
Di bar ruang bawah tanahnya Lizard duduk seorang diri. ia sedang menikmati rokok dan sejenak memanjakan diri. Lily tidak suka bau rokok, ia juga tidak suka bau minuman.
Lizard mengepulkan asap rokoknya dengan nikmat. ia mengingat pertemuannya dengan Lily, lalu istrinya itu pula yang membawanya bertemu Nicolas.
Sampai sekarang sepertinya permusuhan Lizard dengan Nicolas tidak akan berakhir meski Nicolas sudah pergi selamanya ada kakaknya yang siap membalas dendam.
Jerry bukan musuh yang bisa Lizard sepelekan seperti yang lain. Jerry adalah orang yang licik, Lizard mengingat saat keduanya masih berada di Jepang. Jerry sudah terlihat begitu ingin menyaingi dirinya.
Sekarang aku akan lihat sejauh mana kau bisa menyamai ku Jerry!
Lizard meraih gelas dan menyesap minumannya. ia mengendurkan dasinya dan melepas jasnya. kemeja hitam yang di kenakan masih terlihat rapi dan aroma parfum menguar tercium dari kemejanya.
Lizard selalu suka menyemprotkan parfum mahal ke kemejanya bukan jas. karena jika di semprot ke jas itu akan merusak kain jas dan meninggalkan aroma yang lebih lama meski sudah di laundry.
Malam sudah semakin larut tapi Lizard masih berada di ruangan favoritnya. ia terlentang merebahkan dirinya di sofa besar di samping bar mininya.
Suara langkah kaki terdengar halus mendekat ke arahnya. Lizard tersenyum samar sembari memejamkan matanya.
"Kau disini? ini sudah malam kenapa tidak beristirahat ke kamar?". Lily memegang lembut tangan Lizard. ia melirik asbak dan gelas minuman di atas meja lalu mendengus kesal.
Dia masih saja merokok dan minum, lihat sudah berapa batang rokok yang di habiskan nya tadi ....
Lizard meraih tangan Lily dan menariknya hingga Lily terjatuh di atas tubuh Lizard.
"Mau kemana?" gumam Lizard di telinga Lily yang membuat geli.
"Mau kembali ke kamar" Lily kesal karena mencium aroma minuman dari bibir Lizard.
__ADS_1
"Tunggu sebentar Lily" kata Lizard sembari memeluk Lily dengan erat.
"Lizard apa hari ini kau meminum obat mu?"
"Emmmm tidak, aku sudah sembuh"
"Aku sudah menduganya"
Lily mengamati wajah tampan Lizard yang memejamkan mata nya. jambangnya mulai tumbuh di sekitar rahang Lizard. kening Lizard sedikit berkerut tanda kelelahan dan banyak pikiran.
Kau pasti banyak sekali pikiran, pekerjaan, musuh yang ada dimana-mana, kau pikirkan aku dan anak-anak lalu keluargamu dan adik kesayanganmu Meri yang belum menikah juga ....
"Lizard ...."
"Hmmm..."
"Pertanyaan apa itu? aku tidak mengerti"
"Maksudku apa kau tidak pernah berpikir kalau Meri menyukai Tim?"
Lizard membuka matanya dan memandang wajah Lily yang tepat berada di depan wajahnya.
"Itu tidak mungkin Lily, lagi pula Tim sudah ada wanita yang ia sukai"
"Kau tidak pernah mencoba menjodohkan mereka sebelumnya?"
"Untuk apa? Memangnya aku kurang kerjaan mengurusi perjodohan seperti itu?"
__ADS_1
"Tapi...."
"Sudahlah, Meri sudah dewasa ia bisa memilih pasangannya sendiri yang mau menerima apa adanya" wajah Lizard sejenak terlihat sedih dan menghindari tatapan Lily mengingat kondisi adiknya.
"Aku minta maaf karena lancang membicarakan soal Meri" kata Lily merasa bersalah.
"Tidak apa kau juga kakaknya, Pasti kau menginginkan yang terbaik untuk nya"
"Hmm kau benar Lizard" Lily menyandarkan wajahnya di dada bidang Lizard yang masih terbaring di sofa.
"Bagaimana dengan Eric?"
"Eric? Kau memintaku memikirkan Eric? yang benar saja Lily"
"Tapi Eric juga sangat menyayangimu Lizard meski ia tidak menunjukannya"
"Aku tahu, tapi dia pria dewasa biarkan saja dia memikirkan dirinya sendiri kenapa aku harus repot?!"
"Baiklah cukup pembahasan ini kita ke kamar saja" Lizard bangun sembari mengangkat tubuh Lily yang berada di atasnya.
"Aku suka mata biru mu Lizard" Lily memegang lembut wajah Lizard dengan kedua telapak tangannya. Ia duduk di pangkuan Lizard memandangi wajah suaminya sepuasnya.
"Selain mataku apa lagi yang kau suka dariku?'
"Emmm tidak ada"
"Benarkah? Kalau begitu aku akan membuatmu mengatakan jika kau menyukai semua yang ada pada diriku!"
__ADS_1