Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Joko Tingkir


__ADS_3

Mendengar candaan Jen, membuat Gendis tersenyum manis.


"kamu bisa aja Jen"


"hehe, ngomong ngomong kamu tinggal di mana?"


"saya di asrama Jen, saya juga dapat beasiswa kuliah disini." kata Gendis


"wah berarti kamu pintar dong"


"kamu pasti juga pintar Jen"


"hehe, kamu tidak punya saudara disini? atau teman?" tanya Jen


"ndak ada saudara, tapi ada teman satu sekolahku yang kuliah juga disini."


"di asrama juga?"


"tinggal sama budenya"


"oh, semua teman kita juga pasti akan jadi saudara kita" Jen menepuk pundak Gendis


Mereka asik mengobrol sampai Jam istirahat selesai. Tiba tiba Jamil datang menghampiri Jen.


"apa sih?" gerutu Jen


"gue harus memastikan elo makan dengan baik" Jamil


"nanti gue makan"


"Satria sama Tamara udah nunggu di kantin, bahkan Ari juga" Jamil


"Ari? kuliah disini?"


"iya, satu jurusan sama Tamara, udah buruan. Gendis manis kita duluan ya" kata Jamil ramah, tadi ia sempat berkenalan dengan Gendis


"iya monggo, saya juga mau nyari teman saya"


Jen berjalan bersama dengan Jamil, tadi ia sudah melaporkan tentang Jen kepada Axel. Banyak pasang mata yang melihat ke arah Jen, bahkan aura kecantikan Jen semakin bertambah. Untung saja Jamil berjalan di belakang Jen, jadi tidak ada yang berfikiran kalau Jen dan Jamil adalah sepasang kekasih.


"Tia" panggil Gendis yang melihat Tia teman SMA nya


"apa?!" tanya Tia sinis


"ak....aku boleh ya main sama kamu" kata Gendis penuh harap


"jangan ngarep ya, aku ndak kenal sama kamu" kata Tia dengan logat Jawa


"tapi kan kita satu sekolah dulu, sama sama dari kampung"


"kamu yang kampungan, aku ndak mau ya sama kamu. Kita juga dulu ndak satu kelas. Jangan sok akrab deh" kata Tia yang mendorong bahu Gendis


"aduh" teriak Gendis yang jatuh di lantai


Tanpa mereka sadari Jen dan Jamil melihat kejadian itu. Tadi saat Gendis memanggil Tia, Jen sempat menoleh dan menghentikan langkahnya.


"bangun Gendis" Jen menghampiri dan membantu Gendis


"biar gue Jen" kata Jamil yang mengambil alih tangan Gendis


"heh kalian jangan mau sama dia, kampungan" Tia berkata pada Jen dan menghina Gendis


"elo yang kampungan, niat dia baik kok menyapa elo, malah lo tolak" Jen


" jelas lah, dia gak selevel sama kita" kata Cia sepupu Tia


"emang level lo kaya apa? apa pantas berteman memandang level?" kata Jen yang menatap mereka remeh. Tia dan Cia bisa melihat apapun yang melekat di tubuh Jen adalah barang branded. Bukan seperti mereka, banyak gaya tapi masih kalah dengan Jen.


"Jen, ndak papa. Maaf ya saya merepotkan" kata Gendis yang memang tidak enak


"enggak kok, lo ikut kita aja" ajak Jen


"em ndak usah Jen, nanti kamu malu punya teman kaya aku"


"kita tidak pernah memandang apapun dari pertemanan Dis, kita juga tidak malu punya teman kaya lo. Kita bakal malu kalau punya teman kaya mereka" kata Jamil dan menunjuk Tia dan Cia dengan dagunya


"ayo" ajak Jen pada Jamil dan Gendis


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sesampai di kantin, Jen celingukan mencari temannya. Saat sudah menemukan Tamara, Mereka pun segera menghampiri.


"lama lo Jen" gerutu Tamara


"maaf," kata Jen yang duduk.


Satria, Tamara, dan juga Ari melihat ke arah Gendis yang berdiri di samping Jamil dengan menunduk dalam. Kemudian Tamara melihat ke arah Jen seperti bertanya 'siapa?'.


"Gendis duduk sini" Jen menepuk kursi sampingnya


"gak papa, mereka teman kita" Jamil


"enggeh" perlahan Gendis duduk di samping Jen.


"Gendis kamu kenalan sama mereka ya, mereka teman baik gue" kata Jen dan Gendis mengangguk


"nama saya Gendis mbak" Gendis mengulurkan tangannya pada Tamara


"satu keturunan sama lo Jen?" tanya Tamara dengan senyumnya


"iya mahasiswa baru, belum ada temen" kata Jen


"gue Tamara, ini pacar gue Satria" kata Tamara yang tadi sudah menyambut uluran tangan Gendis


Gendis tersenyum dan mengangguk pada Tamara juga Satria. Namun ada yang aneh disini, Jamil yang menyadari ke anehan itu pun menyunggingkan senyum.


"kedip woy, lepas tuh mata bisa keok lo" kata Jamil melempar kentang goreng ke arah Ari.


"lah iya, gue pikir apa yang aneh. Eh ternyata dia, biasanya juga kek burung beo" Jen


"ah...ekhem" Ari menyugar poninya kebelakang.


"hay gadis hitam manis kinyis-kinyis pringas pringis" kata Ari mengulurkan tangannya pada Gendis


"ogeb itu kata kata gue" gerutu Jamil


"minjem sebentar" Ari


"boleh kenalan?" tanya Ari yang masih mengulurkan tangan


"cie Gendis" goda Jen


"nama saya gendis" Gendis menerima tangan Ari dengan malu malu


"aku Ari ganteng, biasa di panggil Ari"


"dih ganteng dari mana?" Tamara


"hahaha" tawa dari Jen dan juga Jamil. Sedangkan Satria hanya tersenyum.


"kamu jurusan apa?" Ari


"Hukum" jawab gendis menunduk


"satu kelas sama gue" kata Jen lagi


"jalan semakin mulus menuju KUA ini" celetuk Ari.


"gue laper ey, makanan berat gak ada ini?" Jen


"ini baru dateng, gue asal pesen aja" Tamara menunjuk pelayanan yang baru datang.


"kamu biar aku pesenin ya" kata Ari beranjak tanpa mendengar jawaban Gendis.


Setelah itu mereka melanjutkan acara makan, dan sesekali bercanda. Acara siang ini masih melanjutkan keliling gedung yang belum selesai.


"akhem, cewek" kata Jamil pada mahasiswi di sebelah meja mereka


"lo manggil gue?" kata gadis itu


"iya, kenalan yuk" Jamil


"punya apa lo? ke kampus naik apa? anak pengusaha apa pejabat?" tanya gadis itu


"cuma anak ayah dan ibu"


"bisa bayarin skincare aku yang mahal gak?"


"yo dak mampu aku, dudu speck idaman mu. Nuruti karepmu aku ninu ninu ninu" kata Jamil sambil bernyanyi dan perlahan menundukkan kepalanya.


"hahaha tinggalkan saja" celetuk Ari


"sabar bos" Kata Tamara


"cari yang lain" Satria


"Joko Tingkir ngombe dawet (joko tingkir minum cendol)" kata Jen

__ADS_1


"CAKEP" kata Satria, Tamara dan Ari. Jen mempersilahkan Gendis untuk meneruskan pantun nya


"jo di pikir marai mumet (jangan di pikir membuat pusing)" kata Gendis malu malu


"hahahaha" tawa mereka semua


"Gendis, jangan malu malu dong kalau temenan sama kita. Biasanya kita malu maluin" Tamara


"enggeh... eh iya" kata Gendis yang belum terbiasa.


"Jen gue besok mau private sama elo" Ari


"private?"


"iya bahasa Jawa" kata Ari menaik turun kan alisnya.


"bisa di atur itu mah, yang penting ada gini nya" Jen mengusap jari telunjuk dengan jempol nya.


"yee mata duitan" Ari


"harus lah" Jen


Mereka duduk di kantin sampai jam istirahat yang tadi di tentukan habis. Mereka kembali mencari kelompok masing masing. Sedangkan Jen dan Gendis kembali ke pos kesehatan. Jen terlihat sibuk dengan ponselnya sesekali tersenyum karena pesan Axel.


Sedangkan Gendis, hanya diam dan membaca buku. Setelah Axel pamit kembali kerja, Jen memasukkan ponselnya.


"Gendis" panggil Jen


"iya Jen" Gendis menutup bukunya


"kamu bosen gak?"


"sebenarnya bosen 😁, tapi mau gimana lagi."


"kita ke taman depan aja yuk"


"nanti kalau di hukum?"


"udah gak papa, daripada disini kan?"


"tapi aku takut"


"percaya deh sama gue" ajak Jen lagi


"em ya sudah ayo"


.


.


.


.


.


Disisi lain, Axel yang baru saja memasukkan ponselnya terlihat bahagia. Axel akan terjun ke lapangan lagi untuk melihat proses pembangunan gedung hotel.


"udah dapat semangat?" tanya Dodi


"udah lah" Axel


"gue yakin semalam lo gak tidur kan?"


"tidur dong" Axel


"masa? emang lo bisa nahan?"


"nahan apa?"


"ya masa lo pisah sama Jen beberapa hari gak kangen"


"jangan kepo,,, nanti lo pengen" Axel


"yeee anak kecil aja sombong lo"


"sombong lah kecil kecil gini mau jadi bapak"


"tua itu namanya"


"hot daddy" kata Axel menaik turun kan alisnya bangga


"hot dog kali" Dodi


"sssttt waktunya kerja, biar cepat pulang"


"gue suka disini bule nya banyak"

__ADS_1


"cuma liat doang kan? gak bisa sentuh?"


"kerja deh pusing gue lo serang mulu" dodi


__ADS_2