
Tim duduk di kursi kerjanya dengan wajah marah, sejak sepuluh menit yang lalu ia hanya terdiam. sementara Wuri berdiri di depan meja kerja Tim dengan wajah cemas. ia memainkan jemari tangannya karena takut dan merasa bersalah.
"Kenapa kau tidak berhati-hati tadi?" Tim membuka suaranya memandang Wuri yang terus menunduk.
"Maafkan saya tuan"
"Kau tahu kesalahan mu fatal?!"
"Saya tahu tuan tapi saya mohon beri kesempatan sekali lagi, jangan pecat saya tuan. saya harus membayar hutang saya"
Tim terdiam ia merasa iba juga pada gadis di hadapannya.
"Baiklah aku memberimu kesempatan sekali lagi, jika kau melakukan kesalahan lagi maka kau harus angkat kaki dari perusahaan ini"
"Baik tuan"
"Pergilah"
Mata Wuri berkaca-kaca ia lega tidak di pecat. gajinya bulan ini sangat ia tunggu untuk mencicil hutang nya.
🌵🌵🌵
Lily pulang dari VC hospital saat hari sudah gelap. Ada pasien yang mendadak harus ia tangani tadi.
Lily sempat melihat ke arah jajaran mobil Lizard di garasi yang terbuka salah satu mobil Lizard belum kembali ke garasi, berarti ia masih di luar belum pulang.
Lily bergegas membasuh kedua tangannya lalu pergi ke kamar si kembar. Ia mencium satu persatu anak kembarnya yang sudah terlelap.
__ADS_1
"Apa tadi mereka rewel?" Tanya Lily pada suster Ana dan suster Silvi yang duduk menemani si kembar di kamar.
"Tidak nyonya...semua aman anak-anak tidak rewel"
"Hari ini anak-anak mulai makan, apakah mereka mau makan bubur lunak?"
"Mau nyonya, terutama Zack ia terlihat lahap sekali"
"bagus, terimakasih untuk hari ini kalian menjaga anak-anak dengan baik. Aku akan ke kamar ku untuk bersih-bersih dulu"
"Baik nyonya"
Lily mandi di bawah guyuran shower ia membasahi rambut panjangnya. selesai mandi Lily membalut tubuhnya dengan handuk putih. Ia berdiri di depan cermin besar di kamar mandi mengamati penampilannya.
Mungkin aku harus memotong rambutku dan memberi sentuhan warna yang pas.
Pintu kamar mandi terbuka, Lily terkejut melihat Lizard baru tiba.
"Aku sudah selesai mandi" kata Lily mencoba mendorong tubuh tinggi kekar di hadapannya.
Lizard menarik lengan Lily dan dengan satu tangan ia mendudukkan Lily di wastafel panjang tepat di depan cermin. posisi Lily membelakangi cermin dan ia masih memegangi handuknya.
"Aku sudah bilang akan membayar mu bukan?" bisik Lizard di telinga Lily.
"Lizard..hentikan..." Lily mencium aroma minuman dari bibir tipis Lizard.
"Kau minum?" Lily mendekatkan hidungnya di bibir Lizard memastikan jika Lizard tidak sedang dalam kondisi mabuk.
__ADS_1
"Sedikit" langsung saja dalam hitungan detik Lizard menyambar bibir Lily yang dekat sekali dengan bibirnya.
Ia ********** hingga Lily tersengal.
kedua tangan Lily merangkul pinggang Lizard.
Handuknya sudah pasti lolos dan jatuh ke lantai.
Dengaan liar Lizard terus menciumi wajah dan leher, ******* bibir Lily, tangannya tidak tinggal diam menggerayangi semua aset berharga Lily.
Merasa tidak sabar Lizard membuka ikat pinggang dan resleting celananya. Kali ini ia melakukannya tanpa perduli Lily suka atau tidak, kesakitan atau tidak.
Suara napas dan erangan Lizard terdengar seperti monster di telinga Lily membuatnya bergidik merinding.
Selesai dengan aktivitas panas mereka, akhirnya keduanya terbaring di ranjang.
"Lizard ..."
"Hmmm"
Apa kau pernah tidur dengan Rachel atau Laura? atau perempuan lainnya di luar sana?"
Lizard menyeringai mendengar pertanyaan Lily yang berada di pelukannya. Lily mendongakkan wajahnya mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya.
"Jawab ...." kata Lily sembari mencengkram dagu Lizard.
"Hei dokter...aku ini penjahat! jawaban apa yang kau harapkan dari pria seperti ku?"
__ADS_1
Lily memejamkan matanya, rasa perih tidak hanya menjalari tubuhnya tapi juga hatinya. ia jatuh cinta pada Lizard entah sejak kapan. mendengar jawaban Lizard membuatnya sedih.
Meski Lily tahu Lizard memang bukan seperti pria kebanyakan di luar sana. Lily menguatkan hatinya agar tidak kecewa. sementara Lizard dengan santainya ia tertidur pulas setelah mendapat apa yang ia mau.