
Vegas turun dari mobil yang di kendarai oleh Kinn. ia mengamati sekelilinya memastikan Sidney tidak dengan tiba-tiba menerkamnya. Firasat Vegas mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dengan pernikahannya.
"Kinn pulanglah" kata Vegas datar. Kinn tidak curiga apapun karena sejak tadi Vegas tidak bercerita permasalahan rumah tangganya pada Kinn.
"Baik tuan, jika anda perlu sesuatu silahkan telepon saya"
"Hmm..."
Vegas mematikan rokoknya dan mengendap berjalan ke samping masion. Disana ada ruang bawah tanah tempat Vegas menyimpan senpi dengan berbagai tipe dan ukuran lengkap dengan amunisinya. Ia meraih sebuah senpi pendek dan mengisi peluru didalamnya. Dengan senyum jahil Vegas berjalan keluar dari ruang bawah tanah menuju ruang utama mansion miliknya.
"Hai sayang, kau tepat waktu" kata Sidney yang menyambut dengan senyuman. Di tangannya ada nampan berisi kudapan. Sidney terlihat natural dengan kesibukannya menyiapkan makan malam hingga membuat Vegas pensaran. Vegas mengecup bibir istrinya lalu duduk di kursi. Ia mengamati makanan yang tersaji. Sungguh lezat dan menggugah selera.
Sebotol anggur tua tampak di depan mereka. Sidney terus menatap Vegas dari tempatnya duduk. Ia memamerkan senyum manisnya. Sementara Vegas mengunyah potongan kecil steak dan dengan susah payah menelannya. Ia mengendurkan dasinya membalas pandangan Sidney yang duduk di ujung meja.
__ADS_1
"Apa masakanku enak?" tanya Sidney basa basi memecah keheningan yang canggung dan membuat satu sama lain menebak isi kepalaasing-masing.
"Tentu saja sayang, selama tiga tahun aku tidak pernah kecewa dengan masakanmu" kata Vegas sembari memotong kecil daging dan menyuapkan ke mulutnya.
Semoga saja makanan ini tidak di racun olehnya!
Tatapan keduanya berubah kian tajam satu sama lain. Sidney meraba pisau yang menempel di pahanya. Sementara Vegas ia juga meraba senpi di pinggangnya.
"Dokter Vegas Van Camont, kenapa kau tidak menghabiskan makan malammu sayang?"
Vegas menodongkan senpi ke arah Sidney sementara wanita itu melemparkan pisau tajam tepat ke arah wajah Vegas. Pria itu berhasil menghindar hingga pisau menancap di jam dinding menyebabkan benda itu hancur berkeping dan kaca berserakan di lantai.
Sidney terus mengejar Vegas yang bersembunyi di balik dinding karena menghindari serangan Sidney sekaligus mengendalikan dirinya karena ia tidak mjngkin melawan istrinya. Vegas tidak tega dengan wanita.
__ADS_1
"Ayo sayang ku Van Camont! Kenapa kau bersembunyi seperti wanita?!" Sidney mengendap mengantisipasi jika sewaktu waktu Vegas membidikan senpi ke arahnya.
Vegas tersenyum mendengar Sidney yang mengejek dirinya. Ia muncul menarik lengan Sidney serta membekap wajah Sidney. Vegas menyeret istrinya di lantai. Ia menembakan pistolnya ke arah perabotan hingga pecah berserakan. Sidney dalam kondisi terjepit ia meraih pisaunya di paha kiri dan berniat menancapkannya di leher Vegas tapi meleset. Pria itu sangat pandai berkelit dan menghindari serangan Sidney.
Sidney berbalik ia menantang Vegas dengan tangan kosong karena sudah tidak memegang senjata sama sekalai. Matanya berkaca-kaca cemas jika Vegas menembaknya dengan brutal.
"Ayo tembak aku Vegas! tembak!! Kau pikir aku pecundang yang takut pada mu?!"
Jemari Vegas berada di pelatuk pistol. Sedikit bergerak maka semua akan hancur termasuk Sidney.
"Ayo tembak!! Kau tunggu apa Vegas?!" Pipi Sidney terluka dan berdarah. Vegas memandang Sidney dengan cinta. Ia meletakkan pistolnya di lantai.
Vegas menarik tubuh Sidney kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Maafkan aku" bisik Vegas yang berhasil membuat air mata Sidney menetes. Selama ini Sidney selalu garang menghadapi musuhnya tapi kali ini ia cukup terguncang karena ternyata musuhnya adalah Vegas, suaminya sendiri yang sudah membuatnya menyandang nama Van Camont selama tiga tahun.