
Axel yang mendengar permintaan Neta pun hanya diam.
"Neta, aku dan Jen sudah tidak bisa di pisahkan lagi. Aku harap kamu ngerti ya." kata Axel
"enggak Xel, bahkan perasaanku masih utuh buat kamu" kata Neta lemah
"maaf Ta, aku pesenin taxi ya." Axel pun segera memesan taxi lewat ponselnya.
Sedangkan Neta hanya menggeleng lemah. Mbok Yana yang datang dengan membawa segelas teh hangat pun menyodorkan kepada Axel.
"di minum dulu" Axel membantu Neta bangun.
Setelah itu Axel dan Neta hanya diam. Axel yang memikirkan Jen, sedang kan Neta belum bisa menerima kenyataan ini. Bagaimana kalau sampai Neta tahu yang sebenarnya Jen dan Axel sudah menikah. Entah lah.
"maaf den, itu taxi pesanan aden sudah di depan" kata mbok Yana.
"iya mbok terimakasih, ayo Ta" Axel
"Axel, tolong jangan minta aku pulang ya."
"Neta, aku juga minta tolong sama kamu buat ngertiin aku. Ada hati yang harus aku jaga. Terserah lo mau pulang atau gak, gue mau cari Jen." kata Axel sambil berdiri
"oke aku pulang, tapi aku harap kamu pikirkan lagi. Kalau aku hanya satu satunya orang yang kamu cintai, aku pun juga begitu Xel. Aku akan tunggu kamu kembali." Neta pun beranjak meninggalkan Axel. Berat bagi Neta tapi ia tidak akan memaksa Axel saat ini.
.
.
.
Setelah kepergian Neta, Axel mencari Jen ke halaman belakang dan ke kamar. Namun belum menemukan Jen. Axel turun kebawah menanyakan pada mbok Yana dan pak Andi.
"tadi non Jen pamit sama saya den, katanya mau keluar sebentar" jelas pak Andi
"kemana pak?" tanya Axel
"kurang tahu saya den, tapi tadi non Jen buru buru langsung naik taxi. Lewat pintu samping tadi."
Axel segera menghubungi Jen , tapi sayang panggilannya tidak di jawab.
.
.
.
💨💨💨💨
Di sebuah pantai yang bersih dan sangat indah. Bahkan pengunjung hari ini tidak terlalu ramai, terlihat Jen sedang duduk di hamparan pasir.
Rambut panjangnya tertiup angin yang menerpa tubuhnya. Pandangan Jen jauh menerawang birunya air laut di depan sana. Pikirannya hanya tertuju pada kejadian tadi. Dimana ia tahu kebenaran bahwa Axel mempunyai seorang kekasih yang bisa dibilang hubungan mereka belum selesai.
Tidak bermaksud marah, tapi ia hanya kecewa kenapa Axel tidak jujur dari awal. Sedangkan Jen sudah jujur dan terbuka tentang masa lalunya.
"kenapa lo gak cerita, kenapa gue harus tahu sendiri. Apa benar lo udah cinta sama gue,?" gumam Jen.
Jen masih duduk di tempatnya. Tidak bisa di bohongi perutnya terasa lapar. Ia memutuskan untuk makan, mungkin rasa kecewanya bisa sedikit berkurang.
📨Garwo
Sory Xel, gue butuh waktu sendiri.
Begitulah pesan yang Jen kirim untuk Axel, pasalnya ada banyak panggilan dari Axel. Tidak hanya Axel, kedua sahabatnya pun juga menghubungi Jen.
Bunda maaf kalau Jen belum bisa jadi istri yang baik. Bunda pernah bilang untuk tidak pergi saat marah, tapi Jen janji nanti Jen pulang. Jen hanya ingin memenangkan diri. Batin Jen yang teringat pesan bunda
__ADS_1
Di sisi lain Axel masih bingung mencari Jen. Mendapat pesan dari Jen pun tidak membuatnya tenang.
"aaaarrrkk . Kamu kemana sih Yang?" kata Axel frustasi.
📞Dio
"hallo" sapa Axel yang menjawab panggilan dari Dio
ya elah galak amat
"ada apa?"
gue sama yang lain.udah lending nih, gimana jemputan nya.
"Astaga gue lupa, gue hubungi sopirnya dulu"
tut
Axel segera menghubungi sopir bus yang akan menjemput teman temannya. Beberapa hari yang lalu memang teman dan juga beberapa anggotanya osis, berencana untuk menyusul liburan di Bali. Dan hari ini mereka datang, Axel sampai lupa karena mencari Jen yang menghilang.
Untung saja sopir bus itu sudah menuju ke bandara, karena memang sudah di boking Axel dari jauh jauh hari.
Axel memutuskan untuk ke resort, menunggu teman temannya. Karena rencananya mereka akan menginap di penginapan dekat resort Axel.
.
.
.
Hampir dua jam kemudian rombongan teman temannya sudah datang. Mereka turun dari bus dan berdiri di samping bus, mendengar penjelasan dari Axel. Pembagian kamar dan kegiatan yang akan di lakukan bersama. Semua sudah di jelaskan Axel dan mereka mulai beristirahat di penginapan.
"Axel, Jen mana?" tanya Sasa saat di sana tinggal Dio, Satria, Tamara, Axel dan Sasa.
"kalian ke resort gue dulu," ajak Axel. Memang rencananya mereka berempat akan ikut tinggal di resort.
huff Axel menghembuskan nafas kasarnya.
"Jen marah, gue gak tau Jen kemana" jelas Axel
"APA?" teriak mereka semua
"lo yang benar saja?" tanya Tamara yang tidak percaya
"gue beneran, coba lo hubungi Jen" pinta Axel dan Tamara segera menghubungi Jen.
"tadi udah gue telfon tapi gak di angkat, coba aja kalau sekarang gimana" kata Sasa
📞JENong (nama kontak di ponsel Tamara)
Kenapa!
jawab Jen sinis
"galak amat buk, lo lagi ngapain,,?" tanya Tamara basa basi dan saat ini panggilan nya di loutspeeker.
nyantai di pantai lah, mau ngapain lagi.
"di pantai mana?" tanya Tamara
gue bilang pun lo juga gak bakalan nyusul kan?
"ye, gue akan menghilang dan nyusul lo ke sana"
garing gue gak percaya.
__ADS_1
"lo jawab dulu di pantai mana, nah nanti lo tinggal merem sambil menyebut nama gue"
terus lo hadir gitu?
"iya"
gue di dreamland. gue merem nih kalau sampai gue nyebutin nama lo sampai 100x gak hadir awas lo
"ok tapi jedanya semenit setiap panggilan"
tut
Dengan segera mereka menuju di mana tempat Jen berada. Axel melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Pikirannya hanya Jen.
"pelan pelan Xel, gue belum liburan juga" kata Satria
"iya gue takut" Sasa
"sory" Axel memelankan laju mobilnya
Sesampainya di pantai Axel langsung berjalan menuju tepi pantai.
"Axel tunggu" cegah Tamara
"ada apa lagi?"
"saran gue, biar gue dan Sasa yang nemuin Jen dulu. Takut Jen masih marah dan malah pergi lagi" Tamara
"iya Xel, kita pantau dari jauh dulu. Nanti kalau Jen udah tenang, giliran lo yang nemuin Jen" imbuh Satria
Akhirnya mereka mencari Jen, saat ini sudah hampir gelap, mereka sedikit kesulitan mencari Jen.
"itu bukan sih?" tunjuk Sasa pada seorang gadis yang berdiri menghadap ke laut.
"iya itu Jen, ayo" Tamara lari menggandeng Sasa
Semakin mendekat dan memang benar itu Jen. Sasa dan Tamara berjalan pelan dari arah belakang Jen.
"Cling" kata Tamara dan Sasa yang melompat di depan Jen. Pas sekali Jen yang sedang menutup mata menikmati hembusan angin senja.
Perlahan Jen membuka matanya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat kedua sahabatnya di depan mata.
"ini beneran kalian?" tanya Jen dan di angguki kedua orang itu
"gue mimpi ini, masa iya gue percaya sama omongan konyol Tamara" kata Jen yang kembali menutup mata
"lo gak mimpi Jenong, ini beneran kita" kata Tamara yang memeluk Jen. Sasa pun juga ikut berpelukan dengan mereka.
"gue kangen" kata Sasa
"sama gue juga" kata Jen yang meneteskan air mata
Sasa dan Tamara hanya diam melihat Jen menangis. Hanya pelukan hangat yang mereka berikan sampai Jen tenang.
"Kenapa?" tanya Tamara lembut
Jen menggeleng, ia belum bisa cerita. Perasaanya campur aduk, sedih karena masalah dengan Axel. Tapi bahagia di saat seperti ini kedua sahabatnya datang untuknya, bahkan ingin sekali memeluk sang bunda tapi apa daya mereka terpisah jauh.
"kita ada buat lo" kata Sasa yang mengusap punggung Jen.
"kita duduk di sana" Ajak Tamara ke bangku panjang.
Setelah duduk, Sasa memberikan minum yang baru saja ia beli.
"kok kalian bisa disini?" tanya Jen setelah tenang
__ADS_1
"kan tadi lo manggil gue dalam hati lo" jelas Tamara
"hem, bodohnya gue menuruti apa kata lo Tam. Kalian tahu pas kalian datang tadi tepat 100 kali gue nyebut nama lo" jelas Jen dengan tersenyum remeh