
Pemandangan mulai tidak enak saat kedatangan Erina. Terlebih lagi mereka satu kelas lagi. Bahkan keempat orang itu sedang asyik bercerita dengan Erina. Seakan melupakan dia dan Dinda.
"Lihat kan lo Ky, dia itu nggak tulus sama kamu. Dia itu cuma mau mempermainkan lo," ujar Kris yang sudah berada di belakang Kyra.
"Memepermainkan apa, orang Kyra sama Ai juga nggak ada apa-apa. Kita cuma teman satu kelas. Lo saja yang berpikir kejauhan sampai-sampai gue harus kehilangan teman," ucap kelas Kyra. Semua itu gara-gara Kris yang membuat Aiden enggan bermain dengannya.
Kata-kata yang terlontar dari bibir Kyra membuat Kris kesal. Dia melakukan semua itu karena cintanya. Tapi sambutan Kyra membuatnya sakit hati.
"Semua ini karena gue suka sama lo, gue nggak mau ada yang suka sama lo," ujar Kris.
"Kak, sudah berapa kali Kyra bilang. Kyra nggak suka sama kak Kris," Kyra kembali menolak perasaan Kris.
"Tapi kenapa?" Kris masih menanyakan alasan kenapa Kyra terus menolaknya.
"Kak perasaan itu tidak bisa di paksa. Coba kalau ada cewek yang menyatakan perasaan sama lo saat ini. Apa bakalan diterima?" ujar Dinda membantu Kyra yang sudah kuwalahan sama Kris.
Kris terdiam, ucapan Dinda ada benarnya. Kalau memang perasaan tidak bisa dipaksa. Tapi dia kekeh memaksakan diri untuk tetap mendapatkan hati Kyra.
Aiden melihat Kyra dan Dinda yang sedang ngobrol serius dengan Kris. Aiden membisiki Ibob agar mengajak Kyra dan Dinda yang nampak sudah tertekan.
"Ky, Din di tungguin dari tadi malah asyik ngobrol di sini," ujar Ibob.
Kyra dan Dinda menatap Ibob, yang di balas dengan kedipan mata.
"Oh ya, kita keasyikan ngobrol sampai lupa. Kita ke sana dulu ya Kak," Dinda menarik Kyra segera ke meja Aiden dan yang lain.
"Lo mau gabung juga?"
"Nggak sudi gue gabung sama orang-orang miskin kayak kalia," Kris menatap teman-teman Ibob dengan tatapan menghina.
"Lo bakalan pingsan kalau tahu keluarga kita yang sebenarnya. Bisa nggak tidur tujuh hari tujuh malam kalau tahu keluarga Aiden dan Rafa," cicitnya saat Kris sudah pergi.
Kyra mendadak kikuk duduk di samping Aiden, dia tak berani menatap Aiden. Pertama karena ulah mama dan Kris. Kedua cemburu gara-gara ada cewek lain yang bisa membuat Aiden tersenyum.
"Kalian mau pesan apa? Biar gue yang traktir," ucap Rafa.
"Tumben, ada acara apa kok pakai traktir-traktir segala?" tanya Dinda.
"Ya gue lagi bahagia jadinya gue mau berbagi kebahagiaan," ucapnya.
__ADS_1
Kyra tidak terlalu mendengarkan percakapan antara Dinda dengan Rafa. Kedua matanya terlalu fokus sama Erina.
"Ada apa kok memandang gue seperti itu?" tanya Erina. Dia merasa tidak nyaman, seperti sedang diawasi sama Kyra.
Yang lain pun beralih menatap Kyra tanpa mengehentikan aktivitasnya yaitu makan.
"Ah, nggak kok," Kyra gelagapan.
"Oiya, kalian dulu satu sekolah ya?" tanya Dinda. Dia mau mengorek informasi tentang Erina untuk sahabatnya.
"Iya, kami dulu satu sekolah. Tapi beda kelas, jadi syukur setelah pindah ke sini gue bisa satu kelas," ujarnya sembari menatap Rafa.
"Terus, apa yang membawa lo pindah ke sini?"
"Tentu saja karena pacarnya di sini. Nggak mau jauh-jauh dia," jawab Aiden. Yang meyakinkan Kyra kalau cewek di depannya itu pacara Aiden.
Terlebih melihat respon Erina yang malu-malu, pipinya menjadi merah.
Jadi benar mereka pacaran? batin Kyra sedih.
"Kalian pacaran sudah lama?" tanya Dinda.
"Belum lama juga ya," ujar Dinda sembari menatap Kyra.
"Ya dulu sempat salah sasaran," ujar Aiden sambil terkekeh. Dia mendapatkan pukulan sedang dari Rafa.
"Salah sasaran?" Dinda menjadi semakin penasaran sama halnya dengan Kyra.
Kyra sebenarnya ingin menanyakan banyak hal, namun dia memilih diam karena sudah menahan gondok. Takutnya malah menangis.
"Panjang ceritanya," jawab Ibob.
"Lo kenapa tanya-tanya sih," Luki nggak suka Dinda terus menanyakan hubungan Rafa dan Erina. Pikirannya langsung beralih kalau Dinda menyukai Rafa setelah putus dari Bimo.
"Biarin aja sih, kenapa lo yang sewot."
"Udah jangan di bahas lagi, gue malu kalau ingat. Jangan bahas masa lalu lagi nggak enak kedengaranya," tutur Rafa yang sudah tak ingin mengingat hal yang menyakitkan itu.
"Kenapa Kak Rafa yang malu, kan yang menjalin hubungan Kak Ai," Ujarnya yang membuat Aiden, Rafa, Luki, Ibob dan Erina memandanginya.
__ADS_1
Rafa menatap Erina. "Nggak, gue nggak ada hubungan apa-apa sama Ai. Gue juga cuma minta tolong buat cariin kos, dan pindah ke sekolah ini." Erina memberikan klarifikasi cepat sebelum Rafa salah paham dengan penafsiran Dinda.
"Kalau lo nggak sama Kak Ai, pacar lo siapa?"
"Gue," Jawab Rafa cepat dan jelas.
Kyra dan Dinda mendelik, mereka berdua kaget. Ternyata mereka salah sangka.
"Jadi kalian berdua pikir gue pacarnya Erina?" Aiden menatap Dinda lalu Kyra.
Mereka berdua mengangguk bersamaan.
"Lo kan yang boncengin Erina. Jadi gue pikir lo pacarnya," ujar Kyra.
"Lagian kenapa nggak Kak Rafa yang jemput, kan jadi salah paham."
"Iya, gue sengaja. Soalnya gue mau kasih suprise sama Rafa. Jadi minta tolong sama calon adik ipar," Erina merenges.
Hati Kyra mendadak lega saat mendengar Erina bukan pacar Aiden.
"Tapi kenapa kalian salah paham kalau sampai gue punya pacar?" tanya Aiden.
"Lo suka sama Ai, lo cemburu kalau Ai sama cewek lain," Luki menuduh Dinda memiliki perasaan sama Aiden.
"Siapa juga yang cemburu sama Ai. Jangan ngaco deh!"
Makan siang ini hanya berisi debatan, sampai-sampai mereka lupa sama makanan yang ada di meja.
Aiden menatap Kyra lalu tersenyum, dia tahu siapa dalang terjadinya perdebatan ini.
"Sudah-sudah, bukan Dinda yang cemburu. Tapi lo Luki," ujar Aiden. Jantung Kyra hampir saja copot kalau Aiden menyebut namanya. Karena hanya Dinda dan dirinya yang tidak tahu kalau Erina itu pacar Rafa bukan Aiden.
"Kok gue?" Luki berkilah. Dia memamg cemburu berat, tapi dia menyembunyikannya karena gengsi.
"Kalau bukan lo siapa lagi, dari tadi ribut mulu," kata Ibob.
"Betul, sejak awal lo yang uring-uringan pas Dinda tanya-tanya." tambah Ibob.
Luki akhirnya menutup mulut rapat-rapat, semua tuduhan teman-temannya benar. Dia cemburu kalau Dinda sampai dekat dengan cowok lain.
__ADS_1
Dinda menatap Luki yang langaung diam. Dia lumayan senang bisa dicintai sama seseorang. Namun hatinya kini sedang terluka dan belum mau membuka pintu hatinya untuk siapa pun. Dia sedang menikmati kesendiriannya, masa-masa jomblonya.