Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Burisrawa


__ADS_3

Pagi ini setelah drama panjangnya Axel, akhirnya Jen di antar Axel ke kampus. Yang membuat Axel kesal adalah Jen terlihat begitu cantik, dan beberapa hari kemarin pasti berdandan yang sama kan? pasti banyak yang lirik lirik istrinya itu kan? Menyesal juga dia kuliah online kalau gini.


"udah dong mas" Jen


"kamu terlalu cantik Yang"


"terus aku harus gimana? cuma pakai bedak sama lipstik natural kok"


"ya tapi gimana"


"apa aku pakai gigi tonggos aja?"


"ya jangan,!!"


"ya udah, yang penting kan hatiku selalu untuk kamu. Lagian aku juga lagi hamil, masa ada yang mau sama aku". Jen


"ya pasti ada Yang"


"kamu terlalu khawatir mas"


Sesampainya di kampus, sudah banyak mahasiswa yang datang. Axel masih belum membuka kunci pintunya.


"mas, ayolah masa hari pertama masuk kelas aku telat"


"ck...." Axel menarik tengkuk Jen untuk merasai bibir Jen


"is kamu merusak lipstik ku mas" kata Jen yang menarik kaca di atasnya


"biarin" jawab Axel cuek


"sini mukanya" kata Jen setelah membenarkan lipstik nya


"apa mau lagi?" tanya Axel


"jangan kepedean, itu muka cemong mau meeting?" Jen membersihkan sekitar bibir Axel yang terkena lipstik nya.


"kamu pakai cabe segala" Axel


"kalau cabe kamu udah kepedesan"


"udah ganteng, calon CEO ku. Aku kuliah dulu ya" kata Jen mengelus wajah suaminya


"jangan genit ya, hati hati" Axel mencium kening Jen.


Setelah itu Axel membukakan kunci pintunya dan Jen keluar mobil. Jen masih berdiri sambil melambaikan tangan saat mobil suami nya berjalan menjauh.


"Jen" sapa Gendis sambil kemudian menunduk


"hay, kamu baru datang?"


"iya tandi antri di kamar mandi" kata Gendis tersenyum


"antri?"


"iya kan gantian kamar mandi nya Jen"


"emang satu kamar ada berapa orang?"


"ada enam orang, kamar mandinya dua"


"oh, kamu gak pengen ngekos gitu?"


"em enggak Jen, itu juga dapat fasilitas dari kampus. Kalau aku ngekos kan kasian bapak ibuku yang di kampung"


"iya aku faham kok, semangat kuliah biar bisa bahagiain mereka ya. Jangan kaya aku" kata Jen lemah


"kamu kenapa?"


"belum bisa bahagiain orang tua, sering nya bikin repot"


"kalau ngomong orang tua suka bikin sedih Jen, jadi kangen 😌" Gendis tersenyum tipis


"udah pasti mereka juga kangen"


Gendis tersenyum menanggapi jawaban Jen. Sedang kan di parkiran setelah Jen menghampiri Gendis, sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti. Banyak yang sudah kenal siapa pemilik mobil hitam itu. Beberapa saat kemudian seorang cowok tampan, gagah, bersih, tinggi, dan kaya tentunya keluar dari mobil tersebut.


Bentuk wajah oval, hidung mancung, alis tebal dan berkulit putih itu bisa memikat banyak kaum hawa. Dengan baju semi formal juga kacamata hitam nya membuat banyak pasang mata yang terpesona.


"Romi" panggil Arif pada cowok itu


"hey bro" jawab Romi membuka kacamata hitam nya.


"gimana mahasiswa baru?" tanya Romi


"beehh cantik cantik semua Rom, lo sih gak ada kemarin" saut Riko


"sory gue beneran ada kerjaan kemarin," jawab Romi , matanya melihat ke sekitar yang terlihat banyak mahasiswa baru.


"eh gue kaya kenal dia" kata Romi yang menajamkan penglihatannya

__ADS_1


"siapa?" tanya Riko


"baju pink itu" Romi berjalan mendekat


"kemana Rom?" tanya Arif


"ikutin cuy" ajak Riko


Romi semakin dekat dengan gadis yang mengenakan dres pink itu. Perlahan ia menepuk pundak gadis itu, otomatis yang di tepuk melihat ke belakang.


"maaf" kata Romi grogi dan merasa tidak enak. Jen merasa tidak nyaman dengan Romi yang berani memegang nya.


"maaf sekali lagi, sepertinya kita pernah ketemu dan belum sempat berkenalan"


"masa sih?" Jen yang memang lupa akan hal itu


"beberapa bulan lalu di sebuah acara dinner" Romi


"nona muda Alexander?" tanya Romi lagi karena Jen masih diam


"oh Tuan " Jen mengangguk


"jangan panggil tuan, saya Romi" mengulurkan tangannya


"em saya.....J" Jen


"hey Markonah kelas kita udah mau mulai nih, ayo" Jamil yang tiba tiba datang menarik Jen pelan


"maaf kak saya duluan" kata Jen berlalu


"tunggu nama kamu siapa?" teriak Romi


"Markonah" Jamil yang menjawab


"Jamil kok kamu gitu?" Gendis


"gak papa Dis, itu akan lebih baik" Jamil


"emang iya Jen?" Gendis


"gak tau, hehehe" Jen


Romi melihat punggung Jen dan dua temannya masuk kedalam kelas.


Gak mungkin namanya Markonah, kenapa bocah tengil itu seperti melarang aku dekat dengannya. Dia kan pacarnya anak keluarga Alexander, bukan bocah itu. Batin Romi


"Rom, cabut yuk" ajak Riko


"kalian kenal gak cewek tadi?" tanya Romi yang sudah duduk di dalam kelas


"gak tau gue," Riko


"namanya Jen, gak tau Jen siapa" jawab Arif


"Jen?" Romi


"iya, beberapa hari kegiatan kemarin dia gak ikut" Arif


"kenapa?" Romi


"gue kurang tau, katanya Dekan yang meminta"


"anak Dekan kali" celetuk Riko


"bukan, dia ada hubungannya dengan keluarga Alexander" Romi


"kok lo tau?" Riko


"gue pernah ketemu dan sama tidak bisa berkenalan secara langsung dengan dia" Romi


"lo suka? dia gadis yang lo bilang bisa menggetarkan hati?" Arif


"sepertinya" Romi


"gilaaa cantik sih," Riko


"gue setuju kalau dia cantik" Arif


"eits kalian gak akan jadi saingan gue kan?" Romi menunjuk mereka


" tergantung" Riko


"gue belum kepikiran"


"ih awas ya kalian" Romi


"hahaha" tawa Arif dan Riko


.

__ADS_1


.


.


.


Axel sedang duduk kursi kerja nya, ia sedang serius dengan berkas yang tadi di atar oleh Yulia.


Ting


Sebuah notifikasi masuk di ponselnya, dengan segera ia membuka.


📩 Jamil


Lapor bos, tadi ada yang mau berkenalan dengan bos cewek. Sepertinya kaka tingkat , ganteng dan kaya.


"ah sial siapa dia"


📨 Me


Selidiki dia dan pastikan Jen baik baik saja!!!!


"gue jadi kepikiran kan, kacau nih...arrrrrhh" Axel


"hey kenapa lo?" Dody


"ketuk pintu" kata Axel malas


"udah tadi, mana filenya udah kan?" dody


"belum lah, baru juga di pegang,"


"setengah jam lagi gue balik harus selesai"


"gila lo"


"udah di tunggu bos besar" Dody menutup pintu ruangan Axel


"ah bisa gila gue mikir kerjaan, mikir istri gue. Mudah mudahan tuh cowok cuma mau kenalan aja"


Axel kembali bekerja, walaupun pikiran nya masih menuju ke Jen seorang. Sedangkan Jen yang sudah keluar dari kelas menuju ke kantin. Sudah ada temannya yang menunggu di sana.


"Jen sini" Ari meminta Jen duduk di sampingnya bersama Jamil, sedangkan Tamara, Satria duduk di depan mereka. Kalau Gendis pamit ke toilet dan tempat duduknya nanti di sebelah Tamara


"apa? ada maunya?" Jen


"ajarin gue ngerayu Gendis pakai bahasa Jawa biar keren" Ari


"pengen ngomong apa?"


Ari mengutarakan apa yang ingin ia katakan pada Gendis, setelah itu Jen memberi tau bahasa Jawa nya. Beberapa saat kemudian Gendis sudah datang.


"ekhem" Ari berdehem untuk menghilangkan rasa grogi nya.


"dek Gendis ingkang ayu temenan (dek Gendis yang cantik banget)" kata Ari


"i...iya Ari" kata Gendis bingung


"kulo sampun ganteng koyo burisrawa loh, purun mboten mangkeh mlampah mlampah kalih kulo?(saya sudah ganteng kaya raksasa / buto loh, mau tidak nanti jalan jalan sama aku)" Ari


"hah?" kaget Gendis


"iya kamu tau burisrawa kan?" kata Ari sedangkan Jen menahan tawanya.


"gue curiga ini" celetuk Satria


"diem" kata Jen tanpa suara


"tau sih, tapi kan" Gendis


"iya itu, aku ganteng seperti burisrawa"


"kamu tau burisrawa itu apa?" tanya Gendis


"ganteng banget kaya Arjuna" Ari


"ha????"


"emang apa Dis?" tanya Tamara yang penasaran


"burisrawa itu tokoh wayang, dia buto atau Raksasa" Gendis


"Hahahahaha" tawa Jen dan Jamil


"tuh kan gue bilang juga apa" kata Satria


"Jen!!!!!" Ari


"ampun Ari," kata Jen masih dengan sisa tawanya

__ADS_1


"lagian elo minta belajar sama Jen, tau orangnya jail" Jamil


"kalau gak bun...... emmmn" Ari tidak bisa meneruskan bicaranya karena sudah di suapi kerupuk di depannya oleh Jen


__ADS_2