Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Kita Baikan II


__ADS_3

Wajah kedua pasangan itu sudah tampak sumringah, pertengkaran mereka sudah selesai. Mereka siap kembali lagi ke rumah. Arkan mendekati Gita, ia meminta Gita sedikit menjauh dengan yang lain.


“Ada apa?” tanya Gita dengan senyuman yang membuat jantung Arkan semakin bergetar.


“Gita, sebenarnya ada yang mau gue sampaikan sama lo.”


“Ngomong saja kali Ar, kayak sama siapa saja.” Gita menepuk pundak Arka. Dia belum merasakan sesuatu yang berbeda dari perhatian Arka terhadapnya.


“Gue suka sama lo,” ucap Arka, kedua mata Gita langsung terbelalak.


“M-maksud lo Ar? gue nggak tahu maksud lo.” Gita meminta penjelasan kepada Arka.


Arka meraih tangan Gita, “Gue suka sama lo, gue jatuh cinta sejak kita kecil.”


Gita shock, dia benar-benar tidak menyangka Arka akan mengungkapkan perasaan kepadanya. Semua ini sangat di luar pikirannya.


“Ar, lo kalau bercanda jangan keterlaluan deh.” Gita melepaskan pegangan tangan Arka, dia tersenyum bingung. Bagaimana bisa sepupunya mengatakan menyukainya.  Mereka sudah hidup bersama-sama sejak kecil.


“Gue nggak bercanda Gita, gue benar-benar suka sama lo. Sebenarnya gue hancur banget saat lo menikah, gue nggak datang bukan karena gue sibuk. Tapi gue nggak bisa melihat lo bersanding sama orang lain.” jelas Arka, kenapa dulu dia tidak mau mendatangi pernikahan Gita.


“Ar, kita saudara, lo harus ingat itu.”


“Gita, sejatinya kita bukan murni saudara, aku hanya anak angkat mama. Lo tahu kan, andai saja gue nggak pergi ke luar negeri pasti gue tidak akan membiarkan lo menikah dengan Gilang.”


“Ar, meskipun gue nggak menikah dengan Kak Gilang. Gue juga tidak akan pernah mau menikah dengan lo. Lo itu saudara gue sama seperti Raka. Jadi gue mohon buang jauh-jauh pikiran lo itu. Atau gue tidak akan pernah mau bertemu dengan lo lagi.”


Gita meninggalkan Arka, dia memang sayang kepada Arka namun sebatas saudara layaknya Raka meskipun dia tahu kalau Arka hanyalah anak angkat. Tapi dia benar-benar sudah menganggap dia saudaranya, bahkan sudah lupa kalau dia itu anak angkat.


Gilang berjalan mendekati Arka, setelah memperhatikan percakapan Gita dan Arka.


“Arka, gue sarankan lo jangan melebihi batas. Atau lo akan menerima akibatnya.” Kata Gilang sambil menepuk pundak Arka. “Gue tidak akan membiarkan sedikitpun lo menyentuh keluarga gue, atau lo akan lenyap dari dunia ini.” Wajah Gilang berubah sangat serius, pandangan matanya tajam.


Arka menunduk, dia tak mampu menatap Gilang, dia tidak akan menang melawan kemarahan Gilang. Gilang menepuk pundak Arka sedikit lebih keras sebagai peringatan.


“Gue tidak akan pernah mengganggu keluarga lo, tapi kalau gue tahu lo membuat Gita menangis lagi. Jangan slahkan gue mengambil Gita dari tangan lo.” Ucap Arka saat Gilang sedikit menjauh darinya.


“Itu tidak akan pernah terjadi.” Ucap Gilang tanpa menatap Arka.


Gilang lega setelah dia pergi dari rumah Arka, dia jauh lebih tenang saat Gita dan putranya itu ada di sampingnya. Tangan kanannya mengusap rambut Gita, dia melihat wajah istrinya yang sedang bersandar di pundaknya.Wajahnya terlihat semakin cantik saja baginya, dia tersenyum kecil lalu mencolek hidungnya pelan.


“Pantesan banyak yang mengincar, semakin cantik saja.” gumamnya lirih.

__ADS_1


“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Kata Gita yang perlahan membuka mata.


“Karena kamu cantik.”


“Dih.. Gombal banget.” Gita tersipu malu.


“Beneran loh, kalau kamu nggak cantik bagaimana Arka sampai terpesona sama kamu.” Gilang menyindir Gita.


“Apaan sih kamu, lagian ya Arka itu saudara aku bagaimana dia bisa terpesona sama aku. Tidak masuk akal.” Cerocos Gita menjelaskan kepada Gilang agar tidak salah sangka.


“Namanya juga cinta pastinya nggak masuk akal, apa saja pasti akan dia lakukan untuk mendepatkannya.”


Gita yang awalnya khawatir kalau Gilang bakalan salah paham kini berubah jadi senang, ia tersenyum lebar sambil memandang wajah suaminya yang lucu saat cemburu.


“Cemburu ya.”


“Nggak.”


“Udah ngaku saja, pasti cemburu kan.” Gita menggoda Gilang.


“Nggak, nggak level cemburu sama dia, aku jauh lebih ganteng dari dia.” omelnya.


Gita  tersenyum ia menegakkan duduknya lalu mengecup bibir Gilang yang manyun, “Nggak usah merayu.” kata Gilang.


“Aku nggak cemb..” Gita kembali mencium bibir Gilang sebelum mengomel lagi.Gilang pun langsung terdiam, ciuman Gita bisa meredakan semuannya.


“Aku mau tidur dulu ya.” Kata Gita sambil menyendarkan kepalanya di bahu Gilang.


“Tenang saja kak, jangan pernah meragukan kesetiaan Gita. Cinta Gita sudah habis di borong kamu nggak ada lagi yang tersisa.’ Ucapnya sambil memjamkan matanya.


Gilang tersenyum lebar, dia mengusap lembut Gita, ia sangat sayang sama Gita meskipun istrinya suka bertingkah konyol, ajaib, tapi tak pernah sedikitpun mengurangi rasa cintanya.


Apa  perlu kita berhenti ke hotel dulu?” bisik Gilang di telinga Gita.


Kedua mata Gita langsung terbuka lebar, “Ngapain kita ke hotel?” Gita mengernyitkan keningnya.


“Aku mau ini.” Gilang menyentuh bibir Gita sambil tersenyum.


“Ck, jangan aneh-aneh deh.” Gita memejamkan matanya kembali.


“Nggak aneh-aneh kok, memang salah aku kan suami sah kamu.”

__ADS_1


Gita mengangkat kepalanya, “Nggak ada yang salah, tapi kan semalam kami sudah masa masih kurang.”


“Iya, buat vitamin pagi ini kan belum, mau lebih banyak juga ada supir di depan takutnya dia jadi kepingin. Ya.. Sayang mampir dulu bentar ya di hotel setengah hari saja.”


“Kak Gilang, jangan aneh-aneh kita bisa ketinggalan pesawat. Nanti saja di rumah.”


“Hah.. Aku benar-benar mau sekarang.” keluhnya.


“Tidur.” Gita menyandarkan kepala Gilang di pundaknya lalu menutup kedua mata Gilang dengan tangan kananya.


Giita menatap keluar jendela, ia terpikirkan omongan Arkan. Sedih dan kecewa bercampur aduk dalam dirinya karena ungkapan hati Arkan yang menyebabkan dirinya harus benar-benar menjaga jarak atau akan membuat hubungan dengan Gilang hancur. Dia memang menyayangi Arkan namun rasa sayangnya tak lebih dari saudara layaknya seperti dia menyayangi Raka.


Gita mengambil ponsel yang ada di tasnya, ia melihat pesan masuk dari Arkan.


Gita, gue tahu ini salah tapi perasaan gue sama lo tidak pernah salah. Gue akan selalu ada, dan jika Gilang sampai membuat lo menangis gue akan datang membawa lo pergi


Gita kembali memasukkan ponselnya, “Kenapa jadi begini, sampai kapanpun tidak akan menangis Arkan, bahkan jika suatu saat cinta Kak Gilang berkurang bahkan hilang, gue akan tetap bertahan dan menyimpan tangis ini. Aku hanya mencintai Kak Gilang, aku rela menahan luka ini demi bisa bersamanya karna hanya Kak Gilang yang mau menerima gue dari dulu.”  kedua matanya berkaca-kaca.


Gilang tersenyum, dia benar-benar beruntung mendapatkan Gita. Pendiriannya sama sekali tidak tergoyahkan, ia tidak pernah salah memilih Gita dan memutuskan untuk hidup bersamannya.


“Sayang..”


“Iya, kamu tidak tidur?” Gita mengusap air matanya yang hampir saja menetes.


“I love you.”


“I love you too.”


“Pak, kita berhenti di hotel terdekat ya.”


“Kak, jangan macam-macam deh, Pak lanjut saja ke bandara.”


“Maaf, ini yang benar mau ke hotel atau bandara?”


“Hotel, bandara..” Jawabnya bersamaan.


“Pak dengarkan saya saja, kita ke bandara.”


“Sayang, aku kan cuma mau berduan sama kamu.”


“Jangan aneh-aneh, kerjaan banyak menunggu kita. Lagian kita juga sudah di tungguin Raka sama Fara di bandara. Kasian kan kalau mereka menunggu lama.”

__ADS_1


“Ah.. Kamu mah nggak asyik.” Gilang manyun, Gilang kembali melanjutkan tidurnya. Gita hanya geleng-geleng melihat tingkah Gilang, tidak biasanya dia melakukan itu, seperti jiwanya sedang tertukar dengan dirinya. Biasanya yang suka mencari masalah dirinya sekarang justru Gilang.


__ADS_2