
Axel dan Jen semakin merasa panas, bahkan nafas mereka pun semakin memburu. Perlahan Axel menyentuh bagian dinding goa, dan sudah teraliri sedikit air.
"Axel" racau Jen
"tahan ya sayang, aku akan mencoba masuk"
"pelan pelan" Jen
"katanya akan sakit untuk yang pertama, kamu siap?"
"aku siap lahir batin" jawab Jen dengan membelai wajah Axel.
Axel tersenyum dan perlahan mengarahkan senjatanya untuk masuk ke dalam goa impian. Susah memang, saat ia melihat Jen yang menahan sakit ingin rasanya ia berhenti berusaha. Tapi dirinya juga tidak bisa mundur karena sudah benar benar di titik harus melangkah. Dengan perlahan Axel berhasil menembus goa impian nya. Axel menghela nafas lega, sedangkan Jen menahan perih sampai mengeluarkan air mata.
"maaf Yang?" kata Axel sambil mencium bibir Jen sekilas
"aku gak papa, lanjutkan saja." kata Jen sambil meringis
"tapi Yang, aku gak tega" kata Axel
"pelan pelan nanti juga nyaman, bergerak lah" kata Jen dengan memaksakan senyumnya.
Axel mencium bibir Jen lembut, agar Jen sedikit melupakan rasa sakitnya. Dirasa Jen sudah sedikit tenang, Axel melanjutkan perjalanan nya, bergerak perlahan. Tanpa melepaskan p*g*t** bibirnya. Cukup lama mereka menyusuri jalan yang masih sempit, sampai akhirnya mereka menemukan kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan.
"garwo, aku pengen p*p*s" kata Jen di sela perjalanan nya
"tahan sebentar lagi aku juga sampai Yang"
"tap....i aku .....eehhmmmm" racau Jen yang memang sudah sampai tujuan terlebih dulu.
Axel mempercepat gerakannya dan segera menyusul Jen.
"I love you Jen" kata Axel setelah sampai dan mengecup kening Jen.
Axel memposisikan diri nya di samping Jen, memeluk Jen erat.
"makasih sayang, maaf kalau aku menyakitimu" Axel
"enggak sama sekali, aku bahagia bisa memberikan apa yang memang sudah menjadi hak kamu" Jen
"mau minum?" tawar Axel dan Jen mengangguk
Axel membantu Jen bersandar di ranjang. Setelah memberi kan botol minuman, Axel menghapus sisa keringat dan air mata di wajah Jen. Melihat Jen yang menahan sakit Axel merasa tidak tega.
"sakit banget ya Yang?" tanya Axel
"perih banget" kata Jen meneteskan air mata
"ya udah, malam ini cukup dulu ya" kata Axel sambil memeluk Jen
"maaf ya garwo, aku belum bisa memberikan lebih" Jen
"enggak sayang, aku sangat berterima kasih dan bersyukur telah berhasil membawa kamu ke nikmat nya dunia ini. Dan juga bercocok tanam di dalam goa" kata Axel sambil cekikikan
"kok kamu ketawa sih?"
"gak papa" jawab Axel menahan ketawa dan Jen cemberut
"tiduran lagi ya," Axel
__ADS_1
"tapi ax pengen bersihin, lengket gak enak"
"nanti malah tambah perih loh, pakai tisu aja ya? biar aku bantuin" Saran Axel dan Jen mengangguk.
Jen membersihkan sisa perjalanan panjangnya dengan Axel tadi. Sedangkan Axel sedang berada di kamar mandi. Setelah balik ke kasur Axel kaget melihat bercak darah.
"Yang? kok ada darah?" panik Axel
"gak papa emang kalau pertama juga gitu kan"
"duh aku gak kebayang sakitnya Yang, maaf ya Yang. Aku...aku harus gimana?" Axel merasa bersalah
"tolong bantu aku bangun, dan gantiin sprei nya ya" Jen
"iya, kamu pakai selimut ini dulu" Axel membungkus tubuh Jen yang tanpa sehelai benang itu.
Jen duduk di kursi yang biasanya ia pakai untuk merias di depan kaca, menunggu Axel menganti sprei rasanya Jen sangat mengantuk.
"udah Yang,.. Yang?" kata Axel sambil mengelus kepala Jen yang di tumpukan pada tangan nya.
"iya aku mau tidur" kata Jen membuka matanya
"kamu gak pakai baju dulu?"
"aku udah ngantuk banget, nanti kalau banyak gerak masih sakit"
"ya udah aku bantu ke kasur."
Setelah Jen merebahkan diri, Axel juga menyusul Jen. Memeluk Jen, dan sejujurnya Axel mulai bereaksi saat kulit badannya bersentuhan langsung dengan kulit Jen. Sebisa mungkin Axel menahan, ia tidak ingin menyakiti Jen .
"Garwo, apa kamu mau lagi?" tanya Jen lemas
"beneran?" tanya Jen
"iya, besok aja kita merencanakan honeymoon. Lagian tadi juga belum ada persiapan" kata Axel tapi sudah tidak di respon Jen
Axel melihat Jen dan ternyata Jen sudah tertidur pulas, Axel masih mengelus kepala Jen yang berada di lengannya.
Ternyata seindah itu rasanya, makasih Yang kamu udah memberikan semuanya padaku. Aku sudah siap kalau pun memang kita akan punya baby, mungkin ini cara terbaik untuk kamu berubah. Dan semoga kamu juga sudah siap ya Yang. Kamu tidur nyenyak banget sih, padahal tadi siang udah tidur. Aku mana tega minta nambah. Batin Axel
Memang benar setelah melakukan kegiatan bersama suami itu, akan merasa lebih rileks dan membuat tidur lebih nyenyak. Banyak manfaat yang bisa di rasakan setelah nya.
.
.
.
Pagi ini Jen bangun terlebih dahulu, ia kaget saat melihat tubuhnya. Dengan segera ia duduk dan menutup tubuhnya. Masih sedikit nyeri pada bagian bawah sana. Jen mengingat ingat dengan apa yang terjadi.
"astaga gue bisa lupa sih" gumam Jen
"tumben amat garwo belum bangun, biasanya dia bangun duluan" kata Jen lagi setelah melihat Jam di dinding kamarnya.
Perlahan Jen beranjak dan menuju kamar mandi. Namun sayang belum sampai kamar mandi ternyata Axel sudah terbangun.
"kok gak bangunin aku sih Yang," kata Axel dan memeluk Jen dari belakang.
"gak tega kamu kelihatan nyenyak banget tidurnya"
__ADS_1
"aku lebih gak tega liat kamu kaya siput gini" kata Axel menahan senyumnya
"ih garwo tega banget ngata...." Jen tidak jadi menerus protesnya karena sudah di gendong Axel.
"aku bisa sendiri garwo"
"udah gak usah protes, iki juga udah sampai. Kunci pintu nya" kata Axel
"kok di kunci kamu keluar dulu dong" Jen
"aku mau bareng, kamu gak lihat tadi udah jam berapa"
"tap...tapi kan" kata Jen.
Axel menurunkan Jen di closed, sedangkan ia mengisi air hangat untuk berendam Jen. Setelah selesai Axel membantu Jen masuk ke dalam bathtub. Axel mulai melepaskan apa yang ia pakai dan ikut masuk bersama Jen.
"loh kok?" Jen
"hehehe bentar aja Yang, boleh ya?" tanya Axel dengan puppy eyes nya
"kita kan mau sekolah," Jen
"sebentar aja Yang, janji deh. Masa kamu tega sih Yang, tadi malem aku masih ngomong kamu udah tidur" kata Axel di buat memelas dan mulai menyentuh jeruk kesukaannya.
"sekali aja, ingat kita harus sekolah" Jen
"siap sayang" dengan gerakan cepat Axel menarik Jen di atas pangkuan nya kaya anak koala.
"gini ya," kata Axel
"tapi"
"aku bantu, kamu nurut aja"
Akhirnya Jen menuruti Axel. Setelah sama sama sampai di tempat tujuan, mereka melanjutkan niat awalnya yaitu mandi. Mandi yang seharusnya bisa cepat tapi ini menjadi lebih lama. Jen memakai kimono mandinya, dan berjalan keluar kamar mandi dengan sedikit meringis.
"mau gendong Yang?" tawar Axel dengan wajah bahagia nya.
"aku mau belajar sendiri" jawab Jen
"Yang, kamu libur aja ya. Masa iya mau sekolah kaya gitu" kata Axel yang sudah mengambil seragamnya.
"gak mau garwo" kata Jen yang masih berjalan pelan
"Yang, katanya mau nurut"
"tapi ada sesuatu yang harus aku selesaikan garwo" kata Jen sambil duduk di ranjang.
"apa?" tanya Axel yang mulai mengancingkan seragam nya.
"Tamara salah paham"
"nanti aku bantu ngomong sama Tamara" jawab Axel enteng
"gak bisa garwo, aku mau langsung ngomong sama dia"
"Yang, kamu istirahat aja ya, jangan bandel. Lemes gitu, aku juga ngilu liat kamu jalan" Axel menyisir rambut basahnya.
"tapi garwo" Jen juga sebenarnya bingung, kalau berangkat sekolah dengan kondisi seperti ini apa mungkin? tapi kalau tidak berangkat gimana masalah nya dengan Tamara.
__ADS_1
"Sayang, honey, baby, istri ku, bojoku, cintaku. Kamu di rumah aja ya, nanti biar aku yang minta ijin di kelas kamu. Masalah Tamara, nanti pulang sekolah aku antar kamu ketemu dia. Sekarang aku berangkat dulu" kata Axel