
Gita bangun pagi untuk siap-siap pergi ke nikahan Bayu dan Vivi. Sebelum mandi dia menyiapkan pakaian dan juga bekal untuk perjalanan nanti.
"Bik, tolong Aiden di mandiin dulu ya." Pinta Gita.
"Siap Mbak." kata Bik Siti.
Setelah Gita selesai menyiapkan bekal dia buru-buru mandi. Seperti biasa Gita mandi tidak terlalu lama seperti cewek-cewek pada umumnya. Gita langsung ganti baju, dan samperin Gilang dan Vian.
"Sayang.. Bangun udah pagi. Nanti keburu macet jalanan." bisik Gita di telinga Gilang. Gilang menggeliat, matanya masih berat untuk di buka.
"Vian.. Bangun.. Oi.. Bangun lo mau jadi nganterin Anita nggak?" Gita menepuk-nepuk punggung Vian.
"A...aa... Iya sabar. Sakit jangan di pukulin kenapa?" katanya sambil duduk bersila. Vian mengucek kedua matanya.
Melihat Gilang belum bangun, Gita duduk di sebelahnya.
"Sayang, ayo bangun nanti kita kesiangan." Gita mengelus rambut Gilang.
"Kalau bangun Gilang lembut amat, gue di pukul-pukul. Emang ya lo itu pilih kasih." Omel Vian.
"Ya jelas lah, lo kan juga suka durhaka sama gue. Kalau Kak Gilang kan suami gue, wajar dong gue bertingkah lembut, gue manja-manja." Gita menjulurka bibirnya.
Sedangkan Vian mulutnya nyenye-nyenye menirukan ucapan Gita tanpa suara.
Gilang bangun langsung mengecup bibir Gita, Gita pun membelalakan kedua matanya karena kaget.
"Wah..wah... Ini keterlaluan nggak ada sopan-sopannya sama jomblo. Main cium-cium saja." Protes Vian.
"Masih pagi udah pada ribut saja.." kata Gilang.
"Lo yang bikin ribut."
"Vian, Gita kan bini gue. Bebas dong gue mau ngapain saja."
"Gue tahu, tapi jangan depan gue juga. Kalau gue kepingin memangnya boleh mencicipi?" kata Vian tak ada takutnya.
"Coba aja kalau berani, gue mutilasi lo."
"Sudah...sudah... cepat kalian mandi. Itu sudah jam berapa?" tunjuk Gita ke jam dinding.
Mereka berdua pun langsung bergegas mandi sebelum Gita kembali mengoceh.
...----------------...
"Vian, sebenarnya apa yang lo rencanakan hari ini?" tanya Gilang. Dia was-was kalau sampai Vian menghancurkan pernikahan kedua Bayu.
__ADS_1
"Nanti lo juga tahu." Vian masih mau merahasiakan dari yang lain.
"Lo tidak akan benar-benar menghancurkan pernikahan Bayu kan?"
"Tentu saja tidak, gue masih punya hati." jelas Vian.
"Syukurlah, gue harap apapun yang lo rencanankan tidak membahayakan semua orang." Harap Gilang.
"Tenang saja, ini hanya akan menjadi tontonan seru yang tidak terlupakan seumur hidup mereka." kata Vian dengan tersenyum jahat.
"Vian, kenapa lo senyum-senyum kayak psikopat begitu. Anak gue takut nih." Tuduh Gita, padahal Aiden senyum-senyum di kata takut sama Vian.
"Emang istri lo ini kadang-kadang ya Lang. Anak senyum-senyum ceria sama gue di kata takut." Vian terfitnah lagi sama Gita.
Gita hanya nyengir, "Udah sarapan dulu gih. Kalau lapar lo suka cari gara-gara. Serem." Gita bergidik sambil berjalan ke meja makan.
"Lo... lo yang cari gara-gara." Emosi Vian mendadak naik.
"Udah.. Berantem saja kalian berdua. Masih pagi juga."
"Istri lo Lang, bikin gue darah tinggi. Baru saja menginap semalam darah tinggi gue melonjak." Omel Vian.
"Udah lo jangan ngomel aja kayak cewek, sekarang lo makan yang banyak kumpulkan tenaga, kuatkan mental lo sebentar lagi mau melihat Anita dandan cantik kan. Gue takut ntar lo nggak kuat pingsan lagi." Ejek Gilang.
"Ini lagi, suami istri sama saja." Vian langsung jalan lebih dulu.
Anita langsung yang sudah menunggu di teras rumah langsung bergegas membuka gerbang saat mendengar mobil berhenti di depan rumahnya.
"Siap?" tanya Gita.
"Siap." katanya sambil masuk ke mobil di sebelah Gita.
"Mata..mata..." Kata Gita saar Vian bengong memandangi Anita. Anita jauh lebih cantik dari waktu mencoba saja.
"Apa sih lo Git, orang mata gue dua-duanya di depan." kilah Vian.
"Ribut aja, jadi jalan nggak nih?" kata Gilang.
"Jadilah sayang, aku kan bekalnya udah bawa banyak masa nggak jadi pergi."
Perjalanan mereka sangat seru, dari berisik sampai adem ayem karena tertidur.
Gita menoleh kearah Anita yang sibuk memainkan tanganya. Wajahnya tegang saat mobil Gilang mulai mendekati tempat pernikahan Anita.
Gita memegang tangan Anita, "Lo jangan cemas, tenang saja ada kita." kata Gita sambil tersenyum.
__ADS_1
"Gue yakin kok lo bisa lewati hari ini, lo pasti kuat. Jangan menunjukan wajah sedih, lemah dan menangis. Jadilah wanita yang kuat, buktikan sama mereka lo bahagia tanpa Kak Bayu." Tambah Gita.
"Makasih ya, lo selalu suport gue." Anita menaruh tangan diatas tangan Gita.
"Jangan sampai nangis, nanti make up lo luntur loh." Kata Gilang yang sejak tadi memperhatian tapi tidak ikut menimbrung.
"Iya, cantik-cantik kok menangis. Ntar cantiknya pindah ke Gita." sahut Vian.
"Maksud lo gue nggak cantik, sampai ambil kecantika orang."
"Emang lo nggak cantik, Gilang aja yang matanya nggak bener bilang lo cantik. Pasti lo pakai guna-guna sampai Gilang tergila-gila." nyinyir Vian yang berakhir mendapat lemparan sepatu Aiden.
"Harusnya gue pisah mereka." Gilang menyesal menjadikan satu mereka.
Mobil Gilang sudah parkir di area pernikahan Bayu. Tak bisa di pungkiri hatinya benar-benar hancur, kedua matanya berkaca-kaca.
Pernikahan yang sangat mewah, lebih mewah daripada miliknya dulu. Namun bukan itu masalah inti terbesar, tapi orang yang menikahlah yang membuatnya tak bisa di terima.
"Harusnya gue tidak disini." Katanya enggan untuk turun.
"Lo harus disini." Kata Vian.
"Vian,jangan paksa Anita turun kalau memang dia tidak mampu." Gilang memegang pundak Vian.
Vian tidak mau Anita menjadi lemah lagi, sehingga dia mau memaksa agar Anita kuat dan menahannya sebentar saja.
"Lo jangan tega banget Vian, Anita kan perempuan hatinya tidak sekuat lo laki-laki. Gue rasa kalau gue di perlakukan seperti ini juga tidak akan kuat." Kata Gita. Dia realistis sebagai perempuan, kalau dia diposisi Anita pun akan sama.
Tuk...tuk...
Raka mengetuk jendela mobil, Gilang dengan cepat membukanya.
"Masuk sekaran atau nanti?" tanya Raka.
"Gimana?" Tanya Gilang.
"Kita jalan duluan saja, biar Anita menata hati dan kuatkan mental. Vian lo jagain Anita, nanti kalau Anita sudah siap baru jalan. Jangan dipaksa." Gita mewanti-wanti.
"Iya, baginda ratu." Jawab Vian sambil menundukan kepalanya.
"Bagus." Kata Gita sambil siap-siap turun.
"Aiden, sini sama papa nak." Gilang menggendong Aiden.
"Anita mana?" tanya Fara.
__ADS_1
"Di mobil, biarin dia persiapakan hatinya dulu. Kita masuk saja dulu." Ajak Gita.
"Ok."