
Sudah dua hari ini Jen menginap di rumah bunda, sedangkan Axel berada di Bali. Pagi ini Jen sedang menikmati segarnya udara di halaman belakang rumah. Hijaunya daun dan wanginya bunga yang bermekaran membuat mood Jen semakin membaik.
Jen yang memang tidak menggunakan alas kaki, berjalan pelan di atas batu kecil. Batu itu di tata sedemikian rupa di sepanjang jalan setapak halaman belakang. Selain mempercantik halaman, ini biasa di gunakan ayah dan juga beberapa orang yang bekerja rumah untuk jalan dan olahraga pagi atau sore hari.
"hati hati Jen" kata ayah yang baru duduk di kursi favorit nya sambil berjemur
"iya ayah" kata Jen yang masih jalan jalan
"Jen minum dulu" panggil bunda membawa segelas susu dan berdiri di dekat ayah
"makasih bun" kata Jen dan meminum susunya.
"mau sarapan apa Jen" tanya bunda.
"apa aja deh bun"
"ya sudah kalau pengen apa apa bilang sama bunda apa mbok Jum" kata bunda
"iya bun, itu bunga melati bunda layu, di sebelah sana" Jen menunjuk depannya sebelah kanan
"masa? perasaan bunda rawat deh" kata bunda sambil berjalan ke arah taman bunganya
"Axel gak pulang Jen?" tanya ayah, Sekarang Jen duduk di samping ayahnya
"enggak tau yah, kemarin katanya masih banyak kerjaan."
"ayah yakin Axel pasti bisa, kalau kata Al memang Axel akhir akhir ini sering manja. Mungkin dia merasa lagi pengen deket sama kamu, kemarin kan kalian habis mikir ujian, di tambah lagi liburan juga buat kerja, merasa kurang aja waktunya sama kamu." kata ayah
"iya sih yah, kemungkinan juga seperti itu."
"sebenarnya papah kamu atau ayah tidak memaksa, tapi kalau udah dapat jalan baik ya walaupun kerja keras kan pasti dapat hasil yang bagus. Masalah ingin banyak waktu sama kamu kan bisa di atur"
"Jen paham kok yah, Jen juga tidak menuntut mas Garwo yang macam-macam. Jen hanya minta semoga suami Jen sehat, kerena badan yang sehat akan lebih mudah untuk melakukan apapun."
"ayah setuju sama kamu" ayah melihat ke arah Jen yang tersenyum
"beri dia semangat dan dukungan Jen, pasti semua akan mudah di lalui Axel"
"pasti yah"
"cucu ayah gerak ya?" tanya ayah yang melihat Jen mengelus perutnya.
"cegukan yah" jawab Jen
"boleh ayah pegang?"
"boleh yah" kata Jen
"kenapa gerak ya yah?" tanya bunda yang baru selesai mengurus tanamannya
"cegukan kata Jen"
"oh, bunda juga dulu sering gitu. Kamu minum dulu Jen" saran bunda
"iya bun, Jen ke dapur dulu yah"
"iya" jawab ayah
Siang harinya setelah makan siang, Jen yang kurang kerjaan pun menskrol ponselnya melihat lihat akun sosial medianya. Saat di beranda terlihat food blogger sedang makan kepiting yang besar dan menggiurkan.
"duh gue jadi ngiler gini" gumam Jen
"hus jauh jauh dari pikiranku" Jen memejamkan mata untuk mengusir pikiran nya itu.
"aaahhh gak bisa ini, harus ini" kata Jen lagi.
Karena hasrat yang meronta akhirnya Jen memesan secara online. Jen sedang tiduran di sofa sambil menunggu pesanannya. Namun sayang, lama lama Jen tertidur.
"kok tidur disini sih Jen" gumam bunda yang celingukan mencari ayah
"maaf bu di depan ada tukang ojek yang mengantar makanan" kata bi Ar
"makanan?"
__ADS_1
"atas nama mbak Jen bu"
"oh, sudah di bayar?"
"belum bu, lima ratus ribu katanya"
"hah, pesan apa? ini orangnya tidur"
"saya kurang tau bu"
"ya sudah biar saya yang kedepan bi,"
"baik bu,"
Setelah bunda menemui dan membayar pesanan makanan Jen, bunda kembali ke ruang tengah.
"Jen" panggil bunda lembut
"hmmm"
"bangun dulu, ini pesanan makanan kamu udah datang"
"udah datang bun? mana? eh belum aku bayar" kata Jen sedikit bingung
"kamu tenang, ini udah bunda bayar."
"hufh" Jen menutup matanya sejenak untuk mengumpulkan nyawanya.
"kamu pesan apa sih? gak salah 500 ribu?"
"enggak bun, nanti Jen ganti ya"
"bukan masalah uangnya, kalau memang ini benar pesanan kamu ya gak papa"
"iya tadi Jen pengen di kepiting yang gede 😁" kata Jen dan berusaha duduk
"ya udah biar bunda bawa ke dapur ya"
"makasih bunda"
"di dapur yah, ayah mau kemana?"
"mau ada acara sama temen, kamu mau ikut,?"
"enggak yah,"
"ayah tinggal sebentar ya, sama bunda juga"
"iya yah"
Sesampainya di dapur bi Ar sedang menyiapkan kepiting Jen di wadah yang lumayan besar.
"waw ngiler ini bun" kata Jen
"kamu makan, bunda pergi dulu ya sayang"
"hati hati bun,"
Setelah bunda meninggalkan meja makan, Jen segera memakan kepiting yang memang menggiurkan. Ia sempat menawarkan bi Ar untuk ikut makan, tapi sayang bi Ar mempunyai alergi seafood.
"lah da lah,,... gak pedes itu mbak?" tanya mbok Jum yang baru datang
"enggak mbok, mau sini makan sama aku"
"hhmmm mbok gak berani pedas mbak"
"hehehe" Jen hanya tertawa menganggapi mbok Jum.
Setelah makan Jen melihat ponselnya, tidak ada pesan maupun panggilan dari Axel. Jen tidak terlalu pusing sih, ia paham pasti suaminya sedang sibuk.
Untuk menghilangkan rasa bosan Jen menghubungi Tamara dan Sasa, sudah lama sekali rasanya mereka tidak mengobrol. Apalagi besok adalah hari pertama masuk kuliah. Jen kuliah mengambil jurusan Hukum, entah kenapa itu yang menjadi minat juga niat Jen. Sedangkan Axel mengambil jurusan bisnis dan management, alasan nya pasti ia ingin menjadi pengusaha sukses dan bisa membantu papahnya. Selain itu, Axel juga mengikuti klas desaign untuk menggali kemampuannya.
Sore ini setelah selesai mandi, Jen segera keluar dengan handuk yang masih melilit tubuhnya. Ia sempat terkejut saat melihat sosok laki laki yang tidur di ranjangnya. Jen mendekat dan memastikan kalau yang ia lihat adalah Axel.
__ADS_1
"mas" panggil Jen
"Yang,,,, kangen banget" Jen sedikit terhuyung karena tiba tiba Axel memeluknya erat.
"mas lepasin" kata Jen sedikit berontak
"gak mau, aku kangen banget"
"ih aku sesak ini, kamu gak kasian sama anak kita?"
"astaga lupa Yang, maaf ya jagoan Daddy. Daddy kangen banget sama mommy kamu" kata Axel yang melepaskan pelukannya dan mengelus perut Jen
"kok kamu pulang sih mas?"
"huhff suaminya pulang malah di tanya kok pulang" Axel menirukan pertanyaan Jen tadi
"bukan gitu mas, kan kamu banyak kerjaan, gak ngabarin aku juga"
"ya tadinya biar surprise Yang"
"terus?"
"enggak jadi aku capek banget Yang 😁" Axel sedikit tersenyum
"ya udah mandi sana, biar capeknya ilang"
"nanti aja, kan mau olahraga"
"katanya capek?"
"kalau buat olahraga sama kamu gak ada kata capek"
"maks...... em" Axel segera menyambar b*b*r Jen yang memang dua hari ini tidak ia absen.
Perlahan tapi pasti Axel melancarkan aksinya yang memang sudah ia pendam. Jen hanya pasrah dan menuruti apa mau suaminya. Sore ini mereka lewat kan dengan olahraga bersama. Setelah selesai mereka beristirahat sebentar kemudian Jen kembali mandi.
"Berarti besok pagi kamu balik ke Bali mas?"
"iya Yang, padahal aku masih kangen"
"ya udah sabar, kan tinggal beberapa hari lagi"
"tapi besok kamu kuliah loh Yang" Axel merebut sisir di tangan Jen, dan perlahan menyisir rambut Jen
"ya kan aku bisa berangkat sendiri"
"gak Yang, biar aku antar"
"tapi kan kamu harus kerja mas, nanti di marah papah loh. Katanya mau jadi orang yang bertanggung jawab"
"biar di antar pak Bejo aja"
"iya, kamu tenang aja. Ayo kita keluar, ayah sama bunda pasti udah nunggu"
"Axel? kapan kamu datang?" tanya ayah
"tadi sore yah,"
"gimana kerjaan kamu lancar?"
"Alhamdulillah yah, semua berjalan sesuai rencana"
"kamu semangat ya, pasti bisa"
"terimakasih yah"
"kamu jadi pulang Jen?" tanya bunda
"iya bun, besok Jen kan udah kuliah"
"kamu hati hati Jen, apa perlu pengawalan?" ayah
"iya Yang, kemarin juga udah di tawari papah. Aku juga akan lebih tenang Yang"
__ADS_1
"enggak ah, aku akan hati hati kok yah, mas. Janji deh" kata Jen
"ya sudah kalau gitu" ayah