Cinta Dokter 4 (Keluarga Van Camont)

Cinta Dokter 4 (Keluarga Van Camont)
Part 96


__ADS_3

Lizard telah di pindahkan ke kamar rawat VVIP dan tuan Rud sedang mengurus kepindahan Lizard ke VC hospital.


Kata dokter yang menangani Lizard, kemungkinan Lizard akan sadar dalam waktu dekat.


"Kita baru bisa memastikan kondisi nya setelah tuan Lizard siuman. yang kita cemaskan adalah trauma akibat pukulan di kepalanya" kata dokter.


Lily terdiam menahan tangisnya, sementara tuan Rud berbicara dengan dokter tentang kondisi Lizard.


Lily berjalan menuju ruang perawatan Lizard. ia melihat dari balik kaca di pintu ruang rawat karena Lizard belum boleh di temui siapapun.


Eric dan Tim berdiri tidak jauh dari ruang rawat Lizard.


Ada sedikit percakapan diantara Eric dan Tim.


"Apa yang terjadi pada Nicolas?" tanya Eric kaku.


Jangan sampai Tim tahu jika semua ini ideku. tapi aku hanya meminta Nicolas merebut bisnis kak Lizard bukan mencelakainya. jika Tim tahu aku dalangnya dia bisa menghabisi ku saat ini juga ....


Tim hanya terdiam memandang Eric dengan tatapan mata tajam. mendengar nama Nicolas disebut rasanya kemarahannya kembali memuncak.


"Kenapa kau melihat ku seperti itu?! kau menakuti ku dasar bodoh!" maki Eric.


Rasanya Tim ingin sekali menyumpal mulut Eric dengan sepatu karena terlalu banyak bicara.


Tuan Rud segera mendekati Tim dan Eric sebelum terjadi perkelahian lebih lanjut.


"Tim sebaiknya kau pulang dan beristirahatlah dulu . aku akan mengurus Lizard"

__ADS_1


"Tidak tuan saya akan tetap disini"


"Tim, aku mengerti bagaimana perasaan mu saat ini melihat bos mu tidak berdaya di dalam sana. tapi sebaiknya kau simpan tenaga untuk besok. kita perlu bergantian menjaga Lizard"


"Kau tidak dengar papa bilang apa?!" Eric kembali memancing suasana.


"Diam Eric! papa minta kau juga pulang sekarang juga!" kata tuan Rud kesal pada putra ke duanya yang selalu membuat onar itu.


"Baiklah aku akan pulang, lagi pula siapa yang mau berlama-lama disini" kata Eric sembari berjalan pergi.


Tuan Rud memegang bahu Tim lalu berjalan pergi karena ia harus ke VC hospital untuk menangani pasien. ia sempat melihat Lily yang terus memandangi Lizard dari balik pintu kamar rawat. tuan Rud hanya menggeleng tidak tega dengaan Lily.


"Lily papa ke VC hospital dulu ya, nanti papa kembali kesini setelah semua selesai"


Lily hanya mengangguk tanpa bersuara. wajahnya terlihat lelah.


"Prang.....prang!" bunyi pecahan kaca terdengar dari kamar Tim. ia memecahkan cermin di kamarnya dengan sekali hantam hingga kaca itu pecah berhamburan ke lantai.


Wuri yang kebetulan baru saja tiba untuk membersihkan apartemen Tim terkejut mendengar suara gaduh di kamar Tim.


Tim melemparkan gelas minumannya ke dinding kamar hingga pecah. tak puas ia melempar semua barang Yang ada di kamarnya termasuk bantal dan selimut.


Tim terduduk lemas dengan telapak tangan berdarah. ia melampiaskan semua kekesalannya hari itu.


Kenapa aku bisa ceroboh seperti ini, jika terjadi sesuatu pada tuan Lizard aku tidak akan bisa memaafkan diriku!


Sementara Wuri yang takut ingin pergi saja dari apartemen Tim malam itu. ia mengurungkan niat untuk bersih-bersih di apartemen.

__ADS_1


Tapi baru akan melangkah keluar dari pintu apartemen, Wuri mengurungkan niatnya karena ia cemas pada Tim.


Pria itu sudah banyak menolongku, tidak sepantasnya aku bersikap tidak perduli padanya...


Wuri kembali ke dalam dan memberanikan diri mengetuk pintu kamar Tim.


"Tuan kau baik-baik saja di dalam?" Wuri bertanya secara hati-hati di luar pintu kamar Tim. ia tidak berani bertanya banyak karena takut. salah-salah malah Wuri yang akan menjadi sasaran kemarahan Tim.


"Tuan apa aku boleh masuk?" Wuri cemas dengan kondisi Tim di dalam kamar.


Wuri menarik handel pintu ternyata tidak terkunci. Ia mendorong pintu itu secara perlahan dan melihat pecahan kaca berserakan di lantai.


Tim terduduk di lantai bersandar ranjang sembari menekuk satu kakinya. pergelangan tangan kanan Tim bertumpu di atas lututnya meneteskan darah yang tercecer di lantai.


"Astaga tuan...!" Wuri segera pergi mengambil kotak obat lalu kembali mendekati Tim secara perlahan.


"Tuan kemarilah tangan mu terluka aku akan mengobatinya" Wuri menawarkan memapah tubuh tinggi Tim menuju ruang tengah.


Tim tetap diam membisu, tatapannya tajam. ia menurut saja ketika Wuri memapahnya menuju sofa. gadis itu membersihkan luka di telapak tangan Tim. memastikan tidak ada pecahan kaca tertinggal di dalam luka itu. lalu Wuri membalutnya dengan perban.


Tim menoleh memandang gadis di sampingnya yang sedang mengobati luka di tangannya.


"Siapa yang menyuruh mu mengobati luka ku?" suara Tim terdengar dingin dan menyeramkan. Wuri langsung pucat dan menghentikan gerakannya mengobati tangan Tim.


"Maaf aku pikir tadi ....."


"Cepat pergi dari sini! pergi! gadis seperti mu hanya tahu memanfaatkan pria bukan?! kau mau uang? aku akan memberi mu uang yang banyak. pergi dari sini!" Tim begitu marah dan mengusir Wuri yang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


Wuri meninggalkan apartemen Tim sembari menangis.


__ADS_2