Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Datangnya Masalalu


__ADS_3

Fara mengerutkan keningnya melihat Raka yang sejak bangun tidur.


"Kamu kenapa sih manyun mulu dari tadi." Fara memasangkan dasi milik Raka.


"Kamu sih, benar nggak kemana-mana tapi kamu tidur. Tidak jadi selamam." Katanya sambil manyun.


"Ya ampun, masalah masih saja ngambek." Fara menggelengkan kepala.


"Kamu meremehkan ya." Raka bangun lalu membuang muka.


"Maaf, aku nggak bermaksud. Cuman semalam ketiduran." Kata Fara


Dia berjalan ke belakang, lalu memeluknya.


"Nanti malam deh, aku kasih dobel." bisik di telinga Raka.


"Beneran?" wajah Raka langsung sumringah.


"Beneran lah, memangnya selama ini aku pernah bohong." Fara mengecup pipi Raka.


"Kenapa nggak sekarang saja." Raka menarik tangan Fara dan memangkunya.


"Heh.. Ngawur. Ini udah jam berapa. Kita harus kerja."


"Kita libur saja hari ini, biar aku ijinin sama Gilang. Dia pasti ngerti." Kata Raka.


"Sayang, jangan aneh-aneh deh. Sekarang waktunya kerja, untuk itu nanti malam sampai kamu puas deh, aku bakalan temani kamu."


"Janji."


"Janji."


"Baiklah, hari ini aku semangat sekali untuk bekerja." Kata Raka sambil menciumi Fara.


"Udah yuk.. Turun sarapan. Begini terus bisa-bisa habis aku kamu terkam. Nggak jadi ngantor nanti." ujar Fara bergegas mengajak Raka sarapan.


...----------------...


Hari ini Raka menyemlatkan diri mengantar Fara ke kantor. Sudah lama dia tidak mengantar karena pekerjaannya yang sangat padat.


"Suamiku kenapa manis banget hari ini. Ah.. berasa lagi pacaran lagi." kata Fara centil.


"Ya sekali-kali, biar bisa kayak Gilang sama Gita kata kamu. Tiap hari manja-manja di kantor, pulang pergi bareng." Ujar Raka. Fara sering kali mengeluh dan iri sama Gita yang pamer kemesraan dengannya.


"Benar, mereka itu best couple tahu. Bikin iri saja, manis banget mereka itu." Fara tersenyun bangga dengan Gita dan Gilang.


"Memangnya kita nggak best couple?"


"Nggak."


"Ck." Raka kesal mendengar jawaban simpel, jelas dan padat dari Fara.


"Kita itu pasangan best of the best." kata Fara.


"Bisa aja kamu bikin mood aku naik turun." Kata Raka sambil geleng kepala dengan tingkah istrinya.


"Sayang, itu kenapa ya? Apa dia di rampok?" tunjuk Fara saat melihat seorang cewek di tarik-tarik di pinggir jalan.


"Nggak tahu, kita bantuin yuk." Ajak Raka.


"Iya sayang, dia kasian banget." Kata Fara. Dia meminta Raka segera menepikan mobilnya.


"Lepasin gue.. gue nggak mau lagi sama lo." katanya sambil menangis.

__ADS_1


"Hoi!" teriak Raka membuat kedua orang itu menoleh ke arah Raka.


"Jangan beraninya sama cewek, cemen banget sih." ejek Raka.


"Lo siapa? tidak usah jadi pahlawan." katanya dengan wajah seram.


"Gue bukan siapa-siapa, cuma gue nggak suka melihat cowok yang kasar sama cewek. Nggak level banget mainnya sama cewek." Kata Raka lagi yang semakin membuat cowok itu naik pitam.


"Tuh dengar, berantem kok sama cewek." ejek Fara.


"Diam! Perempuan jangan ikut campur, atau lo akan merasakan hal yang sama!" ancamnya.


"Hey! Jangan pernah berani menyentuhnya!" Raka tersulut emosi saat orang itu mengancam Fara.


"Banyak bacot!" Orang itu langsung menyerang.


Dan terjadilah perkelahian, namun tak berakhir lama karena orang itu langsung kalah sama Raka.


"Ingat ya, urusan kita belum selesai!" Ancamnya sama perempuan itu.


"Lo nggak apa-apa?" Tanya Raka.


"Iya, gue nggak apa-apa." Katanya sambil menatap Raka pekat. Raka heran cewek itu melihatnya tanpa berkedip.


"Kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Raka.


Dia menggelengkan kepalanya, "Sorry, apa lo Raka?" tanyanya.


"Iya, lo kenal gue?" tanya Raka.


"Jadi benar lo Raka, gue nggak salah orang." katanya tiba-tiba menangis sesenggukan. Dia langsung memeluk Raka.


Dengan cepat Fara langsung berdiri di depan Raka, sedangkan Raka mengangkat kedua tangannya.


"He-he.. Sorry." Fara tersenyum. Dia tidak akan pernah memberikan celah kepada siapapun.


"Raka, apa lo lupa sama gue?" tanyanya.


"Memang lo siapa?"


"Prisil."


Deg.. jantung Raka rasanya mau berhenti, bukan karena dia masih punya perasaan melaikan kalau sampai Fara tahu dia itu mantanya pasti bisa perang dunia.


"Lo masih ingat gue kan?" tanya Prisil lagi. Prisil senang bisa bertemu dengan Raka lagi. Apalagi sekarang berubah menjadi cowok keren yang tampak berwibawa. Bukan lagi anak SMA yang garang dan bandel.


"Ooh... Prisil. Iya gue ingat. Tadi siapa?" tanya Raka.


"Dia mantan pacar gue, tapi gue mau udahan tapi dia tidak mau jadi terus mengganggu." Katanya. Sebenarnya Raka tidak peduli dengan ceritanya.


"Ehhm.." Fara berdehem sambil melirik kearah Raka.


"Oiya Prisil, kenalin ini istri gue. Fara namanya." Raka merangkul Fara sambil memperkenalkan kepada Prisil.


Ada rasa kecewa ketika Raka menyebutkan Fara itu istrinya.


"O..hay. Gue prisil mantan pacar Raka." Katanya sambil menyambut tangan Fara yang lebih dulu terulur. "Gue kira tadi Gita, soalnya mirip kelakuanya." katanya sambil tersenyum. Dia awalnya mikir itu Gita, karena selalu mengganggu dirinya dulu saat bersama Raka.


"Mantan ya, gue masa depannya. Gimana usah menyesal belum." Kata Fara tanpa dosa. Ucapan Fara membuat Prisil kaget.


"Maksud lo?"


"Maksud gue, kita pergi dulu ya soalnya udah telat mau ke kantor." Fara langsung menarik tangan Raka menuju mobil.

__ADS_1


"Roman-romannya itu manusia bakalan gangguin Raka. Hey.. Tidak bisa lo ya dekatin Raka. Gue udah katam film-film pelakor." Lirik Fara ke belakang lalu melanjutkan jalannya.


Di dalam mobil Fara menjadi diam, dia terus memandangi luar melihta gedung yang berjalan berlainan arah dengan mobil.


"Kamu kenapa diam saja?" tanya Raka.


"Dia kenapa muncul lagi ya, awas saja kalau sampai berani mendekati kamu lagi. Bakalan aku bejek-bejek itu cewek." kata Fara tanpa basa-basi.


"Aku juga nggak tahu, sebenarnya aku juga tadi nggak tahu kalau dia Prisil."


"Tambah cantik ya?" kata Fara manyun.


"Orang yang paling cantik di hidup aku tuh hanya Kamu, Gita, Mama Wanda dan nanti calon anak kita." jelas Raka.


"Masa?"


"Iya, udahlah jangan ngambek-ngambek. Toh aku sama sekali tidak mengingatnya. Cukup jangan bahas lagi, tidak penting. Yang penting sekarang kamu segera turun udah sampai di kantor." Raka malas membahas sesuatu yang tidak penting.


Lagian nama Prisil sudah lama terhapus semenjak dia berselingkuh dan menyalahkan Gita. Dua hal yang fatal di lakukan oleh Prisil.


"Baiklah suamiku sayang, ingat tetap jaga hati. Aku tidak akan pernah menyerahkan kamu kepada siapapun. Kalau ada yang macam-macam aku akan melabraknya." Kata Fara.


"Pasti, kan pemilih resmi hatiku hanya kamu." Raka mencium kening Fara.


"Kamu hati-hati." kata Fara sambil menciun tangan Raka.


"Iya sayang, nanti aku jemput kamu."


Fara melambaikan tangannya, sampai mobil Raka hilang dari pandangan matanya.


"Gue nggak bisa diam saja, harus extra hati-hati. Firasat gue mengatakan kalau perempuan itu bakalan mendatangi Raka." Fara mengedumel.


"Heh... kenapa pagi-pagi ngedumel." Kata Gita sambil merangkul Fara.


"Iya, biasanya ceria amat kayak habis dapat dorprize." tambah Anita.


"Gue lagi berpikir keras, jadi nggak bisa cengengesan." Katanya.


Gita dan Anita langsung tertawa mendengar Fara lagi berpikir keras.


"Ih.. Malah pada ketawa sih." Fara manyun.


"Sorry...sorry, memangnya apa yang buat lo berpikir keras." kata Gita.


Fara melepaskan rangkulan Gita, dia berdiri berhadapan dengan Gita dan Anita.


"Lo ingat Prisil?"


"Prisil siapa? Memangnya kita punya teman namanya Prisil?" Gita sama sekali tidak ingat kalau punya teman namanya Prisil.


"Kayaknya nggak ada deh, eh.. Kalau teman kampus gue nggak tahu ya." Kata Anita.


"Bukan teman, Prisil mantanya Raka yang kita lihat dia selingkuh itu loh." jelas Fara.


"Ah.. gue ingat..gue ingat. Ngapain dia datang lagi. Bilang gue kalau sampai dia berani gangguin keluarga lo." Kata Gita.


"Nggak tahu, cuman tadi tidak sengaja ketemu di jalan. Dia sedang ribut sama mantannya. Gue sama Raka bantuin aja. Cuman gue rasa dia nggak akan diam di pertemuan ini deh." Kata Fara menatap kedua sahabatnya.


"Tenang ada gue."


"Gue rasa lo juga harus kurangin nonton sinetron, biar nggak parno." ujar Anita.


"Ish.. Lo ya."

__ADS_1


Fara menyun, Gita sama Anita hanya bisa tertawa. Mereka kemudian meneruskan jalannya masuk ke kantor. Mereka bertiga berjalan santai meskipun sudah telat.


__ADS_2