
Aiden masuk ke kelas semua anak-anak yang berisik langsung terdiam, mereka memandangi Aiden dan Luki yang berjalan menuju ke bangkunya.
“Eh, kalian mau kemana?” tanya Ibob.
“Pulang,” ujarnya Luki sembari menarik tas yang ada di kursi.
“Loh, kok pulang?” Rafa ikut nimbrung.
“Ya kan Bu Ariyani baik sama gue dan Luki. Lagi ngantuk-ngatunya di suruh pulang,” canda Aiden sambil cengengesan.
“Benar, bukan kah keberuntungan sedang berada sama kita berdua,” ucap Luki yang membuat Ibob dan Rafa cemburu karena masih harus mengikuti pelajaran. Mereka juga ingin pulang.
“Kalian di skors?” Kyra menoleh ke belakang. Kyra langsung paham dengan ucapan Aiden.
“Nggak, tapi di pulangkan lebih awal saja dari kalian. Fa, Bob kita tunggu di rumah ya.” Aiden melambaikan tangan lalu bergegas keluar sebelum Bu Intan datang ke kelas.
“Da-da,” Luki ikut melambaikan tangan.
“Yah, tanpa mereka gue pasti kesepian ini,” ujar Ibob merana tanpa kedua sahabatnya meskipun hanya tidur di sampingnya.
“Bukannya memang setiap hari sepi meskipun ada mereka. Kan mereka datang ke sekolah juga untuk tidur,” sahut Dinda.
“Tapi kan pas istirahat nggak tidur,” jawab Ibob yang membuat Dinda dan Kyra melongo.
Sepulang sekolah Rafa dan Ibob langsung nyamperin Aiden dan Luki yang sedang main ps.
“Ai, kenapa bisa di skors?” tanya Rafa sembari duduk di sebelahnya.
“Biasa ulah si ketua osis, dia ngadu sama Bu Ariyani,” jawabnya dengan santai. Aiden sama sekali tidak merasa sedih di skor dari sekolah. Toh jauh dari rumah tidak bakalan di marahin mamanya.
“Rusuh banget sih ketua osis kita itu,” dengus Ibob.
“Tenang saja, dia juga kena skors kok,” ujar Luki.
“Oiya?” Ibob tidak percaya Kris juga di skor.
__ADS_1
“Tumben banget, biasanya ketua osis kan kebanggaan sekolah," Ibob tidak percaya Kris bisa di hukum.
“Mungkin hari sialnya kali,” ucap Aiden.
“Terus kalian selama tiga hari mau ngepain, kalau di rumah nenek pasti bingung kan kenapa kalian tidak sekolah," kata Rafa.
“Benar juga, kita mau kemana Ai?” Luki mempaus gamenya lalu melihat ke arah Aiden. Dia juga bingung nggak punya tujuan di tempat ini.
“Pulang saja Luk, gue kangen sama nyokap bokap gue,” ajak Aiden.
“Loh, kok kalian balik duluan sih. Kan gue juga pingin balik,” Rafa kesel.
“Ya kan kalian berdua bisa menyusul pas weekend,” sahut Luki.
“Tapi kan nggak seru, mana sekolah berduaan mulu,” Ibob menjatuhkan tubuhnya ke kasur.
“Yaelah, kalian kenapa kayak cewek banget sih, di tinggal dikit kayak nggak punya semangat hidup," celoteh Aiden.
“Ai, cinta gue sama kalian itu lebih besar dari pada sama cewek gue loh. Gimana bisa nggak lemas,letih,lesu, lunglai,’ cerocos Ibob.
“Busyet sudah, cakap lo sudah presis macam buaya jantan. Lo bilang sama kita-kita begini karena lo belum punya cewek.” Aiden melempar Ibob dengan bantal sofa. Ibob nyengir, tentu saja dia gampang mengatakan semua itu karena masih jomblo.
Kyra duduk termenung di meja belajarnya, dia melihat ke coklat pemberian Aiden yang belum sempat dia makan. kyra mengingat wajah Aiden yang manis.
“Apa sih yang lo pikirin Ky,” Kyra mengacak-acak rambutnya.
Kyra mencoba membuang perasaan yang sedang berkecamuk di hatinya, dia tidak ingin merasakan cinta yang menyakitkan itu lagi. Baginya cukup sekali di sakiti oleh Rendi. Jadi sekuat tenaga dia menutup pintu hatinya rapat-rapat. Jangan ada yang bisa mendobraknya.
Kyra membuka buku pelajaranya untuk memulai belajarnya. Namun di tengah-tengah belajarnya dia teringat wajah Aiden. Senyum dan gayanya yang kadang tengil, kadang ngeselin.
“Ini tidak benar, kenapa sekarang dia menguasai pikiran gue,” keluh Kyra. Dia menjatuhkan tubuhnya di meja belajar.
“Kyra,” panggil mamanya.
Kyra bergegas mengangkat tubuhnya, dia takut ketahuan mamanya yang sedang bermalas-malasan.
__ADS_1
“Iya Ma,” jawabnya sembari membalik-balik bukunya agar telihat belajar.
“Nih mama bawain susu hangat.” Selfi menaruh susu hangat di samping kanan Kyra.
“Makasih Ma,” jawabnya namun masih memandangi bukunya.
Dia masih kesal dengan mamanya karena terus mengantar dan menjemputnya. Dia benar-benar tidak punya waktu untuk berleha-leha sedikit. Di tambah lagi mamanya yang meminta Kris untuk mengawasinya sehingga dia sama sekali tidak bisa bergerak.
“Kamu marah sama mama?” Selfi duduk di kasur Kyra.
“Nggak,” jawabnya singkat jelas dan padat. Yang justru menunjukan kalau dirinya sedang marah.
“Mama kan melakukan semua ini demi kamu, demi masa depan kamu. Supaya nanti bisa menjadi orang yang sukses. Lebih sukses dari mama dan papa, sekarang kamu banyak-banyak belajar. Nanti setelah itu kamu bebas main ke mana saja,” tutur mamanya.
Kata-kata itu setiap hari yang selalu di dengar oleh Kyra, kalimat yang seakan seperti pembebasan namun bagi Kyra itu bukan, itu hanya kata-kata penghibur. Yang akan di terapkan entah sampai kapan kepadanya.
“Iya, pergi ke mana tanpa siapa-siapa. Kyra akan menjadi orang yang individualis, tidak punya teman,” jawabnya.
“Kamu tidak akan kehilangan teman, saat kamu sukses semua teman juga akan datang sendiri.”
“Mama nggak akan pernah tahu.”Kyra memasang ear phonenya. Dia sudah malas mendengar ucapan mamanya.
Selfi terlalu egois dengan anak-anaknya yang terus menyuruhnya untuk menghasilkan sesuatu yang sempurna tanpa memikirkan perasaannya. Tidak pernah memikirkan apakah anaknya sudah atau anaknya tidak suka. Semua harus berjalan sesuai dengan kehendaknya.
“Kamu yang tidak mengerti Kyra, semua ini mama lakukan buat kamu. Demi masa depan kamu yang bagus.” Selfi meninggalkan kamar Kyra.
Kyra membuka coklat pemberian Aiden, dia memasukan satu kotak kecil ke mulutnya. Kyra menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Matanya terpejam sembari perlahan mengunyah coklat di mulutnya.
Kyra berusaha merilexkan dirinya, agar tidak stes karena tekanan dari mamanya yang bertubi-tubi.
“Mama kenapa tidak pernah mau mengerti perasaan gue, kenapa selalu tidak puas dengan hasil yang Kyra dapatkan,” ujarnya.
Kyra melepas ear phonenya, dia meninggalkan segelas susu yang sudah di buatkan oleh mamanya. Dia merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.
Kyra mengambil ponselnya, mencari kontak milik Aiden. Dia mengirimkan pesan mengajaknya makan untuk membayar janjinya saat menolongnya dari Rendi. Namun setelah selesai mengetik dia menghapusnya lagi, dia ingat kalau mamanya kan terus menjemutnya bagaimana dia akan pergi.
__ADS_1
“Apa gue kabur saja, capek gue hidup seperti ini. Sepertinya hidup sederhana seperti Ai dan teman-temannya akan lebih nyaman,” ujarnya. kyra meletakkan ponselnya lagi.
Namun semua itu hanya ada dalam angannya, dia belun pernah memliki keberanian untuk kabur jauh dari keluarga. Dia memikirkan bagaimana dia hidupnya nanti kalau tidak punya uang.