
Sudah beberapa hari berlalu. Hari ini Jen berangkat kuliah di antar pak Bejo, karena Axel harus meeting pagi ini. Tidak masalah bagi Jen, kalau pun boleh berangkat sendiri ia pasti juga akan senang sekali.
"terimakasih pak, Jen turun dulu" pamit Jen pada pak Bejo
"iya non hati hati"
Baru saja Jen akan melangkah, ternyata ia sudah di tunggu bodyguard gadungan 🤠.
"selamat pagi nona muda" sapa Jamil
"pagi pak Jamil" balas Jen
"emang gue bapak bapak apa" gerutu Jamil
"mirip" Jawab Jen singkat dan berjalan terlebih dulu.
"elo aja yang ibu ibu gak mirip, masa gue masih perjaka tulen dah kek bapak bapak" Jamil
"yakin tulen?"
"lo mau liat?"
"punya lo?"
"iya lah, kalau punya laki lo udah tiap hari kan liatnya?"
"hahaha elo gila"
"elo lebih gila" Jamil
"masa? yang pantes jadi orang gila kan elo"
"masa?" Jamil meniru gaya bicara Jen
"tanya aja sama orang orang" Jen
"Hay kalian" teriak Tamara
"Tam Tam" sapa Jen
"hay" sapa Satria dan Jen mengangguk
"kelas lo jam berapa Jen?" tanya Tamara
"masih dua puluh menit lagi," jawab Jen setelah melihat jam tangannya
"kita duduk di taman sana dulu yuk" Ajak Satria
"boleh, mau ngapain juga di kelas" Jamil
Setelah mereka duduk bersantai dan melihat para mahasiswa yang lalu lalang, Satria berdehem pelan.
"Jen, Jamil nanti kalian datang di acara opening kafe gue ya" Satria
"wah udah jadi?" tanya Jen
"iya, berkat suami lo juga. Gue juga udah bilang kok ke dia" Satria
"gue sih mau aja," Jen
"gue juga tambah mau lah makan gratis kan?" Jamil
"gue gak di ajak makan gratis? dimana?" saut Ari yang tiba-tiba datang
"makan aja pada cepat" Tamara
"gak makan sakit Tam," Ari
"sekalian nanti elo juga datang Ar, di opening kafe gue. Sama siapa temen kalian itu,?" tanya Satria
"pacarnya Ari?" tanya Tamara pada Satria
"iya mungkin" Satria
"pacar gue siapa,?" Ari
"GENDIS" jawab Jen, Tamara dan Jamil
"iya.... kalian manggil aku?" tanya Gendis yang juga baru mau masuk kelas
"pas banget, sini Dis" kata Jen
Mereka melanjutkan mengobrol, tentang pembukaan kafe Satria nanti sore.
"Pagi semua," Sapa Romi
__ADS_1
"Pagi" jawab beberapa orang di sana.
"Jen sudah beberapa hari gak ketemu ya, bisa kita bicara sebentar?" tanya Romi
"em silahkan kak kalau mau ngomong" kata Jen dan semua hanya menyimak
"bisa kita di sana aja" Romi menunjuk bangku kosong yang berjarak dari mereka.
"tapi...." Jen
"sebentar saja" Romi
Jen melirik teman temannya, tapi mereka semua hanya diam.
"Jen lima menit lagi kelas kita mulai," Jamil
"maaf kak, aku gak bisa"
"kalau gitu nanti aja ya, aku tunggu sampai kamu bisa" kata Romi tersenyum manis
Jen hanya membalasnya dengan senyuman, setelah itu mereka menuju kelas masing masing.
"Jen, lo mau nemuin dia?" tanya Jamil
"gak tau, maunya sih enggak" Jen
"kenapa Jen? seperti nya dia suka sama kamu" Gendis
"kamu juga akan tau alasannya Dis"
Gendis hanya tersenyum menanggapi Jen. Mereka mengikuti pelajaran dengan semangat, sampai saatnya istirahat tiba. Jen masih duduk malas di bangkunya, begitu juga dengan Gendis.
"Jen cabut yuk" ajak Jamil
"lo aja deh" Jen
"ntar lo nyesel loh" Jamil
"enggak, lo sama Gendis aja" Jen
"pokoknya lo harus ikut ayo" Jamil menarik Jen, dan akhirnya Jen nurut saja.
.
.
.
.
Axel melihat ponselnya tidak ada notifikasi masuk, tapi ia juga melihat jam.
"masih di kelas ini pasti, masih lumayan lama sih. Gue ke kantin dulu deh" gumam Axel
Setelah sampai di kantin, Axel memilih tempat duduk yang masih kosong. Ia duduk sendiri, untuk menghilangkan bosan Axel memasang earphone di telinga nya.
"Axel" Ari menepuk bahu Axel
"hey, lo udah keluar?" tanya Axel sambil melepaskan earphone nya
"iya, lo ngapain disini?"
"mau ketemu dosen, " jawab Axel yang memang ia akan bertemu salah satu dosen.
"gue temenenin yak, tapi lo harus traktir gue" Ari
"dih, gue sendiri berani" Axel
"pelit amat bos" kata Ari tapi ia duduk juga
Sedangkan Jen yang tadi di tarik Jamil pun, berjalan keluar kelas . Dan benar sekali, ternyata Romi masih menunggu dirinya.
"Jen" sapa Romi yang beranjak dari bangkunya, ia juga menutup laptopnya.
"kak Romi" Jen
"iya, tadi aku nunggu kamu. Gimana bisa bicara sebentar" Romi
"tapi Jen kita udah di tunggu" Jamil
"Lima menit aja Jen, penting" Romi
"ya sudah sebentar saja ya kak" Jen
"janji" Romi mengacungkan dua jarinya.
__ADS_1
Setelah itu Romi dan Jen menjauh dari Jamil juga Gendis. Jen duduk di sebuah kursi beton di bawah pohon, sedangkan Romi duduk di seberangnya.
"em ada apa kak?" tanya Jen yang khawatir, antara tidak nyaman dan takut kalau Jamil ngadu ke Axel.
"boleh gak aku deket sama kamu Jen?" Romi
"maksudnya kak?"
"jujur aku sangat tertarik sama kamu Jen, ijinkan aku dekat sama kamu ya. Minimal jadi teman kamu?"
"semua yang dekat ataupun jauh sudah aku anggap teman kok kak" kata Jen
"gimana ya, boleh aku minta nomor ponselmu?"
"em maaf kak," kata Jen menunduk
"kenapa?"
"sepertinya kaka tau alasannya. Saya permisi kak" Jen beranjak
"tunggu Jen" Romi mencekal tangan Jen
"maaf" Romi melepaskan tangannya saat Jen melirik nya tajam.
Kenapa sih Jen susah banget mau dekat sama kamu. Cuma mau ngobrol aja gak ada kesempatan. Kejar terus pantang mundur. Batin Romi
Jen berlalu begitu saja, ia terlihat kesal karena ulah Romi tadi.
"lo gak papa kan? apa perlu gue kasih pelajaran tuh orang?" tanya Jamil yang dari tadi melihat Jen dan Romi
"gak usah, gue laper mau ke kantin" Jen
Saat di perjalanan mereka mendengar para mahasiswi tengah membicarakan seseorang dengan kekagumannya. Entah siapa yang mereka bicarakan, tapi ada yang mengatakan di kantin. Mungkin orang itu ada di kantin.
" Jen, ada artis ya?" tanya Gendis
"artis siapa?" tanya Jen
"gak tau, kayaknya heboh banget" Gendis
"hehehe udah biarin aja, emang kamu mau lihat artis?"
"ya kalau ada Alwi Assegaf aku pasti ikut heboh Jen, minta foto juga aku gak malu" kata Gendis sambil salah tingkah
"nah kalau ada dia, gue juga mau" Jen
"mau apa?" Saut Jamil
"mau gue bungkus bawa pulang," Jen
"aku juga mau kali Jen, dia itu kaya apinya lilin" Gendis
"maksudnya?" Jen
"bikin meleleh" Gendis menutup mulutnya malu
"hahaha lo bisa juga ya suka sama orang" Jen
"normal Jen" Gendis
"iya, yang mau jadian sama Ari" Jen
"enggak Jen" Gendis
"lo gak suka sama dia?" Jamil
"kenapa jadi ngomongin Ari sih," kata Gendis
"jujur dulu, lo suka gak sama dia?" tanya Jen
"Rahasia" kata Gendis
Jen dan Jamil masih menyudutkan Gendis yang malu malu kucing. Sampai tidak terasa mereka sudah sampai di kantin. Jamil celingukan mencari Axel yang tadi sudah memberi kabar padanya.
"kita ke sana Jen" tunjuk Jamil pada meja Axel dan Ari.
"hah pangeran" kata Jen
"pangeran apaan, burisrawa?" Jamil
"enak aja, elo yang burisrawa. Ayo Dis, kita duluan" Jen menarik Gendis
"Markonah suka amat lo ninggalin gue, kalau gue di culik ciwi ciwi gimana?" Jamil mengejar Jen dan Gendis
"gak ada yang mau sama lo" Jen
__ADS_1
"liat aja nanti" Jamil