Cewek Gendutku 2

Cewek Gendutku 2
Terlambat


__ADS_3

Jam sudah hampir pukul enam lebih empat puluh menit, namun Aiden dan ketiga sahabatnya masih di dalam angkot.


“Bang, mau gue gantiin nggak nyopirnya?” tanya Luki.


Dia sudah tidak sabar angkotnya berjalan begitu lambat. Padahal mereka harus sampai di sekolah pas jam tujuh kurang lima belas menit itu saja sudah beberanegan dengan bel.


“Sabar, orang kita juga masih sambil cari penumpang,” jawab sopir angkotnya.


“Lah Bang, mau taroh mana? Orang sudah full begini,” protes Ibob.


“Iya benar bang, kita juga sudah mau telat,” sahut orang-orang yang mau masuk kantor juga ketar-ketir.


“Ya, iya,” jawab sopir angkot dengan sedikit kesal mendapat komplain dari para penumpangnya.


Aiden, Luki, Rafa dan Ibob langsung bergegas masuk ke gerbang yang sudah hampir tertutup. Mereka lega masih bisa masuk ke sekolah meskipun terlambat lima menit.


“Kalian buat barisan di sebelah guru,” hadang Kris saat mereka berempat mau masuk ke barisan.


“Lo kenapa?” tanya Ibob.


“Kalian terlambat jadinya nggak bisa masuk ke barisan kelas kalian,” jelas Kris.


“Kakak ketua osis yang terhormat, kita cuma telat lima menit dan belum juga upacaranya dimulai. Kenapa jadi buat barisan sendiri,” protes Luki.


“Kalian jangan membantah, telat ya telat. Sekolah ini ada peraturannya, lima menit pun sangat berharga,” ujar Kris dengan garang.


“Sudah ayo jalan, jangan menganggu orang yang sedang menjalankan tugas,” kata Aiden menggiring teman-temannya yang masih ingin adu mulut dengan sang ketua osis.


“Ai, kita kan harusnya nggak terlambat, lihat mereka saja masih bisa masuk barisan,” Ibob menunjuk beberapa orang yang masuk barisan.


Aiden tahu kalau Kris memang tidak adil, dia sepertinya sengaja ingin mengerjai dirinya beserta sahabatnya. Namun Aiden tidak mau membuat kerusuhan jadi dia diam saja.


“Kemusuhan banget sih ketua osis sama kita dari dulu,” keluh Ibob.


“Itu tandanya kita sangat menarih,” jawab Aiden enteng.


“Iya, pamor dia pasti kalah sama kita. Makanya terus mencari kesalahan kita,” tambah Rafa.


Aiden beberapa kali mengusap keringatnya yang terus bercucuran, upacara kali ini berjalan sangat lama tidak seperti hari-hari biasanya. Tak hanya mereka yang mengeluh sepanjang berjalannya upacara. Tapi juga beberapa orang yang ikut di hukum merasa ini upacara paling lama selama mereka sekolah di situ.


“Ini kenapa lama sekali, gue bisa-bisa pingsan,” keluh Rafa.


“Benar, mata gue sudah kunang-kunang,” Ibob melepas topinya lalu digunakan untuk mengipasi tubuhnya.


“Kalau sampai ada yang pingsan berati lemah,” canda Luki.

__ADS_1


“Lo kebal karena lo sedang sakit hati, panas hari ini tak sepanas hati lo karena di tolak,” kata Rafa.


“Sialan lo,” umpat Luki.


“Nggak usah pada ribut, di sini adem banget lo. Masa di tempat kalian panas,” cetus Aiden.


“Masa?” Ibob nggak percaya.


“Iya, gue kan pinjam awan kintoun milik goku,” celoteh Aiden.


“Nggak percaya gue,” Ibob menyeringai.


“Tukeran tempat kalau nggak percaya.”


Kris geregetan melihat Aiden cs ribut, mereka sudah di hukum namun tidak ada kapoknya. Setelah upacara di bubarkan Kris langsung berlari ke arah Aiden.


“Kalian mau kemana?” katanya.


“Bali ke kelas lah, kan upacara sudah selesai,” jawab Ibob.


“Siapa yang suruh kalian ke kelas, yang boleh bubar itu mereka. Kalian setelah ini pergi ke lapangan bawah. Bersihkan sampah-sampah di sana sampai istirahat pertama,” Kris memberkan hukuman.


“Atas dasar apa lo memberikan hukuman kepada kita, lo kan hanya ketua osis bukan guru bp,” bantah Aiden.


Dia sudah bersabar, namun semakin di diamkan dia semakin ngelunjak.


Mereka berempat pergi ke lapangan bawah masih dengan menenteng tasnya.


“Lo sih Luk, pakai acara begadang semalaman kan jadi di hukum kita,” Ibob menyelahkan Luki.


“Ya maap, tapi kalau kalian tadi nggak lelet juga kita bakalan nggak terlambat,” jawab Luki nggak mau disalahkan sendiri.


“Salahkan saja itu tukang angkotnya, nggak benar tadi bawanya,” Rafa malah menyalahkan tukang angkotnya.


Aiden hanya menikmati perdebatan teman-temannya yang setiap hari di dengarnya. Dia meninggalkan ketiganya saat melihat pohon yang rindang. Aiden melepar tas yang cuma berisi dua sampai tiga buku ke rumput-rumput. Dia langsung mengambil posisi tidur yang sangat nyaman.


“Buset dah Ai, kita lagi ngobrol malah dia sudah bocan di bawah pohon,” omel Ibob yang berjalan menuju Aiden. Dia mau gabung sebelum kehabisan tempat.


“Apaan bocan?” Luki mengerutkan keningnya.


“Bobo cantik, jawabnya sembari merebahkan tubuhnya di samping Aiden.


“Gue juga mau bocan ah,” Rafa bergegas tidur di samping Ibob dan di susul Luki.


Alhasil hukuman kali ini tidak mereka kerjakan, melainkan mereka gunankan untuk melanjutkan tidur mereka.

__ADS_1


*****


Kyra menoleh ke meja Aiden yang masih kosong, padahal sudah mau mulai pelajarannya.


“Mereka nggak sekolah?” tanya Kyra. Dia mulai peduli dengan Aiden.


“Sekolah, kayaknya terlambat soalnya dia masuk ke barisan sebelah guru,” jawab Dinda.


“O,” Kyra ngangguk-ngangguk.


“Kenapa, kayaknya lo sekarang peduli banget mereka datang atau nggak,” goda Dinda.


“Siapa juga yang peduli, kan gue cuma tanya doang.”


“Gue mau cek ah, mereka pasti sedang kena hukuman,” Dinda beranjak dari kursinya.


“Dinda, lo mau kemana?”


“Nyamperin mereka,” jawabnya sambil menoleh.


“Pelajaran sudah mau di mulai loh,” Kyra mengingatkan.


“Sudah tahu, gue mau beliin mereka minum dulu. Kasihan past haus karena sedang di hukum.”


Kyra menghela napas, kenapa Dinda bisa memilih memperhatikan orang lain dari pada dirinya sendiri. Dia bisa kena marah terlebih lagi ketinggalan pelajaran pastinya.


“Cari masalah saja sih tu bocah.”


Kyra ingin sekali melihat Aiden dan teman-temannya, namun dia terlalu takut untuk meninggalkan pelajaran. Apalagi kalau sampai orang tuannya tahu, bisa-bisa dia di kurung tidak boleh main.


“Hah,” dengus Kyra saat dirinya tiba-tiba berdiri. Dia tidak bisa fokus karena ingin ikut pergi dengan Dinda.


Kyra meminta izin kepada ketua kelas untuk ke toilet, dia hanya ingin melihat sebentar Aiden lalu balik lagi.


“Dinda,” panggil Kyra sambil berlari mendekati Dinda. Ia membantu membawakan air mineral dingin yang berjumlah lima.


“Lo mau ke mana?” tanya Dinda.


“Mau temani lo,” jawabnya mengambil dua botol dari tangan Dinda.


“Temani gue atau mau lihat Kak Ai,” godanya.


Kyra mendengus dan memutar arah tubuhnya, dia tidak jadi pergi menemui Aiden karena kesal terus di godain sama Dinda.


“Eh, mau ke mana?”

__ADS_1


“Balik, kesel gue sama lo,” Kyra manyun.


“Iya,iya sorry. Ayo kita buruan ke lapangan belakang sebelum ketahuan,” ajak Dinda bergegas ke lapangan.


__ADS_2