
Di ruang Laboratorium Penelitian Forensik, Divisi Kriminal Institusi Kepolisian Pusat Amsterdam.
Dokter Vegas terlihat berdiri mengamati sebuah jasad seorang pria bertato. ia sudah tahu jika pria itu pastilah seorang gangster. tapi sayang penyidikan belum bisa di lanjutkan karena jasad itu tidak di ketahui identitasnya.
Dokter Vegas mengenakan sarung tangan medis, ia menyentuh wajah jasad pria di hadapannya. ia melakukan pemeriksaan gigi.
"Pastilah pelakunya seorang profesional" gumamnya.
Pelaku menghilangkan barang bukti dan melenyapkan identitas jasad itu dengan membakar semua jemari serta mengikir gigi si jasad .
petugas forensik mengalami kesulitan dalam identifikasi. dokter Vegas menerima laporan dari anak buahnya, ia membacanya dengan seksama lalu kembali melihat kondisi si jasad.
Sebuah luka sayatan yang terlihat rapi memanjang dari area dada hingga perut. dokter Vegas mengamati sayatan itu. ia sedikit meraba bekas luka pembedahan, keningnya berkerut. ada sesuatu yang tidak beres dengan jasad itu. dokter Vegas mendekatkan telinganya pada luka di perut jasad si gangster. samar ia mendengar bunyi detik halus.
"Semua keluar dari ruang laboratorium!" perintahnya pada empat orang petugas forensik yang sedang berada di ruang laboratorium termasuk Amara. hari itu ia ikut ke ruangan laboratorium forensik untuk melengkapi laporan tugas akhir yang sedang ia susun.
"Ada apa dokter?" Amara yang penasaran bersuara dari balik masker yang ia kenakan. dokter Vegas tidak menjawab ia berjalan keluar ruangan di ikuti keempat orang anak buahnya.
__ADS_1
"Sementara ini jangan ada yang memasuki ruang laboratorium tanpa perintah dariku! kalian mengerti?!" Vegas terlihat tegas dan berbeda.
"Mengerti dokter!" jawab keempat petugas forensik secara bersamaan termasuk Amara.
Meski pikirannya di penuhi pertanyaan tapi Amara mencoba mengendalikan diri untuk tidak banyak bertanya dulu pada dokter Vegas. ia bisa melihat kepanikan yang terpancar dari wajah Vegas.
Vegas meraih gagang telepon dan menelpon kepala polisi. ia ingin bertemu dan berbicara penting tentang kiriman jasad yang baru saja di terima pihak forensik. Vegas ingin tahu dari mana jasad itu di temukan, siapa yang langsung meletakkannya di ruang laboratorium dan Vegas memerlukan pakaian lengkap si jasad sebelum berada di ruang laborat.
Di tengah kecemasannya Vegas mencoba tenang, ia sedang berpikir benda apa yang di masukkan ke tubuh jasad itu. karena pelakunya benar-benar orang yang ahli ia bisa tahu cara menghilangkan barang bukti dan membuat tim forensik kerepotan dalam melakukan indentifikasi.
Roma, Italia...
Reyzard berdiri di sudut gedung lantai empat. ia mengenakan sarung tangan berwarna hitam. matanya nyalang tajam memandang sasaran tembak yang berada jauh darinya.
Senapan Laras panjang ada di depan matanya. jemarinya bersiap meraih pelatuk dan melenyapkan korbannya.
Sho berdiri tidak jauh dari Reyzard. ia menggenggam senjata dalam ukuran lebih kecil. mengantisipasi jika ada pengganggu yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
Dor!!
Sekali bidik senjata itu benar-benar mengeluarkan tiga amunisi, suara halus nyaris tidak terdengar di keramaian di bawah sana. di jarak satu setengah kilo meter di bawah gedung suasana menjadi kacau karena seorang pria terkapar bersimbah darah dengan luka tembak.
Orang-orang mengedarkan pandangan mereka kesekeliling mencari siapa yang menggunakan senapan untuk menembak pria itu. tapi percuma si penembak berdiri di atas ketinggian lantai empat sebuah gedung di pusat kota Roma.
"Baiklah urusanku selesai Sho, aku ingin pulang ke Amsterdam" kata Reyzard sembari berjalan melepas sarung tangan hitam yang di kenakannya.
Sho mengangguk, ia segera memesan tiket penerbangan menuju Amsterdam malam itu juga. penerbangan akan memakan waktu selama 2 jam 33 menit untuk tiba di Amsterdam.
Reyzard dan Sho segera kembali ke hotel mengemasi barang bawaan mereka. Reyzard meraih ponselnya ia menelpon Amara tapi tidak di jawab. Reyzard beralih menelpon Vegas tapi juga tidak ada jawaban.
"Sho kenapa Vegas tidak bisa di hubungi?" Reyzard terlihat kesal. sebenarnya ia lebih kesal karena Amara tidak menjawab teleponnya.
"Mungkin dokter Vegas sedang sibuk tuan"
"Ah benar juga..." Reyzard merasa sedikit tidak enak. ia tiba-tiba saja terpikir soal Vegas dan VC hospital.
__ADS_1