
Papah yang mendapat kabar dari mamah pun segera bertindak. Karena tidak bisa menghubungi Axel maupun Dodi, jadi papah memutuskan langsung menyusul ke Bali. Tidak butuh waktu lama untuk persiapan penerbangan, semua di lakukan papah dengan cepat.
"Axel, apa sih yang kamu lakukan" gumam papah yang sudah duduk di jet pribadi nya.
Emosi dan juga malu kalau memang benar Axel melakukan itu. Setelah sampai di bandara Ngurah Rai Bali, papah sudah di jemput oleh salah satu supir di kantor cabang. Papah tau dimana Axel berada, tanpa menunggu lama papah langsung menuju lokasi Axel. Dan benar saja setelah sampai di lokasi pembangunan hotel, papah melihat Axel sedang berbicara dengan salah satu kontraktor.
"Axel...!!" panggil papah yang terdengar dingin
"papah?" kaget Axel karena papahnya ada di sini
"papah mau bicara sama kamu," kata papah dan menuju ke bawah pohon rindang.
"saya permisi sebentar pak, biar asisten saya yang menjelaskan" kata Axel pada kontraktor itu
"silahkan mas" jawabnya
Axel menyusul papah yang terlihat mondar mandir di bawah pohon. Axel tau betul dengan ekspresi papahnya itu. Pasti terjadi sesuatu yang membuat papah nya naik darah.
bug
Satu pukulan papah mengenai pipi kiri Axel. Karena tidak siap dengan serangan papah, Axel sempat terhuyung ke belakang. Bahkan Dodi sempat melirik saat papah memukul Axel, ia tidak tau ada masalah apa antara anak dan bapak itu.
"papah kenapa?" tanya Axel memegang ujung bibir nya yang terasa perih
"kamu yang Kenapa, apa yang kamu lakukan hah..!!"
"Axel disini kerja pah, memangnya Axel melakukan apa?" tanya Axel yang memang tidak paham
"kerja sambil selingkuh? atau sambil booking p*r*m*an lain?"
"maksud papah apa sih pah?"
"jangan pura pura tidak tahu..!!" bentak papah
"aku tidak tau pah, ada apa?" tanya Axel yang tidak ingin terpancing
"kamu lihat ini, lihat baik baik Axel." papah menyodorkan ponselnya.
Axel melihat beberapa foto dirinya dan Yola asisten Mr. Jack, Yola yang mengurus semua tentang kerja sama Axel dan Mr. Jack.
"ini kok bisa begini" kata Axel
"itu kan kamu sendiri, dan bukan editan"
"memang bukan pah, tapi papah jangan salah paham"
"terus apa ini?"
"aku hanya membantu bu Yola pah"
"membantu? dengan begitu mesra dan berada di kamar yang sama?"
"pah, aku hanya mengantar"
"terus foto ini? Jas kamu bisa di kamar dia?"
"aku gak tau pah"
"alasan apalagi sih Xel, ini foto kamu kirim sendiri ke nomor Jen"
"APA.?" kaget Axel
"kamu jangan sok kaget, ini foto dari Jen. Dan kamu liat siapa pengirimnya. Kamu Xel,"
"pah tapi aku tidak mengirimkan itu"
__ADS_1
"mana ponsel kamu?"
"gak tau pah, dari semalam aku cari gak ada"
"jangan bohong kamu, atau kamu mabuk dan lupa semua nya?"
"aku gak minum pah, tanya sama Dodi. Ponselku benar benar gak ada"
"ck, bagaimana dengan jas kamu?" tanya papah
"jas? waktu itu....." Axel mengingat kejadian waktu itu.
"jelaskan semua pada Jen,"
"pasti pah, tapi Axel baru sibuk dan mungkin nanti malam baru beli hp" Axel
"kamu juga, kenapa ponselmu tidak bisa di hubungi?" tanya papah pada Dodi yang menyusul mereka.
"di servis om" Dodi
"alasan apa lagi ini?" tanya papah
"beneran om, tiba tiba ponsel saya mati." Dodi
"apa sih yang kalian lakukan di sini," papah yang masih marah pun menghubungi seseorang.
"sstt... ada apa?" tanya Dodi berbisik pada Axel
"gak tau" Axel
"kamu pulang ke Jakarta sekarang" kata papah
"gak bisa dong pah, kerjaan ku masih banyak disini" Axel
"papah,,,, Axel tidak pernah seperti itu" suara Axel naik satu oktaf.
plak
Satu tamparan mengenai pipi kanan Axel.
Duh ngilu gue, ini sebenarnya ada apa. Batin Dodi yang menunduk dengan mengelus pipinya
"pah" Axel terlihat frustasi karena ini masih di tempat umum, ya walaupun tidak ada yang melihat mereka bertiga
"kamu tau, gara gara kamu Jen pulang ke rumah orangtuanya" bentak papah
"apa?"
"sekarang kamu pilih disini dengan otak b*d*hmu itu, atau pulang selesai kan urusan rumah tangga kamu" papah
"biar gue yang handle" Dodi menepuk pundak Axel
"Axel akan pulang pah" jawab Axel.
.
.
..
Di sisi lain, Jen dan bunda yang baru sampai rumah pun langsung masuk ke dalam. Tadi ia sudah memberitahu Tamara kalau motornya akan di atar Pak Min.
"Jen ke kamar dulu bun"
"iya sayang, jangan berbuat yang aneh aneh ya" kata bunda.
__ADS_1
"iya bun"
Sesampai nya di kamar Jen merebahkan diri di atas kasur. Rasanya capek sekali, entah karena pikirannya atau memang tenaganya terkuras karena menangis. Dering ponsel nya pun tidak Jen angkat, ia hanya melihat siapa yang menelepon dirinya. Dan lama lama Jen tertidur.
Bunda yang sudah selesai bersih bersih diri langsung menuju ke dapur.
"mbok Jen udah keluar kamar?" tanya bunda
"mbak Jen pulang bu?" tanya mbok Jum yang tidak menjawab pertanyaan bunda
"iya tandi sama saya, ya udah biar saya ke kamarnya dulu"
"iya bu, biar mbok masakin makanan kesukaan mbak Jen bu"
"iya makasih mbok" kata bunda
Sesampai di depan kamar Jen, bunda sudah mengetuk pintu beberapa kali, namun belum ada jawaban. Perlahan bunda membuka pintu, dan dilihatnya Jen sedang tidur meringkuk.
Bunda gak tau apa yang sebenarnya terjadi nak. Bunda harap ini hanya ke salah pahaman saja di antara kalian. Bunda tidak bisa membayangkan kalau,,,,,,,. Bunda tidak bisa meneruskan karena terlalu sesak jika apa yang di pikirkan itu terjadi. Beliau tidak bisa membayangkan kalau anaknya hancur, ada rasa bersalah pada dirinya jika itu terjadi. Sebelum melangkah lebih dekat dengan Jen, bunda menghapus air matanya yang sempat mengalir dan menetralkan raut wajahnya..
"Jen" bunda membelai lembut bahu Jen, bahkan Jen saja masih mengenakan baju yang sama.
Tidak ada pergerakan dari Jen, hanya terdengar nafas yang teratur. Itu tandanya Jen masih tertidur nyenyak. Karena tidak ingin menganggu, akhirnya bunda memutuskan keluar kamar saja. Tepat saat bunda membuka pintu kamar Jen, ayah sudah berdiri di depan pintu.
"ayah" bisik bunda dan menutup pintu perlahan
"Jen?" tanya ayah
"sedang tidur, kita bicara di kamar aja" ajak bunda yang melihat ayah masih mengenakan baju kerjanya.
"sebenarnya apa yang terjadi bun?" tanya ayah setelah duduk di ranjang
"Tadi itu..." bunda menceritakan apa yang ia lihat.
"jadi Axel belum tau kalau Jen pulang kesini?" tanya ayah
"belum yah, kan gak bisa di hubungi. Tapi tadi Jen sudah pamit sama Rere"
"seharusnya bunda bisa kasih tau Jen untuk tidak pulang kesini"
"kenapa yah? ayah gak mau Jen kesini?"
"bukan begitu maksudnya bun, tapikan ini posisi nya Jen marah sama Axel. Ya kalau Axel masih mau jemput Jen kesini, kalau tidak? itu kan salah Jen, Axel tidak pernah menyuruh Jen pergi kan"
"ayah, bunda jadi takut" kata bunda
"buat pelajaran bunda juga dong, apa pernah ayah kalau marah sama bunda pergi? apa pun yang terjadi saat kita bertengkar pasti ayah selalu minta tidur di satu kamar yang sama kan?"
"iya juga sih yah, ya walaupun kadang tidur di sofa" kata bunda
"ya yang penting kita bisa melihat satu sama lain. Sebisa mungkin kita hindari pisah kamar, apa lagi pisah rumah"
"terus Jen gimana?"
"ya sudah nanti kita bicara baik baik sama Jen" ayah
"iya yah, mas Al belum kasih kabar ke ayah?"
" tadi cuma kirim pesan sama ayah, janji akan membawa Axel pulang dan menyelesaikan semuanya"
"semoga hanya salah paham ya yah, kalau tidak bunda benar benar bersalah sama Jen"
"bukan cuma bunda, ayah pun sama. Ayah kira Axel orang yang tepat untuk Jen. Tapi semoga tuduhan ayah tidak benar bun"
"amin yah"
__ADS_1