
"Far..Far.. Tunggu." Panggil Vian.
"Ada apa?" Kata Fara dengan muka kesal.
"Gue tahu lo kesal sama Anita, tapi gue minta lo jangan benci sama dia." Kata Vian. Meskipun dia kesal sama Anita tapi dia juga tidak sepenuhnya menjauh.
"Gue tidak benci sama dia, gue cuma nggak suka sama sikapnya. Ya kalau dia masih mau tersakiti ya udah balikan aja." Katanya sewot.
"Far, harusnya lo juga pahami. Namanya perasaan kan nggak mungkin bisa hilang begitu saja." Vian menyadari kalau yang namanya perasaan tidak bisa di paksakan.
"Serah.. lo nggak usah ngomong apapun kalau lo cuma mau belain Anita." Katanya sambil pergi.
"Hah.. Susah benar bujuk cewek ngambek." Vian menggelengkan kepala.
Vian mengetuk pintu ruangan Gilang, setelah mendapat ijin dari Gilang dia langsung masuk.
"Kenapa muka lo di tekuk?" tanya Gilang.
"Kayaknya gue sama Anita nggak bakalan jadi." Kata Vian.
"Kenapa?" Gilang menghentikan kerjaannya.
"Dia sepertinya masih mengharapakan Bayu. Padahal mama sama adik gue usah setuju." kata Vian.
"Masih mengharapkan bagaimana? Dia kan sudah cerai?" kata Gilang.
"Gue rasa mereka masih saling hubungan, gue nikahin dia juga nggak mau." katanya.
"Hhm, sabar. Mungkin Anita sedang membiasakan diri."
"Lang, gue mau tanya juga sama lo."
"Apa?"
"Lo lagi marahan ya sama Gita?"
__ADS_1
"Nggak." Gilang mengelak, dia tidak ingin sahabat-sahabatnya tahu kalau rumah tangganya sedang bermasalah.
"Oh, gue kira."
"Kenapa emangnya?'
"Yah.. Gue lihat lo marah-marah mulu." Vian masih tidak percaya kalau Gilang dan Gita baik-baik saja. "Dan tumben lo nggak buru-buru cariin dia. Biasanya lo nggak bisa jauh lama-lama." tambah Vian.
"Ya kan ini lagi temenin mama, masa yang gue nggak bolehin. Udahlah nggak usah bahas lagi, yuk balik ke rumah gue." Ajak Gilang, dia tidak mau terus membahas Gita. Sebenarnya dia juga rindu tapi dia nggak mau menghubungi duluan.
"Ok, main ps sampai pagi lagi nih. Mau beli makan apa?" tanya Vian.
"Apa aja dah, yang penting makan." Kata Gilang.
"Let's go."
Gilang, Vian, Anita dan Fara bertemu di depan. Fara yang masih kesal langsung berjalan lebih dulu.
"Far.." panggil Gilang.
"Lo kenapa?" tanya Gilang.
"Kenapa apanya? Oiya, gue besok mau ambil cuti tiga hari." katanya sambil pergi menuju mobil jemputanya.
"Kenapa sih tu bocah? Mana enak banget minta cutinya." Gilang merasa aneh.
"Pms kali, dia sama bini lo juga samaan, seenaknya ambil cuti." jawab Vian.
"Nit, lo pulang sama siapa?" tanya Gilang mengalihkan pembicaraan.
"Gue naik taksi."
"Vian, anterin gih. Kasian kan Anita, taksi susah loh jam-jam segini." Suruh Gilang. Vian menatap Gilang, dia mendelik jelas-jelas dia sedang menjauh malah di suruh nganterin pulang.
"Nggak usah Kak, ini udah pesan kok." Anita juga sadar diri kalau Vian pasti marah sama dirinya makanya dia malas mengantarnya pulang.
__ADS_1
"Alah, Vian buruan anterin. Gue tunggu di rumah ya." Kata Gilang sambil meninggalkan mereka berdua.
Vian berjalan duluan tanpa menunggu Anita. Anita menjadi bingung, dia harus ikut atau dia tetap menunggu mendapatkan taksi yang ntah kapan datangnya.
"Lo mau bareng nggak?" Vian menoleh sambil membuka pintu mobilnya.
"Iya." Anita pun langsung lari menuju mobil Vian, dia lebih memilih bersama Vian dari pada nggak tahu kapan dapat taksinya.
Di dalam mobil Vian dan Anita saling diam, Vian hanya fokus ke jalan. Biasanya dia akan banyak bicara namun setelah kejadian tadi siang dia memilih diam.
"Vian.." panggil Anita hati-hati.
"Ya." Jawabnya biasa dan masih fokus ke jalanan.
"Gue mau minta maaf soal tadi. Tidak seharusnya gue ngomong seperti itu." kata Anita.
"Lo nggak perlu minta maaf, wajar kok kalau orang nggak suka di campuri urusanya apalagi urusan pribadi. Harusnya gue sama Fara yang meminta maaf." Kata Vian tanpa melihat Anita sedikitpun.
"Apa lo benci gue?" Anita merasa bersalah, apalagi mendengar jawaban Vian rasanya sakit banget. Dia sadar selama ini Vian lah yang banyak membantunya.
"Kenapa gue harus benci lo? Lagian kan nggak ada sangkut pautnya juga sama gue. Kita kan juga sebatas sahabat apa yang perlu gue benci?" ujarnya.
Anita diam, dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Semakin sakit saja mendengar jawaban-jawaban yang di berikan sama Vian.
Dan pada akhirnya mereka saling diam sampai mobil Vian berada di gerbang rumah Anita. Anita langsung turun dari mobil dan pindah ke samping mobil bagian kemudi.
"Mampir dulu yuk Vian." Anita menawari Vian mampir.
"Nggak usah, gue udah di tinggu sama Gilang." Vian beralasan. Kalau saja Vian sedang tidak menjaga jarak pasti dia mau turun.
"Mama gue kangen sama lo katanya, dia mau ketemu. Mama bilang kalau lo kesini suruh mampir." Kata Anita, dia masih berusaha membujuk Vian.
"Kapan-kapan, gue main kesin"." Kata Vian singkat, jelas dan padat.
"Vian.." baru saja mau ngomong ponsel Anita berdering.
__ADS_1
"Angkat saja, itu Bayu sudah telpon kasian kan kalau lama menunggu. Gue cabut dulu."