
"Akhirnya, makanan gue datang juga. Lo beli dimana sih? Kantin inggris apa jepang." Cerocos Gita ketika Vian dan Anita datang membawa sotonya.
"Dari nurwegia." jawab Vian sambil menaruh nampannya.
"Habis pacaran kan kalian berdua." Ujar Fara.
"Iya nih... Pasti makanya lama banget." Gita ikut menuduh.
"Heh! Jangan bikin gosip. Orang kita berdua jelas-jelas beliin pesanan kalian kok." kata Anita mengambil bakso yang dia pesan.
"Tahu tuh berdua, nggak ada berterima kasihnya sama sekali. Udah di beliin mana nggak pakai uang." Oceh Vian.
"Iye.. Nanti gue bayar. Mau berapa?" tantang Fara.
"Ya cukup buat mahar gue nikah ajalah." ucapnya.
"Ih... Emang lo mau nikah sama siapa? Kayak lo punya calon aja." Ejek Fara.
"Yang pentingkan maharnya dulu. Calon gampang menyusul."
"Dari dulu gitu mulu, dari siapa itu namanya gue lupa sampai si Bella. Nggak ada yang jadi juga, mending lo sama Mbak Lila aja gimana Vian?" tanya Gita.
"Uhuukk!" Anita tersedak saat Gita mau menyjodohkan Vian dengan Lila.
"Kenapa lo Nit?" tanya Fara.
"Lo nggak apa-apa?" Vian cemas.
Anita mengangkat tangannya, dia sedang meneguk es tehnya.
"Hati-hati makanya kalau makan, jangan buru-buru orang nggak ada yang minta juga." Nasehat Vian.
"Iya, nggak nyangka pedes banget sampai kesedak." Kata Anita sambil memulai memasukan bakso ke dalam mulutnya lagi.
"Ceilah.. perhatian amat yak." Goda Fara.
"Far.. lo ngrasa nggak kalau di tempat ini tuh jadi berflower-flower nggak sih. Rasanya adem..sejuk seger gitu. Baunya pun wangi." kata Gita sambil mengendus-endus udara di ruangan.
__ADS_1
"Kalau gue sih ngrasanya tuh kayak lagi diangkasa, banyak bintang-bintang indah banget." Kata Fara.
"Heh... Manusia-manusia lucknut. Bisa diam tidak kalian."
"Iya kalian berdua itu pada kenapa, heran gue." Anita menggelengkan kepalanya.
"Nit, lo beneran nggak mau sama Vian?"
"Gita ya ampun. Kenapa bahasnya itu mulu. Telinga gue rasanya panas tahu nggak."
"Ya ditiupin kalau panas, ya kalau lo benar-benar nggak mau gue mau comblangin sama Mbak Lila. Biar nggak jomblo lagi ini anak. Kasian kan belum pernah ngrasain." Kata Gita.
"Eh.. Sembarangan lo main comblang-comblangin. Lagian darimana lo tahu gue belum pernah ngerasain." Vian tidak mau di comblangin Gita.
"Eh.. Jadi lo udah pernah?" Kata Fara. Gita, Anita dan Fara langsung menghadap ke arah Vian semua.
"Lo sama siapa? Bela?" Tanya Gita.
"Wah lo bahaya, main-main begituan?" Langsung di tambah Fara.
"Lo kok gitu sih? Kan belum sah." Dan terakhir Anita yang sedikit kecewa mendengar Vian yang udah main-main perempuan.
"Lo suka jajan ya.." tuduh Gita.
"Stop kalian bertiga! jangan pada jorok mikirnya. Gue udah pernah pacaran. Bukan pernah begituan." Vian langsung klarifikasi sama ketiga sahabatnya itu. Pikiran mereka sudah jauh sekali, bukan seperti yang seharusnya.
"Ngomong yang jelas makanya, kan kita jadi nggak negatif sama lo. Tapi lo masih suka cewek kan?"
"Ya ampun Gita, jelas lah gue masih suka sama wanita. Gue masih normal, Nit lo nikah aja sama gue lah. Biar gue nggak dikatain nggak normal sama mereka.
"Kok jadi gue?"
"Lah siapa lagi yang masih singgel disini kalau bukan lo." kata Vian.
"Gaya lo Vian nggak mau, padahal dalam hati juga mau kan sama Anita."
"Git, pantesan nggak mau lo comblangin sama Mbak Lila. Sebenarnya lo suka kan sama Anita, lo cuma pura-pura kan?"
__ADS_1
"Udah..udah.. Makan kalian semua. Makin ngelantur aja omongan. Vian lo buruan makan juga gih." Anita tidak mau di buat panas dingin sama sahabat-sahabatnya. Sehingga dia harus segera menghentikan obrolan ini.
...----------------...
Gita menggeliat, kemudian meregangkan kedua tangannya.
"Aduh... Pinggang gue mau patah rasanya." seru Gita.
"Iya, nggak kira-kira Mas Win ngasih kerjaan." Fara pun mengikuti Gita meregangkan tubuhnya.
"Gue balik dulu ya, mama gue nungguin nih." Anita pamit nggak bisa temani kedua sahabatnya lembur.
"Ok, hati-hati. Lo pulang naik apa?"
"Gue bawa mobil sendiri."
"Ok, hati-hati."
"Gue juga mau balik dulu."
"Li ngapain balik Vian?" tahan Fara.
"Ya gue punya rumah. Kenapa lo nggak mau banget gue pergi." kata Vian.
"Ntar kalau disini ada setan gimana kalau lo pulang?" kata Fara.
"Mana ada setan, mereka juga takut sama kalian berdua." Kata Vian sambil menenteng tasnya.
"Hiist.. Dasar nggak setia kawan."
Ruangan tinggal ada Gita sama Fara, mereka menyelesaikan tugas dari Win.
"Git, gue udah nggak kuat lagi." Kata Fara.
"Iya, ini badan gue rasanya mau patah-patah." Kata Gita.
"Pulanglah yuk, biarin aja kerjain besok lagi." Ajak Fara.
__ADS_1
"Gas."