Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Membujuk


__ADS_3

"Gimana lo masih marah sama Raka, kalau di lihat-lihat dia nggak mungkin deh balik sama si Prisil."


"Gue kesal saja, kalau ingat tuh pingin gue bejek-bejek wajah Prisil. Lo sendiri gimana?" tanya Fara balik.


"Gue udah baik kan kok," Gita tersenyum lebar melihatkan deretan gigi putihnya.


"Maksudnya kedepannya, lo bakalan beneran tinggalin kerjaan?" Fara memandang sekilas lalu menatap ke depan lagi.


"Gue masih nggak tahu pasti, tapi gue nggak bisa kalau harus diam di rumah. Lo tahu sendiri kan, tapi gue juga takut durhaka." Gita menghela napas panjang. Pilihan kali ini sangat berat bagi Gita.


"Lo udah bicara lagi belum sama Anita?"


"Belum." jawab Fara singkat.


"Lo masih marah sama dia?" Gita menatap Fara yang mulai ogah-ogahan saat menbahas Anita. Dia masih kesal saja dengan sikap Anita.


"Gue nggak marah, cuma kesal saja."


"Far, kita kan temenan udah lama masa iya bakalan berakhir begitu saja. Mungkin kemarin itu Anita sedang kalut jadi jawabnya ketus," Gita memegang tangan Fara.


Fara menatap Gita, "Tapi gue kesel banget, kalau dia memang masih suka ya udah nggak usah cerai," tukas Fara.


"Far, lo juga harus pahami, namanya orang sedang patah hati pasti keadaanya sedang tidak stabil, sensitif," Gita mencoba memberikan pengertian kepada Fara.


Fara terdiam, yang di katakan Gita mungkin ada benarnya. Di dunia pastinya tidak ada yang mau bercerai. Pastilah kondisinya sedang terguncang, apa lagi dia bercerai dalam keadaan dirinya yang masih menyayangi pasangannya. Pasti tidak akan mudah melupakannya.


"Baiklah, besok kalau pulang gue temui dia," jawabnya.


"Gitu dong, kita kan sahabat forever," Gita memeluk Fara.


Gilang dan Raka dari dalam melihat istri-istri sedang berbincang di teras langsung di samperin.


"Kalian lagi bikin rencana apa lagi?" tuduh Gilang.


"Rencana?" kata Gita dan Fara saling bertatapan.


"Iya, kalian merencanakan apa lagi?"


"Kita nggak merencanakan apa-apa, ya nggak Git."


"Iya, kita cuma ngobrol biasa kok. Kalian kenapa sih curigaan banget."

__ADS_1


"Salah sendiri wajah-wajah kalian itu mencurigakan."


"Harusnya yang curiga itu kita, udah kangen-kangenan sama mantanya, kok udah nyamperin aja kesini," sindir Fara.


"Sayang kamu jangan ngaco deh, siapa juga yang kangen-kangenan sama dia. Aku cuma bantuin dia," Raka mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Memangnya di dunia ini hanya kamu teman dia, sampai-sampai harus kamu yang menolongnya."


"Bukan seperti itu.."


"Udah ah, males aku." Fara beranjak dari kursi, tak lupa dia meraih ponsel dan berlalu masuk.


"Makanya Raka, kalau yang lalu tuh biarkan berlalu, bukanya malah healing disitu, cukup jadikan wisata masalalu aja." celoteh Gita sambil mengikuti Fara.


"Lah.. Kenapa malah jadi gue yang salah sih. Kan dia yang dekat-dekat sama cowok lain." Raka menghela napas pantang.


"Raka, emang susah kalau sudah berhubungan yang namanya mantan. Bakalan ribet urusannya. Untung saja gue nggak punya mantan." Gilang tersenyum lega.


"Kan gue cuma bantuin saja nggak lebih, gue hanya membantu orang yang kesusahan."


"Ya niat lo emang baik dan tidak ada maksud lain, tapi bagi mantan lo pasti dia berpikir lain. Pasti ada kesalahpahaman di keduanya."


"Makanya lo jauh-jauh deh, jangan dekat-dekat mantan lo."


...----------------...


Gita membereskan pakaiannya, dia mengecek semua barang bawaannya agar tidak ada yang ketinggalan


"Sayang.." panggil Gilang.


"Ya." jawabnya singkat dengan tangan yang masih sibuk menata pakaian di koper.


Gilang yang merasa masih di cuekin turun dari kasurnya, dia mendekati Gita lalu memeluknya dari belakang.


Gilang memeluk erat Gita, rasa kangen menumpuk setelah beberapa hari ini tidak bertegur sapa dan lumayan lama Gita pergi sehingga jarang bertemu.


Gita menghentikan aktivitasnya, merasakan rasa hangat yang dihasilkan dari pelukan Gilang.


"Sayang, apa kamu masih marah?" tanya Gilang pelan.


Gita terdiam, bingung juga kalau di tanya. Kalau ingat emang kesal tapi dia juga sudah kangen banget.

__ADS_1


"Bukanya kamu yang marah?" Gita melanjutkan menata bajunya.


"Aku tidak marah, aku hanya.."


"Hanya apa?" Gita menoleh sebentar.


Gilang melepaskan pelukannya, lalu memutar tubuh Gita sehingga berhadapan sama Gita.


"Aku hanya kangen sama kamu." Katanya.


Gilan mendekatkan wajahnya, dia menarik pelan dagu Gita, perlahan Gilang mencium bibir Gita. Sudah beberapa hari ini dia tidak mendapatkan vitamin yang membuatnya tubuhnya bugar.


Gilang melepaskan ciumannya, dia memandang Gita lekat. Gilang ingin sekali melepaskan kangennya dengan menikmati setiap inci tubuh istrinya.


Gilang langsung menggendong Gita, membawanya ke ranjang. Perlahan dia menurunkan Gita, dengan cepat dia pun langsung mengecup bibir Gita.


Gilang mencium dengan sangat lembut, Gita pun tak menolak dia juga sangat merindukan suaminya itu.


Gilang melepaskan bibir manis Gita, tangannya perlahan membuka kancing kemeja yang di pakai Gita, ciumanya mulai menjalar turun keleher Gita. Gita mulai merasakan tubuhnya semakin panas.


Gita pun mulai terpancing, dia membuka kancing kemeja Gilang. Dia merindukan aroma maskulin tubuh Gilang.


Gilang melempar baju miliknya dan juga milik Gita, dengan semangat Gilang siap menikmati setiap inci tubuh Gita.


Gita meramgkulkan tangan di leher Gilang, dua menautkan bibirnya. Mereka saling membalas, melepaskan semua kerinduan yang di pendamnya.Amarah, kekesalan seakan lebur begitu saja.


Gilang sudah menginginkan permainan inti, pemanasannya sudah cukup baginya.


"Sayang tunggu."


"Ada apa?"


"Apakah pintunya sudah di kunci?"


"Sudah."


"Beneran?"


"Iya sayang, aku sudah mengunci rapat-rapat. Tidaka akan ada yang mengganggu kita malam ini." Kata Gilang langsung melahap bibir Gita, sambil perlahan dia menuju permainan inti yang dia inginkan.


"Sayang, kita akan bermain sampai pagi." bisik Gilang di telinga Gita.

__ADS_1


__ADS_2