.
“Dia sengaja menumpahkan minum ke tubuhnya supaya basah, dia mencopot outerya. Dia pikir dengan dia menunjukan keseksiannya aku bakalan tertarik padahal aku jijik melihatnya.” Kata Gilang.
“Lalu..” dada Gita benar-benar terbakar namun dia sudah janji tidak akan marah sama Gilang.
“Lalu aku turunkan dia di halte, dan aku terus pergi pulang. Aku minta Bani mencuci mobil sampai bersih. Dan aku juga meminta Bik siti buang pakaianku hari ini.” jelas Gilang.
Gita terdiam, mencerna kalimat-kalimat terakhir Gilang.
“Sayang, sumpah aku tidak tergoda sama sekali.” Gilang panik dia menggenggam tangan Gita dua-duanya.
“Aku percaya sama kamu sayang, yang aku tidak habis pikir kenapa kamu meminta Bani mencuci mobil malam-malam? Dan baju kamu mengapa di buang?”
“Aku nggak mau ada bekas dia di benda apapun, jadi harus langsung di bersihkan. Harusnya aku menolak membantu dia.” Kayanya lirih.
Gita tersenyum, dia sangat percaya dengan Gilang kalau dia tidak akan tergoda.
“Kamu boleh marah sama aku, kalau kamu memang tidak percaya sama aku.” Kata Gilang ketika Gita tiba-tiba diam tidak meresponnya.
“Harusnya dia yang di marahin bukan kamu, wanita ganjen dan nggak tahu diri.” Gita memegang wajah Gilang yang masih cemas terlihat takut akan kemarahan dari dirinya.
“Sini peluk.” Kata Gita untuk menenangkan Gilang.
“Boleh ya minta vitamin, biar hilang rasa khawatir aku.” Bisik Gilang di telinga Gita. Dia ingin meminta lebih dari sekedar pelukan
malam ini.
“Hhmm, modusnya panjang lebar ya. Bilang saja kamu mau malam ini.” Kata Gita sambil merebahkan tubuhnya.
“Ya setidaknya aku sudah menjelaskan lebih dahulu, sebelum kamu salahpaham karena ada pihak yang ingin memanfaatkannya.” Kata Gilang
dengan memberikan kecupan ringan.
“Benar juga.”
__ADS_1