
Kyra menatap layar ponselnya, dia hanya menjawab seadanya yang di katakan sama Kris.
...Kyra...
...Makasih ya tadi sudah gendong gue ke UKS, makasih juga jajanannya. Gue nggak berat kan?...
...Aiden...
...Lumayan, hehe...
...Kyra...
...Sorry, pasti berat ya...
...Aiden...
...Tenang saja, cuma sampai uks ini sampai pelaminan saja gue jabanin tahu...
...Kyra...
...Ngapain ke pelaminan, kondangan?...
...Aiden...
...Kok kondangan, ya jadi tokoh utamanya lah...
...Kyra...
...Gombal...
Bibir Kyla langusng tersenyum lebar membaca gombalan dari Aiden. Bisa-bisanya dia gombal seperti itu padahal belum ada kata jadian. Teman spesial saja tidak pernah terucap darinya.
“Ada yang lucu ya, sampai lo tertawa lebar seperti itu?” Kris melirik sebentar lalu menatap lurus fokus menyetir.
“Lumayan. Kartun litle krisna kan lucu banget,” ujarnya ngarang.
“Lo suka nonton kartun?” ujarnya kembali melirik.
“Lumayan, buat refresing saja.” Kyra menjawab dengan sembarangan. Yang penting jawab aja daripada dianggap tidak menghargai.
“Gue dengar-dengar nilai lo turun ya?” Lirik Kris.
Pertanyaan Kris langsung membuat Kyra muram, kepalanya langsung pusing ketika mulai membahas soal nilai.
“Nggak, nilai gue stabil kok,” jawab Kyra dengan nada yang sedikit meninggi.
“Tapi lo tidak di peringkat satu lagi kan, berati lo belajarnya kurang giat. Dan lo juga harus jauh-jauh dari teman lo yang tidak menunjang nilai lo lebih baik,” celoteh Kris. Dia terus berusaha untuk menjauhkan Kyra dari Aiden dkk.
__ADS_1
“Maksud lo teman-teman gue yang mana?" Kyra menatap tidak suka.
“Ya mendingan lo jauhin itu Dinda, dan gerombolannya. Mereka itu tidak menunjang nilai lo lebih baik, malah bikin lo turun. Mereka itu nggak ada prestasi. Nggak selevel sama lo,” ucapnya merendahkan teman-temannya.
“Lalu siapa yang bisa menunjang nilai gue, lo gitu?” Kyra tertawa pahit.
“Tentu saja, gue lebih berkelas dari mereka. Nilai gue selama ini tidak pernah turun. Bahkan mencapai sempurna,” katanya dengan pede dan angkuh.
“Sombong,” gumam Kyra pelan sembari menggelengkan kepala. Bisa-bisanya ada orang yang terang-terangan membanggakan dirinya sendiri.
“Jangan terlalu membanggakan diri kak, gue pernah baca pepatah kalau masih ada langit di atas langit,” ucap Kyra yang menyindir Kris.
“Gue tahu, tapi pada kenyataannya belum ada yang bisa mengalahkan gue. Bahkan gue tanpa tes sudah mendapatkan beasiswa ke luar negeri setelah lulus. Apa lo masih meragukan gue?” masih saja membanggakan dirinya. Dia sama sekali tidak tersinggung.
Perdebatan makin seru di mobil, Kyra dengan pendapatnya dan Kris dengan kesombongannya. Kyra tidak mau menjawabnya lagi, karena dia memang meragukan Kris.
Kyra turun dari mobil, matanya membulat saat mamanya sedang duduk santai di teras rumahnya.
“Loh mama kok dirumah?” tanya Kyra heran.
“Ya memang di rumah. Kenapa memangnya?” jawabnya santai dengan memainkan ponselnya.
“Kata Kak Kris mama ada rapat jadi ngga bisa jemput." Kyra menoleh kearah Kris yang baru keluar dari mobilnya.
“Nggak ada, mama cuma lagi capek jadi minta tolong Kris. Toh dia juga nggak keberatan jadi mama bisa sedikit santai."
“Ma, kan Kyra bisa pulang sendiri kenapa harus merepotkan orang lain sih,” Kyra kesal dia merasa dibohongi sama Kris dan mamanya.
“Tante Selfi melakukan semua ini demi kamu Ky, jadi kamu harusnya berterima kasih memiliki mama yang sayang sama lo.” Kris mencium tangan Selfi.
“Dengarkan kata Kris, dia saja paham sama apa yang dilakukan mama. Masa kamu yang anaknya nggak ngerti," Selfi terus saja membela Kris.
Kris tersenyum senang karena mendapatkan pujian. “Tante, katanya nilai Kyra menurun ya?” tanya Kris.
“Iya, nilainya menurun drastis. Les dan belajar ketat saja masih saja ketinggalan kalau tidak," Omelnya. Kyra hanya bisa mendengus mendengar obrolan-obrolan yang membuatnya pusing.
“Kalau menurut Kris sih, ini pengaruh dari teman-teman Kyra. Lebih baik lo buru-buru jauhin teman-teman lo itu,” kata Kris dengan sengaja ngobrol di depan Selfi biar dibantu ngomong sama Kyra.
“Betul itu, sepertinya teman seperti kamu sudah cukup. Teman yang bisa membantu masa depannya cerah. Bukan kaya mereka, hidup semaunya. Kyra kamu pindah tempat duduk. Biar mama bilang sama Bu Intan.” Dan Selfi pun menerima sarannya. Dan memang Selfi selalu menuruti apa yang dikatakan oleh Kris.
“Nggak usah hasut mama Kak, teman-teman gue itu baik, dan suport gue. Jangan harap bisa menjadikan gue seperti lo, yang nggak punya sahabat. Dan gini jadinya, obsesi sama urusan orang!” kata Kyra ketus.
“Kira kamu kalau ngomong dijaga!” bentak mamanya. "Nggak sopan kamu mengatakan seperti itu."
"Apa Kak Kris juga sopan sama teman-teman Kyra?"
"Kamu tuh ya di kasih tahu ngeyel saja."
__ADS_1
“Ma, sebenarnya yang anak mama itu Kyra tahu Kak Kris. Kalau mau kita tukaran anak sama sama mamanya. Sama anak sendiri kok nggak percaya,” sewot Kyra.
Kira benar-benar kecewa dengan mamanya, bisa-bisanya dia tidak memberikan kepercayaan kepada Kyra.
“Tante, tahu nggak siapa yang peringkat satu sekarang?” tanya Kris.
“Tante belum tanya, sudah keburu emosi sama Kyra.” jawabnya.
“Tante, Kris bisa usahakan Kyra menjadi peringkat pertama terus kalau tante mau,” Kris menawarkan bantuan kepada Selfi.
“Gimana caranya?" Selfi semangat mendengarnya. Itulah yang dimimpi-mimpikan selama ini. Kyra menduduki peringkat pertama sampai lulus nanti.
“Tante cari tahu dulu siapa peringkat pertama sekarang, nanti biar Kris yang menyingkirkannya. Biar Kyra bisa tetap berjalan mulus,” kata Kris.
“Nanti tante tanya sama Bu Intan," kata Selfi.
“Tapi itu nggak gratis tante,” Kris tidak mau usahanya itu tanpa bayaran.
“Kamu mau apa?” tanya Selfi. Dia akan memberikan apapun yang diminta Kris yang penting anaknya juara satu dan mendapatkan beasiswa ke luar negeri.
“Kalau sudah berhasil, tante Selfi buat saya dan Kyra jadian. Saya mau menjadi pacar Kyra." Kris menggunakan kesempatan emas ini. Kapan lagi dia bisa meminta dengan mudah.
"Pacar?" Selfi mengerutkan kening. Dia pikir Kris mau meminta uang, mobil atau barang-barang berharga lainya. Ternyata dia hanya mau menjadi kekasihnya Kyra.
"Iya tante, saya suka sama Kyra sejak pertama ketemu. Semenjak Kyra masuk sekolah," ucapnya. Kris sudah tergila-gila sejak melihatnya sampai dia merekrut Kyra di anggota osis.
Selfi terdiam, dia tidak mengingikan anaknya pacaran saat ini. Pacaran hanya akan mempengaruhi nilainya.
"Kamu boleh minta yang lain, soalnya tante tidak suka Kyra pacaran. Itu membuang waktu dan mempengaruhi nilai Kyra."
"Memangnya tante masih meragukan Kris, bahkan Kris sejak sd selalu juara. Nilai Kris juga tidak pernah turun," Kris membangakan dirinya sendiri.
Selfi terdiam, ini adalah pilihan yang sangat sulit.
"Baiklah, tante akan menjadikan pacar Kyra tapi dengan syarat Kyra mendapatkan nilai sempurna dan menduduki peringkat pertama semester ini,"
"Tenang saja tante, jangan cemas. Saya dan Kyra akan berjalan bersama ke Singapur." ujar Kris.
"Baiklah."
Kris senang bekerja sama dengan mama Kyra. Tak perlu banyak tenaga untuk menaklukannya.
"Tapi pasti berhasilkan?"
"Pasti tante, Kris janji kalau sampai nggak berhasil Kris bakalan jauh-jauh dari kehidupan Kyra." ucapnya. Kris terlalu yakin dengab ide yang akan di lakukannya.
"Ah iya tante baru ingat, kemarin tante kan sudah ke sekolah menanyakan peringkat pertamanya."
__ADS_1
"Siapa tante?" Kris penasaran.
"Aiden, teman sekelas Kyra yang miskin itu," jelas Selfi.