
Vian duduk menatap Anita, dia memandang dengan seksama sahabat yang sekarang sedang menjadi incaran hatinya.
Anita yang sadar di pandangi Vian langsung salah tingkah, wajahnya memerah.
"Heh! Lo ngapain lihatin gue seperti itu." Kata Anita setelah mengatur diri agar tidak gugup.
"Nggak boleh emangnya?" tanya Vian dengan tatapan yang masih sama.
"Nggak boleh, Vian gue ngeri loh." Anita memutar kursi Vian hingga dia menghadap ke komputernya.
"Nit..." Panggil Vian sambil memutar kursinya lagi sehingga menghadap ke arah Anita lagi.
"Apa?"
"Lo merasa ada sesuatu nggak?" tanya Vian dengan pandangan yang lebih lekat.
"Maksud lo?" Anita tidak mengerti.
"Ya lo merasakan sesuatu yang aneh, atau sesuatu apa gitu sama lo?"
"Nggak sih, gue aman dan gue rasa nggak ada yang aneh sama sekali. Lo merasa ada yang aneh ya? Atau jangan-jangan kantor ini berhantu." kata Anita. Pikirannya jauh dari maksud Vian.
"Hantu?"
"Iya, lo bilang merasa sesuatu."
"Ya Tuhan, maksud gue bukan keadaan disini." Vian menepuk jidatnya. "Kenapa jadi nggak peka begini, " batin Vian.
"Terus?" Anita bingung.
"Hati lo.. Hati lo ada yang aneh nggak? Merasakan sesuatu nggak?"
"Hati..? Em.. Gue sedang bisa saja. Ada apa?"
"Kalau ada seseorang yang ingin masuk di hati lo bagaimana?" tanya Vian.
"Em?" Anita kaget, dia belum memikirkan dengan serius kalau akan ada orang yang masuk lagi dalam hatinya. Karena yang ada dibpikirannya ketika selesai cerai apa akan ada orang yang mau menerimanya.
"Lo bakalan terima atau tolak?"
"Gue belum tahu Vian, lagian siapa orang yang mau sama gue. Lo tahu lah status gue apa." Kata Anita tersenyum kecut.
"Gue..gue mau masuk ke hati lo, boleh?" tanya Vian.
"Bercanda lo Vian, lo ngelindur ya pagi-pagi bercanda begituan." Anita menggelengkan kepala.
Vian beranjak dari kursinya, lalu memegang kedua tangan Anita.
"Gue nggak bercanda Anita, gue mau masuk ke kehidupan lo. Gue mau kita hidup bersama." kata Vian memegang erat tangan Anita.
__ADS_1
"Vian.. Lo bisa pasti mabuk ya." Anita masih merasa kalau Vian itu sedang main-main.
"Mana ada mabuk seger bagini, gue beneran cinta sama lo. Kalau lo memang butuh bukti dalam lima hari ini gue bakalan datang melamar lo." kata Vian meyakinkan Anita.
"Vian, dengerin gue." Anita menarik tangannya. "Lo bisa cari yang lebih baik dari gue. Gue tidak punya masa depan apa-apa. Nanti lo hanya akan menderita kalau menikah sama gue." kata Anita.
"Lo jangan terlalu berpikir negatif. Kalau gue beneran suka sama lo gimana? Kalau gue benar-benar mau hidup sama lo gimana?"
"Vian lo pikir mateng-mateng dulu apa yang lo omongin." Anita masih ragu dengan ucapan Vian. Dia merasa kalau Vian hanya kasian dengan dirinya.
"Baiklah, lo butuh berapa waktu untuk menjawab pertanyaan gue ini?" tanya Vian.
"Ha?"
"Lo kan minta gue berpikir, brati setelah gue pikir lo kan harus kasih gue jawaban. Sehari?"
"Seminggu." Jawabnya cepat tanpa berpikir.
"Ok. Seminggu kedepan kita akan ngobrol lagi." kata Vian.
...----------------...
Vian minta cuti beberapa hari sama Gilang, dia mau pulang ke rumah orang tuanya.
"Ma.. Kak Vian pulang." teriak cewek yang tadi sedang duduk santai di teras rumahnya. Dia langsung lari dan memeluk Vian.
Vian tersenyum mendapat sambutan yang meriah dari Miska sang adik.
"Namanya juga orang kerja kan nggak bisa seenaknya." Jawab Vian dengan membalas pelukan Miska.
"Ingat rumah juga kamu Vian." Kata mamanya di ambang pintu. Vian melepaskan pelukan Miska lalu berpindah ke mamanya.
"Vian lagi sibuk ma."
"Sibuk apa? Kerja? Kapan kamu sibuk cari istri." kata mamanya, dia sudah menginginkan seorang menantu dan tentu saja cucu.
"Nah, Vian pulang juga mau menbahas itu Ma."
"Kamu sudah punya calon penggantinya Bella?" tanya Mamanya.
"Cantik nggak Kak?" Miska ikut antusias.
"Cantik, baik.. Cuma.." Vian menggantungkan ucapanya.
"Kenapa Vian?" mamanya cemas.
"Vian sebenarnya takut, mama dan yang lain tidak suka." kata Vian.
"Kok kamu ngomong seperti itu, memangnya dia kenapa sampai mama tidak suka?" tanya mamanya.
__ADS_1
"Ma, Vian suka sama seorang cewek tapi dia bukan gadis lagi. Dia seorang janda, apa mama berkenan Vian menikah dengan janda?" Vian was-was mendengar jawabab dari mamanya.
Mamanya dan Miska langsung terdiam dan menatap Vian dengan tajam. Mereka kaget mendengar status cewek yang sedang di sukai Vian.
"Mama sama Miska diam pasti tidak setuju kan?" kata Vian pelan sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Kenapa kamu mengambil kesimpulan seperti itu, mama kan juga belum memberikan jawaban." kata Mamanya.
"Ya ekspresi mama di tambah diamnya mama sudah menjawab semua pertanyaan Vian. Memang susah kan status janda di terima dalam keluarga baru." kata Vian.
"Mama mau tanya dulu, kenapa kamu mau sama dia, apa yang membuat kamu mau sama dia?'
"Dia itu baik banget, pinter dan penyayang. Dia juga sangat sabar, kalau sama Vian pasti bisa mengimbangi Vian yang sembrono dan kadang emosian ini." Jawabnya.
"Apa dia lebih tua dari kakak?" tanya Miska.
"Tidak, dia seumuran dengan Kak Vian. Kamu juga tahu."
"Miska tahu?" Miska kaget, dia langsung mengira-ira orang-orang yang seumuran dengan Vian.
"Sangat tahu, tapi tidak tahu sekarang kamu masih ingat atau tidak." jelas Vian.
"Mama apa juga tahu Vian?"
"Iya Ma,"
"Siapa dia?"
"Anita Ma."
"Anita?" kata Mama Vian dan Anita bersamaan.
"Anita teman SMA kamu?"
"Iya Ma, dia cerai dengan suaminya karena suaminya menikah lagi dengan perempuan lain." jelas Vian.
"Kasian sekali gadis itu, kamu ajak kesini biar mama ngobrol sama dia." kata mamanya.
"Tapi ada satu masalah lagi ma."
"Apa?"
"Anita di vonis dokter tidak bisa hamil. Apa mama masih mau menerimanya?" kata Vian.
Mamanya terdiam, dia bisa menolerani kalau statusnya janda tapi kalau tidak bisa melahirkan anak itu membuatnya berat. Karena dia juga butuh cucu.
"Soal itu, jika dia tidak bisa hamil bagaimana mama bisa menggendong cucu." kata mamanya.
"Ma, dokter-dokter itu sekarang canggih. Pasti ada cara untuk Anita hamil. Yang penting kita mau berusaha, Tuhan pasti mengabulkan doa orang yang sungguh-sungguh berusaha." jelas Vian.
__ADS_1