
Hai readers Thor kembali kemari untuk bersua dengan para pembaca serial Van Camont. Okay tak perlu basa basi panjang-panjang lagi....yuk cekidot...
___________
Di sebuah rumah sakit ternama seorang dokter wanita terlihat sedang memeriksa pasiennya. di jas putih yang ia kenakan ada tanda pengenal dengan nama dokter Celine V.
Dokter Celine sangat cantik, anggun dan kaya tapi tingkahnya begitu menjengkelkan. hampir disetiap pemeriksaan pasien ia jarang mau menyentuh pasiennya secara langsung. ia tidak pernah meninggalkan sarung tangan medis saat ia memeriksa pasiennya.
Bahkan saat meletakkan stetoskop di bagian tubuh pasien saja ia serasa enggan dan terkadang perlu di bantu oleh perawat.
Seperti siang itu ia sedang memeriksa kondisi seorang pasien yang terluka akibat tembakan. pasien itu dalam kondisi sekarat tapi karena ketidak becusan dokter Celine akibat sifat sok bersihnya itu akhirnya si pasien meninggal. ia terlalu lama menangani pendarahan yang terjadi akibat luka tembak yang menembus dada kanan pasien.
Jika sedikit lebih cepat mungkin pasien akan terselamatkan. atau jika dokter lain yang menanganinya bisa jadi sekarang pasien itu bisa tertolong dan nasibnya tidak tragis berakhir di bangsal rumah sakit dengan penanganan yang kurang baik.
Celine sebagai dokter tentu ia punya segudang alibi untuk melindungi dirinya dari hujatan. ia sudah merasa melakukan penanganan pasien sesuai prosedur. ia juga bergelar dokter spesialis bedah jadi tidak mungkin sembarangan menangani pasiennya.
"Celine apa kau tahu siapa pasien itu?!" bentak dokter Maxime yang merupakan sepupu dokter Celine.
"Memang dia siapa?" tanya Celine tanpa rasa takut.
__ADS_1
"Celine, ini bisa jadi masalah besar! kau bisa membuat nama rumah sakit menjadi buruk di mata masyarakat!" kata Maxime murka. ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran sepupunya itu.
"Kenapa kau terlambat menanganinya?! seharusnya jika sedikit lebih cepat semua akan lebih baik!" Maxime menatap tajam ke arah Celine.
"Aku sudah berusaha menyelamatkan pria itu! kenapa kau marah padaku?!"
Maxime berjalan keluar ruangan membanting pintu. ia menenangkan diri sejenak, kalau tidak ia bisa melahap Celine hidup-hidup.
Pria yang menjadi pasien Celine adalah seorang Gangster atau mafia. ia adik dari pimpinan mafia besar bernama Loco. Maxime tahu alasan Celine terlalu lambat menangani pasien karena pasti ia melihat tato di sekujur tubuh pasien. Celine pasti tidak leluasa memegang pasien itu karena alasan konyol yang tidak masuk akal yang hanya Maxime yang tahu fobia aneh dari sepupunya itu.
"Sial! Celine bisa membuat masalah besar. ia tidak tahu siapa pasien itu!" kata Maxime dengan raut wajah cemas.
"Don jangan tinggalkan aku!" Sebuah teriakan yang membuat telinga terasa pilu. yah seorang pria mengenakan pakaian serba hitam tampak menangisi pria yang tergolek di atas bangsal rumah sakit milik keluarga Van Camont itu.
"Khan kenapa adikku bisa mati seperti ini?! padahal lukanya tidak terlalu parah! apa ini di sengaja?"
"Saya belum tahu tuan River" kata pria bernama Khan yang sejak tadi berdiri diam di dekat pintu.
"Kalau begitu kenapa kau hanya berdiri disini seperti orang bodoh?! cepat cari tahu! aku tidak akan membiarkan siapapun yang menyebabkan adikku celaka akan lolos! dia sudah menabuh genderang perang dengan River Vanares!"
__ADS_1
"Baik tuan" Khan beranjak dari ruangan itu. pria berusia dua puluh sembilan tahun itu pergi ke ruang praktek dokter Maxime.
Kenapa Khan mencari dokter Maxime? karena para mafia itu mengenal dokter Maxime yang menjadi langganan mereka saat ada kelompok mereka yang terluka.
tuk..tuk...pintu ruang kerja dokter Maxime di ketuk dari luar.
"Masuk" sahut dokter Maxime.
"Khan?!" melihat Khan berdiri di ambang pintu raut wajah dokter Maxime langsung berubah. ia tahu kematian Don akan menjadi masalah besar dengan River ketua mafia Loco.
"Dokter, pasti anda sudah tahu kenapa saya berada di hadapan anda" kata Khan santai tapi mengintimidasi.
"Ya..ya..aku tahu Khan, pasti tuan River meminta mu untuk menemuiku"
"Benar sekali, jadi bisakah kita tidak buang-buang waktu lagi untuk basa basi?" kata Khan yang mulai meraba pinggang kirinya tempat ia menyelipkan senjatanya.
"Baiklah aku mengerti, silahkan duduk lalu kita bicara baik-baik"
Khan menuruti perintah dokter Maxime. ia duduk tenang menunggu penjelasan sang dokter sekaligus penanggung jawab VC hospital.
__ADS_1