
Maxime dan tuan Vegas duduk bersama di ruang tamu rumah tuan Vegas. keduanya sedang membahas hilangnya Celine putri kesayangan tuan Vegas. nyonya Emma sejak kemarin terlihat cemas hingga tidak nafsu makan karena Celine menghilang.
Sebenarnya Maxime dan tuan Vegas juga sudah tahu jika River Vanares melaporkan VC hospital atas tindak kriminal mal praktik yang menimpa adiknya.
Tuan Vegas menghela napas berat, ia ingin tahu orang seperti apa yang berani menculik putrinya dan bahkan menuntut VC hospital ke jalur hukum.
"Max paman tidak mengerti kenapa kau biarkan orang seperti ini menindas kita?! bahkan dia berani sekali menculik Celine!"
"Paman kita tidak ada bukti jika River yang menculik Celine, dan mengenai laporannya tentang VC hospital aku akan mengurusnya" kata Maxime menenangkan tuan Vegas.
***
"Sayang kenapa tidak ke VC hospital saja? disana ada dokter kandungan yang di rekomendasikan oleh dokter ku yang lama" rengek Zivana sambil menggamit lengan River.
"Aku tidak mau ada hubungan dengan rumah sakit itu! apa kau tidak paham bagaimana adikku pergi mengenaskan di tempat itu?!" amarah mulai terlihat di wajah tampan River. Zivana menciut ia terdiam dan menurut saja kata River.
Hasil pemeriksaan Zivana kurang bagus. sulit untuk di lakukan bayi tabung karena berbagai alasan dan kondisi kesehatan Zivana.
Setibanya di rumah Zivana tidak mau makan malam karena sudah tidak berselera makan. ia berbaring di tempat tidur sembari menangis. River paling tidak tahan melihat istrinya itu bersedih.
"Ayolah Zivana, ini bukan akhir dunia" kata River. pria memang tidak pandai menenangkan hati wanita di situasi seperti ini.
"Itu bagimu River tapi tidak buatku, aku ingin kita memiliki seorang anak"
River terdiam duduk di tepi ranjang, ia kehabisan akal menenangkan dan membujuk Zivana.
__ADS_1
"Aku ada ide River" Zivana duduk dan meraih tangan River lalu menggenggamnya.
"Ide apa?"
"Kenapa tidak kau nikahi wanita lain dengan begitu kita akan punya anak darinya"
"Apa kau gila?!" River berdiri dari duduknya menatap tajam istrinya. ia tidak habis pikir Zivana memiliki ide seperti itu.
"Aku tidak mau! aku tidak bisa menduakan mu!"
"Ayolah River demi aku dan demi pernikahan kita"
River mengusap wajahnya dengan geram, istrinya sudah gila. tidak ada wanita yang dengan senang hati membiarkan suaminya menikah lagi selain Zivana.
Ditambah lagi ia bahkan sudah mencarikan calon istri kedua untuk River.
"Apa lagi ini Ziva? dengar dalam suatu pernikahan tidak harus kita memiliki keturunan" kata River
"Ayolah River aku mohon, apa kau tidak kasihan padaku? kau tidak mencintaiku?" Zivana mulai memasang tampang memelas dan ekspresi paling sedih.
River menghela napas berat, lama-lama ia tidak tahan dengan bujuk rayu istrinya apa lagi di bumbui drama kesedihan dan air mata seperti itu.
"Baiklah aku akan menuruti kegilaanmu itu! siapa wanita yang kau pilih untuk jadi ibu anak kita?"
"Wanita cantik di ruang rahasia itu"
__ADS_1
River meraih tangan Zivana dengan kasar. ia mencengkram dagu istrinya itu saking kesalnya.
"Sejak kapan kau berani memasuki ruangan itu?! bukankah aku melarangmu?!"
"Maaf aku hanya penasaran jadi kemarin aku masuk kedalam dan tidak sengaja bertemu dengan tawanan mu yang bernama Celine" kata Zivana lirih.
"Kau tahu siapa wanita itu?! dia yang telah membuat Don pergi! gara-gara dia Don mati!"
"Tapi...sayang aku rasa dia wanita yang tepat lihatlah dia begitu cantik, bola matanya berkilau dan ia juga terpelajar"
"Tidak! aku tidak akan menuruti kemauan mu kali ini!"
Zivana tahu jika sudah marah seperti itu River sulit di bujuk. Zivana nekat meraih senpi yang terselip di pinggang kiri River. ia menodongkan senjata itu ke pelipisnya sendiri.
"Katakan iya River karena kalau tidak kau akan mendapati ku pergi seperti adikmu"
"Zivana! cukup!" River memundurkan langkahnya. ia tahu istrinya wanita yang sangat keras kepala dan juga nekat.
"Tolong kembalikan padaku senjata itu" River mengulurkan tangannya meminta perlahan senpi di tangan Zivana.
"Berjanjilah padaku..."
"Aku janji akan menuruti mau mu, kemarikan pistol itu!"
Zivana menyerahkan senpi itu pada River dengan senyum mengembang. River adalah pria yang menepati janjinya. meski ia seorang kriminal tapi kata-katanya selalu bisa di pegang.
__ADS_1