Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Kuliah


__ADS_3

Pagi ini pukul empat Axel sudah terlihat rapi, berbeda dengan Jen yang masih berselimut di atas kasur.


"Yang.. bangun" kata Axel


"iya jam berapa?" tanya Jen tanpa membuka mata, ia bisa mencium bau harum khas suaminya itu.


"jam empat sayang, aku mau berangkat"


"iya, sebentar aku cuci muka" kata Jen dan berusaha duduk


"kalau masih ngantuk tidur aja aku gak papa"


"enggak mas, tunggu sebentar ya" Jen beranjak ke kamar mandi.


Axel merapikan pakaiannya dan mengenakan jam tangan, setelah beberapa saat Jen keluar dari kamar mandi.


"sarapan dulu mas? biar aku siapkan"


"nanti aja Yang, belum pengen sarapan"


"aku bikinin susu aja ayok"


"tadi malam udah susu sampai tumpeh tumpeh Yang"


"siapa yang bikin?"


"kenapa harus bikin kalau yang instan dan lebih menarik ada?" kata Axel yang menoel aset depan Jen yang semakin berisi.


"astaga mas, mesum kamu," kata Jen berjalan keluar kamar


"tunggu dulu, aku masih kangen" Axel memeluk Jen dari belakang.


"besok pulang lagi gak papa"


"ya gak papa, tapi kan capek"


"ya udah kalau gitu sabar, cuma berapa hari juga"


"kamu tuh gak tau betapa tersiksanya aku tanpa kamu, tanpa senyuman mu, tanpa belaian mu, tanpa sentuhan mu, pelukanmu, ci..."


"stop mas, jangan drama" kata Jen yang menutup mulut Axel dengan tangannya.


"Yang" kata Axel yang melepaskan tangan Jen


"aku serius, keep your heart for me" Axel


"iya mas, hati ini udah milikmu dan selalu milikmu"


"makasih sayang"


Setelah drama Axel berakhir, Jen pergi ke dapur lagi untuk membantu bibi.


"Jen, kamu sudah bangun?" tanya mamah yang melihat jam masih menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit.


"udah mah,"


"Axel jadi berangkat pagi ini,?"


"iya mah, barusan mas Axel berangkat"


Mamah manggut manggut dan ikut membantu Jen. Setelah selesai sarapan, Jen bersiap ke kampus. Ia tidak ingin telat pagi ini, setelah memastikan penampilan nya oke Jen melangkah keluar kamar.


"sayang, kamu cantik sekali" puji mamah yang memang Jen terlihat lebih cantik. Jen hanya mengikat kuda rambutnya, menggunakan sweater rajut berwarna merah, celana panjang hitam, juga tas gendong berwarna hitam. Bahkan Jen tidak terlihat sedang hamil, karena baju yang memang sedikit kebesaran itu.


"mamah selalu gitu" kats Jen malu


"mamah jujur sayang, mamah yakin kalau Axel disini sudah di pastikan kamu gak boleh pergi"

__ADS_1


"kenapa mah?"


"ya suami kamu itu kan over protective sama kamu Jen 😁" kata mamah sambil tersenyum


"hehehe iya benar mah, kalau gitu Jen berangkat dulu mah" Jen menyalami mertuanya


"iya, itu pak Bejo sudah menunggu"


"iya mah"


Dalam perjalanan Jen menyunggingkan senyum nya. Bahagia sekali dia karena akan ada aktivitas baru, ya walaupun mungkin nantinya akan sedikit repot. Ia memberi kabar pada Axel, sedangkan Axel yang sudah landing beberapa menit lalu pun segera membalas pesan Jen.


Tidak butuh waktu yang lama untuk menuju ke kampus, tiga puluh menit sampai itu juga karena macet. Setelah di parkiran luas, Jen turun dan melihat Tamara yang melambaikan tangan.


"hay.... kangen banget sama bumil cantik" kata Tamara yang memeluk Jen.


"sama gue juga kangen banget sama lo"


"hhmm dasar cewek" gumam Satria


"apa kamu bilang bi?" tanya Tamara pada Satria


"enggak, ada lalat tadi nemplok" Satria


"kasian deh lo gak ada temen" ledek Jen pada Satria


"gak papa yang penting sama ayang, daripada lo?" Satria


"gue sendiri berani ya, kan gue punya status baru" Jen


"apa?" tanya Satria


"gadis bukan perawan 😀🤭" Jen tertawa


"hahaha ngaku juga lo?" Satria


"hehe udah yuk, udah pada kumpul itu" tunjuk Jen


Mereka ikut di dalam barisan mahasiswa baru sesuai dengan jurusan yang mereka pilih. Rencana nya hari pertama masuk ini akan di gunakan untuk pengenalan lokasi gedung kampus. Jadi semua akan keliling kampus bersama kakak tingkat yang akan memandu. Setiap mahasiswa baru akan menggunakan kalung kertas bertuliskan nama panggilan mereka.


"elo?" kata Jen saat ia menengok siapa yang menepuk pundaknya.


"kita sekelas lagi?" tanya nya bahagia


"wah bisa bosen gue sama lo melulu, padahal ada beberapa kelas di jurusan ini" gerutu Jen


"udah takdir kita jadi plen polepel (friend forever)" Jamil


Sebenarnya juga karena suami lo yang buat gue satu kelas sama lo. Demi uang tambahan gue gak papa Jen, jadi mata mata lo. Maaf ya . Batin Jamil


"ya ya ya" Jen


Selesai acara sambutan dari Dekan juga beberapa dosen, semua mahasiswa di siapkan oleh kaka tingkat dan di beri arahan. Bahkan beberapa kelompok mahasiswa juga mencari tempat yang lebih nyaman.


"kaki kamu kenapa Gendis?" tanya kak Arif salah satu kakak tingkat yang akan menjadi mentor mereka. Karena kaki gadis itu terlihat sedikit bengkak dan di perban.


"terkilir kemarin kak" jawab gadis yang bernama Gendis itu. Terlihat dari logat berbicara nya Gendis adalah orang Jawa.


"nanti kita akan berjalan jauh, sebaiknya kamu istirahat di pos kesehatan sebelah sana" kata kak Arif


"gak papa kok kak" Gendis


"kita tidak kejam 🤭, demi kebaikan bersama kamu istirahat saja biar di antar kak Lia" kata Arif lagi.


Mau tidak mau gadis itu menurut saja dan berjalan di bantu Lia. Saat Arif sedang memberi tau apa saja nanti yang harus di lakukan, tiba tiba seorang pria yang mengenakan pakaian kantor mendatangi mereka. Pria tinggi itu membisikkan sesuatu kepada Arif, kemudian Arif celingukan mencari nama yang tadi di bisikkan pria itu.


"Jen?" panggil Arif yang sudah bisa menemukan nama Jen di barisan belakang.

__ADS_1


"iya kak" jawab Jen dan keluar barisan agar bisa dilihat Arif dan pria itu.


"kamu bisa ikut beliau" Arif menunjuk pria tinggi di sampingnya itu dengan jempol nya.


"kenapa?" tanya Jen bingung


"ikut dulu saja"


"mari Nona" kata pria itu


"baik lah" Jen menurut berjalan terlebih dahulu karena pria itu mempersilahkan Jen.


"maaf, kenapa saya di suruh ikut dengan bapak?" tanya Jen yang menengok kebelakang


"atas perintah tuan Alexander nona" jawab pria itu


"papah?"


"beliau sudah menunggu di depan sana"


Depan yang di tunjuk pria itu adalah pos kesehatan, Jen ikut memandang ke sana. Dan benar saja papah sedang duduk di sebuah kursi dengan beberapa orang.


"papah" sapa Jen dan mencium tangan mertuanya itu, karena memang tadi pagi papah sudah berangkat terlebih dulu.


"kamu bingung Jen?" tanya papah dan Jen mengangguk


"gak usah bingung, papah hanya minta kamu istirahat di dalam saja. Karena nanti jalan keliling gedung dan naik ke lantai atas untuk melihat semua ruangan" jelas papah


"emang boleh pah?"


"pasti boleh, papah gak mau terjadi apa apa sama kamu dan cucu papah. Semua sudah papah atur"


"ya sudah Jen nurut saja"


"kalau begitu papah mau balik ke kantor. Kamu butuh apa? atau pengen apa?"


"enggak pah".


"ya sudah kalau gitu, papah berangkat dulu"


"iya pah"


Setelah kepergian papahnya, Jen masuk dalam pos kesehatan dan duduk di salah satu matras.


"hay Gendis" sapa Jen yang melihat Gendis menunduk dan tersenyum padanya.


"gue Jen" Jen mengulurkan tangannya


"Gendis, kita satu kelas kan Jen?" tanya Gendis setelah menerima uluran tangan Jen


"iya, kamu dari Jawa?" Jen


"enggeh.. em maksut saya iya" Gendis


"gue juga keturunan Jawa kok" jawab Jen tersenyum ramah, Gendis mengangguk


"kamu sakit?" tanya Gendis


"enggak juga sih, 🤭"


"kok bisa disini?"


"takut lelah keliling gedung hehe"


"hehe kamu itu, nanti di hukum loh"


"gak ada yang mau hukum gue. Gak ada untungnya juga kok"

__ADS_1


__ADS_2