Cinta Dokter 4 (Keluarga Van Camont)

Cinta Dokter 4 (Keluarga Van Camont)
Part 181 Bullying Membawa Petaka


__ADS_3

Di ruangan Forensik VC hospital sedang di gegerkan kasus penemuan jasad yang mengenaskan. dokter Vegas sedang mengidentifikasi jasad pria muda itu.


"Aku rasa pelakunya memiliki dendam tersendiri dengan korban, kalau tidak ia tidak akan mampu menghabisi orang lain dengan cara seperti ini kecuali dia memang psikopat" kata dokter Vegas pada penyidik dan dokter Emma selaku psikolog forensik.


"Benar kata dokter Vegas aku sependapat dengannya" kata dokter Emma.


Kepolisian langsung bergerak mencari pelaku di kota Amsterdam. mereka mencurigai seorang gadis berusia sama dengan korban.


Gadis itu menyerahkan diri pada polisi tanpa perlawanan. dokter Emma membantu memeriksa kejiwaan dari pelaku. penyebab utama ia melakukan perbuatan kejam itu karena ia adalah korban bullying dari geng si pria muda yang sekarang sudah tewas itu.


Emma yang mendengar rincian bully yang dialami oleh tersangka ia merasa sedikit terpengaruh dan meneteskan air matanya. Emma keluar dari ruang penyidikan dengan wajah sedih. dulu ia juga sempat menjadi korban bully meski tidak terlalu parah tapi itu menyakitkan.


Dokter Emma berdiri bersandar dinding ia memejamkan matanya mengingat perlakuan buruk dan kata-kata yang tidak pantas pernah ia terima dari teman semasa sekolah.


"Emma?" Vegas memegang bahu Emma.


Emma terlihat menatap Vegas dengan mata berkaca-kaca,


"Ada apa? kenapa kau ada di luar? bukankah seharusnya kau mendalami kejiwaan pelaku di ruang penyidik?"

__ADS_1


Emma memeluk Vegas, ia menangis mengingat perundungan yang pernah ia terima selama bersekolah di sekolah menengah.


"Ada apa? kenapa menangis?" tanya Vegas heran.


"Maaf aku hanya terbawa emosi, seharusnya aku tidak boleh melibatkan perasaan dalam kasus ini" kata Emma.


"Memangnya apa yang terjadi dengan pelaku?"


"Gadis itu korban bully yang kejam dari pria muda itu" kata Emma dengan raut wajah sedih. tentu saja Vegas yang tidak pernah di bully dalam hidupnya ia tidak tahu rasanya. memang siapa yang berani membully Vegas Van Camont? sejak bangku sekolah ia sudah terlihat bibit mafianya. tidak ada teman yang berani mengganggu apa lagi merundung Vegas.


Emma menghela napas perlahan, ia menenangkan dirinya melihat reaksi Vegas yang datar-datar saja. Emma bisa mengerti jika pria itu tidak paham rasanya di bully.


Emma menahan tawa, ia tahu Vegas mencoba romantis untuk menghibur Emma dengan mengajak makan malam bersama.


"Baiklah tunggu aku" kata Emma seraya berjalan kembali memasuki ruang penyidik.


***


Reyzard mendatangi VC hospital setelah ia selesai mengganggu gadis bernama Amara itu hingga membuat Amara semakin jengah dengan Reyzard.

__ADS_1


"Hai dokter Vegas!" sapa Reyzard.


Vegas hanya diam mengabaikan sepupunya itu. ia kembali sibuk dengan laporan yang ia terima dari kepolisian.


"Apa kau sudah mengambil keputusan?"


Vegas menatap Reyzard yang berdiri di depan meja kerjanya. ia meletakkan dokumen berisi laporan di atas meja kerjanya.


"Keputusanku tetap sama, jika kau setuju kita bagi dua aku akan mengalihkan separuh saham rumah sakit untuk mu tapi jika tidak silahkan pergi dan jangan mengganggu ku!"


Reyzard merasa kehabisan kesabaran. ia mengeluarkan senpi dari balik jasnya. Vegas juga tidak mau kalah ia mengeluarkan senpinya yang tergeletak di laci meja kerjanya. keduanya saling todong senjata.


"Apa ini?! apa yang kalian lakukan di rumah sakit?!" Emma yang sudah selesai dengan pekerjaannya kebetulan memasuki ruangan. Vegas. ia melihat kedua Van Camont itu saling menodongkan senjata.


"Cukup! apapun masalah kalian bicarakan di luar! dokter Vegas jika kau ketahuan memiliki senjata itu, kau juga akan mendapat sanksi lisensimu bisa di cabut!"


Vegas dan Reyzard terdiam keduanya menurunkan senjata mereka. Reyzard melangkah pergi dari ruangan itu.


......🖤

__ADS_1


Dasar Tom & Jerry! tidak bisa akur...!


__ADS_2