Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Mencari tahu


__ADS_3

Romi yang sudah selesai meeting langsung menuju ke kantor papa nya. Dengan menempuh waktu dua puluh menit, Romi pun sudah sampai.


tok tok tok


"masuk" jawab seseorang di dalam


"pa, papa tahu gak pemilik hotel ADT?" tanya Romi tidak sabaran


"tahu, Aditama namanya. Ada apa?"


"beliau punya anak perempuan pa?"


"kurang tau"


"katanya tahu"


"ya kalau orangnya tahu, tapi keluarga nya papah gak tahu"


"kita ada kerja sama gak dengan mereka?"


"belum ada, memangnya kenapa? kemarin anak Alexander sekarang Aditama." tanya papa bingung


"sepertinya gadis yang Romi maksud itu, anaknya pak Aditama."


"setahu papa mereka saling mengenal juga berteman akrab."


"bantu Romi dong pa"


"bantu apa?"


"cari tau tentang anaknya pak Aditama itu"


"cari sendiri lah Rom, papa pusing mikirin kerjaan. Hasil meeting tadi apa?"


"ayo lah pa, memangnya papa gak mau punya besan kaya?"


"ya pasti mau dong, "


"bantu Romi dong pa"


"hhhhmmm" papa memijat pelipisnya karena Romi yang memang keras kepala.


"kamu suka sama dia? kenapa gak kamu deketin sendiri aja sih? memangnya wajah kamu tidak bisa menarik dia?" tanya papa


"dia itu susah pa, Romi juga bingung"


"sudah punya pacar mungkin"


"suami katanya pa"


"APA?!!!!" papa menggebrak meja


" papa kenapa sih?"


"kamu yang kenapa? kalau dia sudah bersuami kenapa kamu suka?"


"namanya juga cinta pandangan pertama"


"jangan gila kamu"


"yang penting cantik dan kaya kan?"


"papa gak suka ya, cari yang lain"


"pa, ini belum pasti. Memang nya papa tau kalau anak pak Alexander sama pak Aditama menikah?"


"maksud kamu apa sih Rom?"


"jadi anak pak Alexander ini mengaku sebagai suami Jen, anak pak Aditama."


"kapan mereka menikah?"


"papa yang pengusaha aja gak tau, apalagi Romi"


"kalaupun mereka besanan itu wajar. Tapi papa tetap tidak suka kalau kamu merebut istri orang."


"iya pa kalau cinta pasti di perjuangkan, oh ini hasil meeting tadi" Romi mengeluarkan berkas yang ia bawa.


"hhhmmmm" papa menghembuskan nafas beratnya.


.


.


.


.


Sedangkan di sebuah kamar hotel, Jen sedang berusaha membujuk Axel. Entah apa penyebabnya Axel bisa badmood seperti ini Jen tidak tahu.


"mas" panggil Jen saat melihat Axel hanya berdiam melihat ke arah luar jendela.


"mas garwo" panggil Jen lagi.

__ADS_1


Axel hanya melihat ke arah Jen, dengan pandangan bingung.


"kamu kenapa sih mas?"


"kenapa Yang" Axel mendekati Jen yang duduk tiduran di ranjang.


"kamu kenapa sih Yang?" tanya Jen yang tumben sekali memanggil Axel seperti itu.


"apa Yang? aku mau dengar lagi" Axel


"Sayang" panggil Jen lagi


"aku mau di panggil sayang terus" kata Axel manja


"kalau gak lupa, kamu kenapa sih?".


"ada yang mengganggu pikiranku Yang"


"apa?"


"kamu pasti tau Romi kan?"


"kak Romi?"


"kak?" tanya Axel yang tidak suka mendengar Jen memanggil Romi dengan sebutan kak.


"iya, em kamu jangan marah"


"aku gak suka sama dia Yang, kamu bisa kan jaga jarak?"


"iya mas, aku juga tau kok"


"seperti nya, dia suka sama kamu"


Sepertinya juga iya sih. Batin Jen


"Yang" Axel menyentuh bahu Jen yang terlihat bengong.


"iya mas" kata Jen


"kamu kenapa? ada yang kamu sembunyikan?" tanya Axel


Jujur lebih baik daripada nanti Axel dengar dari orang lain. batin Jen


Jen melihat Axel yang sepertinya menunggu dirinya berbicara.


"tapi kamu jangan marah ya mas?" pinta Jen


"sebenarnya tadi Romi mengajak aku berbicara" kata Jen takut takut


"terus?"


Jen menceritakan pertemuannya dengan Romi tadi, juga beberapa kali ketemu Romi. Ekspresi Axel sudah bisa di tebak, karena raut wajahnya berubah merah menahan amarah.


"mas" Jen meraih tangan Axel yang mengepal kuat. Ia tidak mau kalau Axel menjadi orang yang jahat dan pembenci.


Jen mengecup tangan Axel, membuat Axel memandang nya dengan sorot mata yang kembali teduh.


"Yang, ini yang paling aku takutkan"


"kamu kira aku juga tidak takut, tidak marah, saat kamu dilirik perempuan lain?"


Axel hanya menghembuskan nafasnya berat.


"mas, aku percaya kamu hanya cinta sama aku, aku percaya di setiap hembusan nafas kamu pasti ada untuk ku. Aku pun juga sama mas, jadi kita saling jaga dan percaya saja."


"makasih sayang, kamu selalu ngertiin aku. Gak salah kan aku mau di jodohkan sama kamu. Ternyata kamu orang yang tulus. Mungkin itu yang membuat beberapa orang suka dan mengejar cinta Jennaira" kata Axel sambil tersenyum


"apa sih mas cinta Jennaira"


"itu fakta sayang, dulu aku saja sempat ingin sekali mengenal lebih dekat lagi sama kamu. Tapi kamu sudah punya Bayu, aku tau diri Yang. Ya walaupun aku sering memperhatikan kamu" jujur Axel dan di akhiri dengan tawa


"is gak lucu tau"


"tapi allah memberikan aku jalan pintas yang sangat mudah Yang."


"iya aku percaya mas, ayo sekarang kita pulang "


"satu kali naik gunung?" Axel


"ini udah jam berapa? kita kan mau ke kafe Satria"


"Satria pasti paham Yang"


"nanti malam aja"


"gak mau"


"dobel" kata Jen menunjukan dua jarinya


"gak mau, maunya sekarang" Axel menarik tengkuk Jen.


"janji sekali ya?" kata Jen saat Axel memberikan waktu Jen untuk bernafas

__ADS_1


"kalau gak khilaf" kata Axel lagi yang akan kembali mencium bibir Jen, namum sayang Jen menutup bibirnya dengan jari tangan.


"Yang" kata Axel dengan tatapan sayu


"janji dulu"


"iya sayang" jawab Axel pasrah.


.


.


.


.


Malam ini Jen dan Axel datang ke kafe Satria. Jen melingkar kan tangannya ke lengan Axel, mereka berjalan menuju kerumunan orang yang sedang berdiri.


"Jen" panggil Tamara


Jen dan Axel menghampiri dimana teman mereka berada.


"kok kamu telat sih?" tanya Tamara pada Jen dan Axel.


"nanti aja ceritanya, kita liat Satria aja yang mau potong pita" Jen.


Tadi sudah ada acara sambutan dari Satria dan juga keluarga, sekarang giliran potong pita. Setelah itu mereka akan masuk ke dalam kafe dan akan di jamu dengan menu menu yang ada di kafe itu.


"Sat sory ya kita telat" kata Axel saat mereka sudah duduk di sebuah kursi outdoor.


"seharusnya lo tadi ikut mengisi sambutan Xel, lo kan ikut andil di kafe ini" Satria


"lo berlebihan, tapi sepertinya akan rame Sat. Sekali lagi selamat ya" Axel


"oke thanks, buat semua juga sekali lagi terimakasih" kata Satria


"tenang aja Sat, gue akan kesini tiap hari" Jamil


"ngapain?" Jen


"minta makan lah" Jamil


"ye tekor dong calon suami gue" Tamara


"eits tunggu, emang udah pasti calon suami?" Jen


"ya masih gue tunggu sih" Tamara


"kode Sat" Ari


"kamu sabar dulu bee, nanti pasti di segerakan" Satria mengelus kepala Tamara yang membuatnya salah tingkah.


"kalau Satria udah pasti, lo sendiri gimana Ar?" tanya Jen


"gue tunggu momen lah, ya gak Dis?" tanya Ari pada Gendis yang juga hadir.


"em iya, aku gak tau maksud nya" jawab Gendis polos dan berhasil membuat mereka tertawa.


"kalian enjoy ya, gue tinggal ke sana dulu. Kalau butuh apa apa panggil pelayanan aja ya" Satria


"SIAP" kata Ari, Jamil dan Jen.


"Gendis nanti lo balik jam berapa?" tanya Tamara


"mungkin sebentar lagi Tam, udah jam setengah tujuh juga"


"nanti aja Dis, atau lo nginep aja di tempat gue" Tamara


"nah setuju itu, gue juga mau" kata Jen


"Yang,."


"plis sayang, tadi kan.....😁" kata Jen


"tadi apa terusin" kata Jamil


"kepo lo.... boleh ya mas?" Jen


"tapi Yang, aku gak bisa tidur nanti"


"ini anak kamu yang minta loh"


Axel hanya diam dan berfikir, sebenarnya ia tidak mau Jen menginap di tempat Tamara. Tapi kalau Jen sudah begini mana bisa nolak dia.


"boleh kan mas? kamu kan tadi udah jalan jalan dua kali" Jen


"hhhmmm terserah kamu Yang"


"yang ikhlas dong mas"


"tapi jangan aneh aneh kamu Yang,"


"iya janji," kata Jen yang berakhir mengecup pipi kiri Axel

__ADS_1


__ADS_2