
"Hai kak Daniel!" Meri mengunjungi restoran Daniel siang itu. ia di temani asistennya yang mendorong kursi roda Meri.
"Hai Meri, kau kemari? kenapa tidak memberitahu dulu?" Daniel berjalan menghampiri Meri seraya mengusap rambut Meri.
"Kau terlihat sangat cantik hari ini" puji Daniel. Ia selalu memperlakukan Meri bak anak kecil karena itu gadis itu tidak pernah tahu perasaan Daniel yang sesungguhnya.
"Aku ingin memberi kejutan pada kakak" kata Meri dengan senyum sumringah.
"Baiklah aku sudah terkejut, ayo kita ke samping" Daniel mendorong kursi roda Meri dan membawanya ke samping dapur. disana adalah spot kesukaan Meri karena ada taman kecil dan bangku kayu berwarna putih.
"Kakak kau terlihat semakin tampan"
"Benarkah? apa kau menyukai ku sekarang?"
"Belum..."
"Oh sayang sekali"
Meri tertawa senang ia terhibur jika bersama Daniel. mereka selalu bercanda dan akrab. Meri tidak merasa canggung sebaliknya ia sangat nyaman bersama Daniel.
"Apa kak Lizard mu itu tahu kau kemari?"
"Tidak kak Lizard sedang sibuk dengan pekerjaannya dan juga Lily"
"Ah benar juga, si brengsek itu selalu sibuk akhir-akhir ini bahkan ia menolak minum dengan ku"
"Kakak jangan macam-macam kak Lizard belum boleh minum ia masih meminum obat dari rumah sakit"
"Iya baik aku mengerti Meri sayang" Meri kembali tertawa mendengar Daniel memanggilnya sayang.
"Oh ya aku punya sesuatu untuk Kak Daniel" Meri menyerahkan sebuah kotak kecil berhias pita.
__ADS_1
"Apa ini? aku merasa nervous membukanya"
"Hahaha cepat bukalah"
Daniel membuka kotak kecil itu yang ternyata isinya adalah Harmonika.
"Harmonika? kau memberiku benda ini? hei Meri aku ini chef seharusnya kau memberiku spatula bukan harmonika"
"Hahaha sudah jangan bergurau terus, aku tahu kak Daniel pintar memainkannya"
"Baiklah kapan-kapan aku akan memainkan sebuah nada untuk mu"
"Sekarang saja"
"Tidak bisa aku harus berlatih dulu, aku sudah lama tidak memainkannya jadi sedikit lupa"
"Baiklah, aku menunggu kak Daniel menepati janji"
Daniel mengangguk sembari mengusap rambut bergelombang Meri. gadis itu cantik sekali memiliki bola mata berwarna biru seperti Lizard. rambutnya kecoklatan hidung panjang dan seulas bibir tipis yang menyenangkan. Daniel terhipnotis melihat Meri siang itu.
tuk tuk...
Tim memberanikan diri mengetuk pintu kamar Lizard pagi itu. Lily sudah terlihat rapi karena ia akan pergi ke rumah sakit.
"Hai Tim sepagi ini?" tanya Lily begitu membuka pintu.
"Maaf dokter saya lancang, beberapa kali saya menelpon tuan Lizard tapi tidak ada jawaban"
"Baiklah Lizard sedang mandi, kau bisa menunggunya sebentar?"
"Baik saya akan menunggu tuan Lizard di ruang kerjanya saja"
__ADS_1
Lizard keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya.
"Tim sudah datang dia menunggu di ruang kerja" kata Lily sembari mengeringkan rambut Lizard.
Sepagi ini Tim kemari, ada apa?
Lizard bergegas mengenakan stelan jasnya dan berjalan cepat menuju ruangan kerjanya di lantai dua.
"Tim ada apa?"
"Tuan saya punya informasi penting"
"Tentang apa?"
"Jerry"
"Jerry siapa?" Lizard mencoba mengingat pemilik nama yang Tim sebutkan tadi tapi nihil ia tidak ingat siapa Jerry.
"Tuan anda kenapa bisa lupa dengan hal sepenting ini? ini dia apakah anda mengenali wajahnya?" Tim menunjukan layar ponselnya pada Lizard. sebuah foto terpampang disana.
"Jerry, kenapa dengannya?"
"Apa anda sudah mengingatnya?"
"Iya dia temanku berlatih samurai, ia cukup mahir meski tidak semahir diriku"
Tuan ini bukan saatnya anda menyombongkan diri!
"Tunggu sebentar aku ingat dia juga jadi mafia sepertiku, ia punya beberapa bisnis ilegal yang cukup besar"
"Benar sekali tuan, anak buahnya juga banyak dan yang anda harus tahu Jerry adalah kakak kandung Nicolas"
__ADS_1
Lizard terkejut dan memandang Tim. lalu ia kembali terlihat biasa saja.
"Jadi Jerry kakak kandung Nicolas? menarik sekali.... sangat menarik...sepertinya kita harus mempersiapkan diri untuk menyambut musuh kita yang baru" kata Lizard sembari berdiri gagah penuh percaya diri.