
River mengenakan stelan serba hitam dan kaca mata hitam bertengger manis di hidung mancungnya. bibir tipisnya terlihat sedikit bergetar karena menahan emosi yang meluap saat ia memandang seorang wanita dari kejauhan. wanita itu terlihat tertawa riang, wajah cantiknya membetot perhatian para lawan jenis yang berada di ruangan pesta.
Yah saat ini River berada di sebuah pesta pernikahan temannya. sebenarnya ia tidak ingin datang tapi Khan membujuknya untuk pergi agar kesedihan River tidak berlarut-larut karena kehilangan Don.
Tak disangka di tengah kerumunan pesta meriah itu ia melihat sasaran empuk. River jelas tahu betul wanita yang sedang berdiri di ujung sana itu adalah penyebab kematian Don.
Tanpa River sadari ia sampai meremas gelas anggur di genggamannya hingga remuk. darah segar menetes dari telapak tangan River karena pecahan gelas itu menancap di telapak tangannya.
"Tuan.." Khan menghampiri River, ia tahu sejak tadi siapa yang sedang di lihat oleh bosnya itu hingga menimbulkan kemarahan.
Khan dengan cerdiknya mendekati mempelai pria dan mengatakan sesuatu. sampai mempelai pria itu memanggil Celine yang merupakan tamu VVIP nya untuk mengobati luka di tangan River.
"Tapi kenapa aku?" pertanyaan bodoh keluar dari bibir Celine.
"Karena kau seorang dokter bukan? ayolah cepat aku mohon" kata si empunya pesta. Celine mau tidak mau akhirnya mendekati River yang berdiri mematung di tepat yang tersorot lampu temaram. kebetulan pesta itu outdoor jadi penerangan di malam hari tidak begitu merata.
"Mana lukamu tuan biar aku lihat" kata Celine tidak mencerminkan kelembutan dan keramahan seorang dokter.
River mengulurkan tangannya tanpa memandang ke arah Celine.
"Ouh sebentar aku akan ambil sarung tangan dulu di tasku" kata Celine sembari berdiri dari duduknya lalu berjalan pergi mencari keberadaan tas yang ia letakkan entah di meja sebelah mana tadi.
__ADS_1
River tersenyum sinis memiringkan sudut bibirnya. ia meminta Khan mengambil kotak obat di mobil. jelas langkah Khan yang mengambil kotak obat lebih cepat di banding Celine yang masih mencari tasnya.
River dengan cekatan mengobati sendiri lukanya dan membalutnya dengan perban. lalu setelahnya barulah Celine datang dengan mengenakan sarung tangan steril.
"Hah luka mu sudah di obati?" tanya Celine tidak percaya.
River berdiri dari duduknya, ia melepas kaca mata hitamnya dua langkah ia maju mendekati Celine hampir tidak ada jarak di antara keduanya. River menundukan pandangannya bola mata coklat tua itu menatap tajam ke mata biru Celine.
"Aku tidak percaya kau bisa menjadi seorang dokter!" kata River menahan emosi. tatapannya penuh kebencian luar biasa pada Celine.
Celine hanya terdiam kebingungan dengan Omelan pria di hadapannya.
River semakin bertambah marah dengan ucapan Celine.
"Khan aku tidak percaya rumah sakit sebesar itu memperkejakan orang seperti ini!"
"Saya akan panggil dokter Maxime ke markas tuan,"
"Tidak perlu! aku sendiri yang akan mendatanginya"
"Tuan sebaiknya kita tidak gegabah dengan dokter wanita itu, karena keluarganya...."
__ADS_1
"Aku tahu Khan siapa keluarganya jadi tidak perlu kau terangkan lagi padaku asal usul gadis itu" kata River memotong ucapan asistennya.
Khan mengangguk, biar bagaimanapun dokter Celine berasal dari klan yang cukup disegani di dunia mafia. meski Khan ragu gadis bodoh itu tahu silsilah keluarganya.
***
Siapa pria di pesta tadi? misterius sekali lalu kenapa dia terlihat benci padaku? rasanya aku tidak mengenalnya....
Celine melepas anting nya lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti piama.
Di sela jam tidurnya ponsel Celine berbunyi ada panggilan darurat dari rumah sakit.
"Halo, ada apa?" tanya Celine pada petugas VC hospital yang menelponnya.
"Dokter kami membutuhkan mu dirumah sakit, ada pasien darurat" suara panik terdengar di seberang telepon.
"Siapa dokter jaga malam ini?"
"Sudah ada dokter jaga tapi dokter Maxime meminta anda segera datang"
Celine mematikan telepon, dengan wajah sedikit kesal ia mengganti pakaiannya lalu beranjak pergi ke VC hospital di antar sopir pribadinya.
__ADS_1