
"Tuan Eric silahkan anda ikut dengan saya" kata Timoti dengan tatapan tajam ke arah Eric.
"Sial! kenapa kau selalu saja ikut campur?! memangnya berapa kakak ku membayar mu sampai kau benar-benar setia padanya?!" Eric kesal karena ternyata Tim bisa menemukan keberadaannya.
"Tuan Lizard meminta saya untuk membawa anda secara sadar, sehat dan bisa di ajak bicara baik-baik. Jadi silahkan anda ikut dengan saya secara baik-baik"
"Dasar keparat apa maksud mu baik-baik?! nanti juga dia akan menghajar ku habis-habisan bukan?! kalian berdua sama saja tapi aku tidak Takut pada Lizard terlebih pada pelayan seperti mu!"
"Silahkan ikut dengan saya" Tim tidak terprovokasi dengan hinaan Eric. ia tetap datar saja tanpa ekspresi dan menunggu Eric melangkah keluar dari apartemen itu.
"Baik sialan! aku akan ikut dengaan mu! kau puas?!" Eric mengecup bibir Megan dan beranjak keluar dari apartemen kekasihnya.
"Eric...aku harus bagaimana?" Megan terduduk lemas di sofa ia tidak bisa berbuat apapun untuk membantu Eric.
Timoti mengendari mobil pribadi milik Lizard. Ia sengaja menjemput Eric dengan istimewa.
"Apa yang akan kalian lakukan pada ku?"
"Saya tidak tahu tuan Eric"
🌵🌵🌵
Di acara konferensi pers Lily duduk di hadapan wartawan dengan wajah bersalah dan kalut. Ia lebih banyak menahan tangisnya.
__ADS_1
Disela Lily memberi keterangan pada pers ternyata ada yang menyusup dan melempar Lily dengan telur ayam.
Telur itu pecah mengenai wajah Lily. Segera semua keamanan bergerak melindungi Lily dan membawanya pergi dari hadapan media. sayang sekali wajah Lily yang terkena lemparan telur sudah berhasil di abadikan oleh pers yang meliput.
Siang itu di halaman depan surat kabar online maupun cetak wajah Lily terpampang dengan bekas pecahan telur yang mengotori wajah manisnya.
"Brengsek!!" Lizard membanting ponselnya ke lantai hingga pecah berantakan. Ia tidak terima Lily di perlakukan dan di permalukan seperti itu di hadapan media.
Lizard menahan kemarahannya dan di saat itulah Timoti tiba membawa Eric.
Senyum licik Eric terlihat mengejek Lizard.
"Bagaimana kau sudah merasa tidak berguna melihat istrimu menderita dan kau tidak bisa berbuat apa-apa?"
Dengan kemarahannya Lizard mencabut senpi yang terselip di pinggangnya dan menodongkan benda itu di mulut Eric.
Dalam hitungan detik Lizard benar-benar dikuasai amarahnya. ia hampir menarik pelatuk senpinya.
Tim mencoba menenangkan Lizard. karena biar bagaimana pun Eric adalah adik kandung Lizard.
"Tenanglah tuan, tidak ada untungnya kita melenyapkan dia, lebih baik kita bawa tuan Eric ke hadapan media. saya sudah siapkan konferensi pers khusus untuk tuan Eric"
"Bagaiman tuan Eric apa anda setuju dengan cara saya? Anda memilih mengakui kesalahan di hadapan media dan memberi klarifikasi atau anda akan berakhir di tangan kakak anda sendiri"
__ADS_1
"Kau ...kau memang kurang ajar Timoti! kau pikir kau siapa?!" Eric memandang jengah pada asisten kakaknya yang menyebalkan itu.
"Jawab saja pertanyaan Tim! jangan kira aku tidak bisa tega terhadap mu Eric"
"Aku tidak akan mengakui apapun lagi pula jika kau melukai ku papa tidak akan tinggal diam"
"Tim seret dia ke markas dan buat Eric mengakui kesalahannya"
"Baik tuan"
Tim membawa Eric ke markas mereka dan membuatnya babak belur. Jangan di tanya siksaan apa yang Eric rasakan hingga ia menyerah dan mengaku bersalah.
Sementara Lily semakin hari semakin pendiam dan badannya mengurus karena kasus itu.
Lizard sudah kehabisan akal untuk menghibur Lily.
"Sampai kapan kau akan mendiamkan ku?" tanya Lizard sembari menahan tangan Lily yang ingin menghindarinya.
"Aku ingin berpisah dari mu Lizard! sejak mengenal mu hidupku tidak karuan aku tidak mau bersama dengan orang seperti mu! keluargamu dan juga kau membuatku menderita!"
Mata Lizard berkaca-kaca memandang Lily, ia melepas cengkeramannya pada pergelangan tangan Lily.
"Apa kau sungguh-sungguh dengan perkataan mu itu Lily?"
__ADS_1
"Iya aku sungguh-sungguh"
"Baiklah, jika itu mau mu aku akan menuruti kemauan mu"