Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
aku kenapa?


__ADS_3

Sebenarnya Axel masih bingung, kenapa harus Jen yang di bawa kerumah sakit. Daripada bingung dan pusing, mending tidur aja begitu pikir Axel.


.


.


.


.


Di sekolah selesai ulangan matematika Jen menghela nafasnya lega.


"manjat pagar mana lo?" tanya Tamara sambil cekikikan


"enak aja, gue lewat gerbang ya" Jen


"kok bisa?" Tamara


"gue manfaatin papah dan mamah, kan aman" kata Jen sambil tertawa


"lo ngaku anak pemilik sekolah?" Tamara


"iya lah, lagian pas papah sidak itu kan pak satpam juga tau kalau aku anak pemilik sekolah" Jen


"iya juga, tapi kenapa lo telat?" Tamara


"garwo sakit lagi Tam,"


"sakit apa?" Tamara


"gak tau, mual sama pusing katanya" Jen


"lo bawa ke dokter deh"


"gak mau, tapi kayaknya udah di bujuk mamah. Coba gue tanya mamah" Jen mengambil ponselnya.


"Selamat pagi semua" sapa guru sosiologi


"PAGI BU" jawab semuanya


"gak jadi deh" gumam Jen dan membuat Tamara cekikikan


"nanti aja pas istirahat" Tamara


Mereka mengikuti pelajaran seperti biasa, tapi Jen tidak tenang. Ia berusaha mengirim pesan kepada Axel tapi belum di buka. Tamara tau kalau Jen tidak tenang.


"ke toilet aja lo" bisik Tamara


"gue gak kebelet ya" bisik Jen juga


"ish....., maksud gue lo ke toilet telfon mertua lo" Tamara


"😁good ide" kata Jen kemudian beranjak


Setelah berpamitan dengan guru yang mengajar, Jen menuju tempat yang sepi. Ia mencoba menghubungkan mamah mertuanya.


πŸ“žmamah


*iya sayang?


"Mah garwo gimana?"


πŸ“ž


Baru istirahat Jen, tadi mamah juga udah panggil dokter kok


"apa Jen ijin pulang jam istirahat ya mah?"


πŸ“ž


gak usah sayang, kamu tenang aja. kata dokter Axel gak papa kok


"beneran mah? aku gak enak sama mamah"


πŸ“ž


Sayang, kamu jangan mikir yang macem macem. Ini juga tugas mamah, kamu fokus sekolah aja ya. Axel baik baik saja.


"iya makasih mah, maaf kalau Jen belum bisa jadi menantu yang baik"


πŸ“ž


kamu menantu mamah yang baik Jen, jangan khawatir kan apapun ya,,


"iya mah, kalau gitu Jen tutup telfon nya ya.? Ini tadi Jen ijin ke toilet"


πŸ“ž


iya sayang*.


Jen merasa lebih lega setelah mendengar kabar dari mamahnya.


puk


Jen diam saat ada yang menepuk pundaknya. Perlahan Jen menengok ke belakang. Disana ada pak Agus yang berdiri dengan tangan nya di masukkan ke saku celana.


"pak Agus" kata Jen kaget

__ADS_1


"kamu ngapain?" pak Agus


"enggak pak 😁" kata Jen sambil nyengir


"saya tahu kamu habis menelfon seseorang?" pak Agus


"em maaf pak, itu tadi mamah saya" Jen


"ada masalah dengan Axel?"


"hah?". Jen kaget saat pak Agus bertanya seperti itu


"iya saya sempat dengar pembicaraan kamu maaf. Saya tidak berniat apa pun karena ini jam pelajaran, dan kamu berada di luar jadi saya memutuskan untuk menghampiri kamu."


"iya pak gak papa, saya juga mau balik kelas" Jen


"Axel?" tanya pak Agus yang tau hubungan mereka


"kurang enak badan pak, saya khawatir saja tadi" Jen


"semoga cepat sembuh, sana balik kalau gak mau saya hukum" Pak Agus


"iya pak terima kasih".


Jen kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran sampai selesai. Saat akan pulang Jen mendapatkan telepon dari Axel.


πŸ“žGarwo


*yang aku di depan, pakai mobil sport"


"kamu becanda?"


πŸ“ž


enggak, aku jemput kamu


"emang kamu udah sembuh?"


πŸ“ž


udah, cepat Yang ... aku mau turun mobil gak enak


"mobilku?"


πŸ“ž


biar sama pak Bejo, udah di depan gerbang


"ya udah aku ke sana*"


Jen membawa mobilnya ke depan gerbang. Dan benar saja pak Bejo sudah menunggu di sana. Jen turun menghampiri pak Bejo.


"enggak non, sudah tugas saya"


"terimakasih pak, tapi maaf sekalian minta tolong isikan bensin pak" Jen menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan.


"siap non"


Setelah itu Jen menuju ke mobil Axel yang jarang di pakai untuk sekolah. Jen membuka pintu mobil di sebelah kemudi.


"sayang" kata Axel manja dan segera memeluk Jen


"kamu beneran udah sembuh?"


"udah, aku kangen banget" kata Axel sambil mencium aroma Jen.


"aku bau keringat loh garwo"


"enggak, wangi aku suka" Axel


"nanti lagi, kita masih di area sekolah. Takut ada yang liat" Jen


"gak keliatan juga," Axel melepaskan pelukannya


"ikut aku ke rumah sakit ya?" kata Axel sambil melajukan mobilnya


"katanya udah sembuh, sini biar aku yang nyetir aja" Jen


"aku gak papa sayang, cuma mau memastikan saja kata dokter"


"memastikan apa? jangan buat aku takut" Jen


"berdoa saja Yang, aku juga belum tau" Axel


Sesampainya di rumah sakit, Axel mengajak Jen menuju ruang praktek dokter Riza. Sampai di sana ternyata dokter Riza sedang menangani pasien kecelakaan.


"kita makan dulu ya Yang" ajak Axel


"boleh deh" Jen


Mereka memutuskan menuju ke kantin rumah sakit, Axel mengandeng Jen di sepanjang perjalanan. Setelah mendapat tempat duduk dan memesan makanan, mereka mengobrol tentang apa saja. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka, pasalnya mereka ke kantin khusus petugas rumah sakit.


"mas Axel?" sapa kepala rumah sakit ini


"pak Broto" Axel mengangguk


"siapa yang sakit mas?"

__ADS_1


"enggak pak, ini mau periksa biasa saja" Axel


"oh, kalau gitu saya permisi mas"


"iya pak" Axel


Setelah kepergian Pak Broto Jen dan Axel melanjutkan untuk makan.


"kok semua isinya perawat sama dokter?" hanya Jen


"iya di sini khusus buat mereka"


"kenapa kita malah disini, kalau di marahin gimana?" Jen


"hahaha tadi yang ngobrol sama aku ketua di rumah sakit ini Yang, beliau aja gak masalah kita disini"


"kok bisa?"


"ya bisa, ada saham papah di sini"


"pantesan" Jen


Selesai makan, mereka kembali ke ruang dokter Riza, dan ternyata dokter Riza sudah menunggu.


"silahkan mas, mbak" kata salah satu suster yang mengantar mereka.


"terimakasih sus" Jen


"maaf ya mas Axel dan mbak?"


"Jennaira, biasa di panggil Jen dok" Axel


"iya mbak Jen. Maaf sudah menunggu lama, tadi ada pasien yang harus segera di tangani"


"tidak papa dok, jadi gimana dok? saya masih bingung" Axel


"iya biar saya jelaskan. Kalau kondisi mas Axel sekarang gimana?"


"udah enakan sih dok, paling cuma pusing itu juga ilang ilangan"


"oke. Jadi gini mbak Jen, kemungkinan sakitnya mas Axel ini ada hubungannya dengan mbak Jen. Maka dari itu saya meminta mas Axel untuk mengajak mbak Jen kesini"


"maksudnya gimana dok?" Jen


"boleh kami periksa mbak Jen?"


"aku kenapa?" tanya Jen pada Axel


"tapi saya gak papa, gak merasa gimana gimana dok" Jen


"Yang, cuma di periksa kok." Axel


"iya mbak untuk memastikan saja, semoga ada kabar gembira" dokter


" kabar gembira?" Axel


"iya mas, kalau gitu saya antar ke ruang dokter Yeyen ya?"


Mereka yang masih bingung pun mengikuti dokter Riza dari belakang. Banyak pertanyaan di kepala Jen juga Axel. Sesampainya di ruang dokter Yeyen, Jen di minta untuk berbaring di sebuah ranjang.


"mbak Jen maaf ya, boleh saya periksa perutnya?" tanya dokter Yeyen yang tadi sudah berkenalan.


"iya dok," kata Jen


Suster menutup korden, dan dokter segera membuka perut Jen. Setelah memberi gel di perut Jen, dokter meletakkan alat yang di hubungkan dengan sebuah layar. Dokter memutar alat di sekitar perut Jen.


"mbak Jen tau itu apa?" tanya dokter dengan menunjuk layar


"enggak dok" Jen


" kalau mas Axel?"


"enggak juga" Axel


Kemudian dokter Yeyen tersenyum, membuat Jen dan Axel bingung.


"mbak Jen terakhir datang bulan kapan?"


"awal bulan lalu kalau gak salah dok" Jen


"ini sudah mau akhir bulan, sudah datang bulan?"


"belum" Jen


"ini jawaban dari mbak Jen yang belum datang bulan, juga mas Axel yang sakit"


"maksudnya dok?" Axel


"mbak Jen hamil" dokter Yeyen


"APA?" kaget Jen dan Axel


"iya mas, mbak, selamat ya" dokter Yeyen


"dokter gak salah?" Jen


"enggak mbak, itu buktinya" dokter menunjuk layar monitor.

__ADS_1


"ini janin mbak Jen, kalau dilihat dari USG usia kandungan nya sudah tujuh minggu" jelas dokter


"tujuh minggu?" lirih Jen yang masih bingung


__ADS_2