
"Ai!" panggil Ibob sembari melambaikan tangannya.
Ai melambaikan tangan lalu berlari mendekati Ibob, Luki dan Rafa.
"Ngapain lo di pojokan sana Ai, lo merokok ya?" Tanya Rafa.
"Kagak, gue tadi parkir disitu tapi disuruh pindah." Aiden menunjuk tempat parkir awalnya.
"Siapa yang berani menyuru lo pindah?" Luki langsung tak senang mendengar ada yang menindas sahabatnya.
"Udahlah ngak perlu di bahas lagi, buruan ke kelas aja." ajak Aiden.
Aiden tidak mau membuat teman-temannya tersulut emosi.
Mereka berjalan dengan bergurau menuju kelasnya, tiba-tiba Ibob menarik tangan Aiden berhenti di tepat salah satu kelas.
“Ada apa sih Bob?”
“Lihat itukan cewek yang kemarin di taman, gebetan sih Rafa.” Ibob menunjuk cewek yang sedang berdiri di depan papan tulis.
“Fa..” panggil Aiden setelah ia melihat dengan jelas cewek yang di maksudkan oleh Ibob.
Rafa menoleh, ia membalikan badan lalu nyamperin Aiden dan Ibob yang lumayan agak jauh.
“Apa?” ujarnya. Luki hanya menghela napas karena harus kembali lagi ke belakang yang akan membuat semakin lama menuju kelasnya.
“Lihat itukan cewek yang lo suka.” Kata Aiden.
“Mana?” Luki ikut kepo.
Wajah Rafa berubah memerah, ia mengusap tengkuknya tiba-tiba saja menjadi malu. Apalagi kejadian semalam membuatnya seperti tidak punya muka ketemu si cewek.
“Dahlah yuk balik,” ajak Rafa.
__ADS_1
“Lo..lo.. Kok balik. Nggak samperin dulu saja. Sudah depan mata loh ajak kemana begitu nanti pulang sekolah.” kata Ibob.
“Betul itu kata Ibob, buruan nanti diambil orang nangis.” ejek Aiden.
“Diam kalian, semua ini juga ulah kalian semalam. Gue malu tahu,” Rafa beranjak pergi dari pinggir pintu yang beberapa menit lalu menghalangi orang yang akan keluar atau masuk ke kelas.
“Masa begitu malu, itu justru membuat lo kenal cepat dekat sama dia.” Luki merangkul Rafa.
“Sila.” panggil Aiden yang seketika membuat Rafa menoleh. Wajahnya berubah panik, sedangkan Aiden dan Ibob yang masih di depan pintu cengenegsan.
“Iya.” jawab Sila sembari berjalan mendekati Aiden dan Ibob.
“Masih ingat sama kita nggak?” tanya Ibob.
“Yang waktu di taman kemarin kan?” ujarnya malu-malu. “Ada apa?”
“Rafa mau ajak jalan lo nanri habis pulang sekolah.” kata Aiden tanpa bertanya dulu dengan Rafa.
“Ai..” Rafa mendekati Aiden.
“Tunggu!” teriak Rafa.
“Apa lagi ini, kenapa semakin jauh saja dari kelas.” keluh Luki yang sudah ingin menyandarkan tubuhn ya di meja kelas. Dia ingin sekali tidur di kelas setelah semalam begadang lagi. Namun apalah daya ketiga sahabatnya itu yang masih full baterai dan mengajak lari kesana kesini pagi ini.
Alhasil mereka saling berkejaran, dan tidak sengaja Ibob menabrak seseorang yang membuat orang itu hampir terjatuh.
“Shiit!” umpatnya kesal.
“Maaf..maaf nggak sengaja.” Ibob mendekati orang yang sudah di tabraknya.
“Kalau jalan bisa pakai mata nggak sih, jalan seluas ini masih nabrak orang. Atau mata lo buta,” ujarnya kasal tidak terima di tabrak Ibob.
“Maaf Kak Dimas, teman gue nggak sengaja lagian kan cuma lengannya saja yang kesenggol dan nggak jatuh. Nggak ada luka kan?” kata Aiden sembari melihat name tak yang ada kiri baju yang di pakai kakak kelasnya.
__ADS_1
“Apa lo bilang, cuma kesenggol lengannya saja. Kalau Dimas jatuh terus kepalanya kena lantai berdarah bagaimana?” temannya masih saja tidak terima.
“Kan belum jatuh,”
Dimas memperhatikan Aiden, ia maju lalu mendorong pelan Aiden.“Heh..Lo anak yang pakai motor butut tadi kan?”
“Benar Dim, dia yang tadi parkir sembarangan itu.”
"Parkir sembaranga? Gue parkir benar kok."
"Benar kata lo.. Heh.. Motor butut lo itu nggak selevel sama motor-motor disini. Sadar diri deh, gue ra lo masuk sini karena beasiswa kan." Kata Revan teman Dimas.
"Maksud lo ngatain sahabat gue apa? Lo mau ribut?" Luki maju mendekati Revan hingga berjarak beberapa centi saja.
"Memangnya yang gue katakan salah?" Revan tak mau kalah.
"Luk..Luki sudah." Aiden menarik mundur Luki agar tidak berantem.
"Lo anak baru jangan sok-sokan, Dimas bisa memgeluarkan kalian kalau lo pada banyak tingkah." Revan membanggakan Dimas yang bapaknya itu pemilik sekolahan ini.
"Memang bapaknya dia siapa presiden?"
"Wah makin kurang ajar nih bocah. Revan kasih tahu mereka." suruh Dimas.
"Bokapnya pemilik sekolahan ini, jadi kalian jangan macam-macam."
"Maafkan teman gue kak, mereka nggak bermaksud seperti itu." kata Aiden tak ingin memperpajang masalah.
"Kalau begitu kita permisi dulu." Aiden mengajak ketiga sahabatnya segera kabur dari tempat itu.
"Oi! Gue belum selesai ngomong. Balik!" teriak Dimas.
Aiden tidak membiarkan teman-temanya memenuhi permintaan Dimas. Dia meminta agar terus berjalan ke kelas saja.
__ADS_1
"Sialan, awas kalian!" ancam Dimas.