Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Jeruk


__ADS_3

Jen bengong dengan apa yang di tunjuk Axel. Apa hubungannya ini dengan tidak bisa tidurnya Axel. Sedangkan Axel memperlihatkan wajah memelas.


"Yang,?" panggil Axel


"aku gak paham" jujur Jen


"uh" Axel membelakangi Jen. Persis seperti anak yang merajuk


"kamu kenapa?" tanya Jen


"ayo tidur lagi," ajak Axel dan menarik tangan Jen. Jen menuju ke kasur terlebih dulu, sedangkan Axel menutup pintu dan ke kamar mandi.


Axel naik ke atas kasur dengan wajah cemberut nya. Jujur baru kali ini Jen melihat wajah Axel seperti itu.


"aku balik kamar Tam Sa aja ya" kata Jen


"sana kalau kamu tega" jawab Axel sinis


"ya kamu cemberut gitu"


"aku mau jeruk ini, boleh ya?" pinta Axel menunjuk sesuatu


Jen hanya terdiam dan berfikir, apa nanti akan lebih dari yang ia bayangkan. Tahu kekhawatiran Jen, Axel membuka suara lagi.


"janji, cuma makan jeruk aja" kata Axel dan Jen masih diam


"ya udah, gak jadi" Axel menutup seluruh badannya dengan selimut dan membelakangi Jen.


Jen pun menjadi bingung. Antara mau dan tidak, ikhlas dan belum ikhlas. Jen teringat lagi pesan bunda.


"Axel" panggil Jen sambil mencolek punggung Axel. Tidak ada jawaban dari Axel


"ya udah kalau gak jadi" gumam Jen yang masih bisa di dengar Axel


"Jadi Yang, boleh ya?" kata Axel langsung berbalik.


"janji ya, hanya ini" kata Jen dan Axel mengangguk pasti.


"makasih Yang" Axel memeluk Jen.


Cepat atau lambat ini semua juga pasti akan terjadi. Aku harap ini mulai menjadi ladang pahala bagiku, menambah erat ikatan rasa yang belum tumbuh di hatiku. Agar segera mungkin kita bisa saling mencintai. Batin Jen dalam dekapan Axel.


Perlahan Axel mengurangi pelukannya, di pandangannya Jen yang hanya diam. Axel mendekatkan wajahnya ke wajah Jen. Mencium bibir Jen, Jen pun perlahan membalasnya. Saat Jen menikmati ciuman Axel, perlahan tangan Axel membuka kancing piyama Jen. Jen masih belum sadar akan hal itu, tapi saat telapak tangan Axel mulai mengusap lehernya hingga turun kebawah. Ada desiran yang belum pernah Jen rasakan.


Jen membiarkan tangan Axel bergerak, karena ia juga menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Axel menyudahi tautan bibirnya dan berpindah ke leher Jen.Tangannya pun ikut memijat pelan sesuatu yang sangat di inginkan nya tadi. Mencium dan memberikan tanda kepemilikan nya di leher istrinya, Jen yang geli pun hanya bisa melenguh. Puas bermain di leher, Axel mulai turun ke bawah mencari jeruk. Sebelum memakan jeruk yang lumayan besar 🤭, Axel mengeluarkan salah satu jeruknya dari dalam bungkusan.


Jen reflek menutup jeruk itu dengan tangannya. Membuat Axel yang tadi ingin melihat dulu menjadi bingung karena tingkah Jen.


"kok di tutup jerukku?" tanya Axel


"em, ak,, aku" kata Jen terbata


"tapi aku udah gak sabar pengen makan jeruknya," kata Axel yang perlahan menyingkirkan tangan Jen.


Axel mencium dan mulai mencicipi jeruk yang sangat menggiurkan baginya. Sesekali ia menghisap jeruk itu. Tidak lupa memberikan tanda pada jeruk miliknya. Jen hanya diam dan pasrah.


.


.


.


Pagi ini saat Axel membuka matanya, ia sangat merasa bahagia. Moodnya sangat bagus hari ini, hanya ingin tersenyum saat melihat jeruk yang tadi malam ia makan terpampang di depan wajahnya.


Jen pun perlahan membuka matanya, saat merasa ada sesuatu yang mengganggu tidurnya.


"Axel" panggil Jen sambil menjauhkan wajah Axel yang ada di dadanya

__ADS_1


"aawww" teriak Jen sambil memukul pelan punggung Axel


"sakit, lepasin" kata Jen yang mencubit lengan Axel


"kamu itu Axel, Axel mulu, aku suamimu Yang" kata Axel setelah melepaskan gigitannya pada sesuatu di depannya.


"aku gak mau ya kasih jeruk lagi, kamu nakal" kata Jen langsung beranjak ke kamar mandi.


"loh Yang, maaf Yang." kata Axel yang mengetuk pintu kamar mandi.


Sampai di meja makan pun Jen masih cemberut, sedangkan Axel merasa bahagia dan membujuk Jen. Bagaimana tidak, tadi setelah selesai mandi Jen baru sadar kalau dirinya seperti macam tutul. Kalau Axel mah bangga dan bahagia dengan hasil karyanya.


"kamu cantik dan seksi tau Yang, udah jangan ngambek" itu lah kata kata yang keluar dari mulut manis Axel.


"kenapa lo asem gitu?" tanya Sasa yang baru duduk di meja makan


"gak papa" jawab Jen


"kita jadi berangkat jam berapa Xel?" tanya Dio


"sehabis sarapan kita ke penginapan aja, jam delapan lah kita berangkat bersama." jelas Axel


"aku gak mau bareng sama mereka, takut pada nanya" saut Jen


"kok gitu sih Yang, biarin lah mereka tahu" Axel


"enggak, gue belum siap"


"terus lo gak ikut Jen?" Tamara


"ikut, gue bawa mobil sendiri aja" Jen


"jangan dong Yang, kan ada mereka gak akan ada yang curiga" Axel menunjuk Sasa dan Tamara


"ih aku masih marah sama kamu ya garwo, biarin aku berangkat sendiri, main sendiri" kata Jen dengan gaya marah


"aku bisa nyetir sendiri" Jen


"Yang" panggil Axel tanda tidak setuju


"ampun nyuwun jeruk, kulo gemang" kata Jen memalingkan wajahnya (jangan minta jeruk, aku gak mau)


"ancamannya gitu sih. Ya udah boleh bawa mobil sendiri, yang penting tidak hilang dari pandanganku." Axel pasrah


"lo ngomong apa Jen?" tanya Sasa


"rahasia," Jen


"yang gue paham hanya jeruk dan Kemang" saut Tamara sedangkan Jen tersenyum mendengar itu.


"apa Xel?" tanya Dio


"beli jeruk di Kemang" jawab Axel


"pagi semua, belum telat kan gue ikut sarapan" sapa Dodi


"belum, duduk lo" kata Axel


"gue pamit sekalian ya Xel, Jen. Mau langsung balik ke asal kota," kata Dodi


"kota asal kali kak" saut Jen


"maklum laper jadi kebalik" Dodi


"semua urusan disini udah kelar kan?" tanya Axel


"beres, gue juga udah bilang sama om kok"

__ADS_1


"oke thanks, lo hati hati nanti"


"siap".


.


.


.


Setelah selesai sarapan, Axel, Satria dan Dio menuju ke penginapan. Sedangkan Jen, Sasa dan Tamara menunggu di dalam mobil. Rencana nya hari ini mereka akan ke Bedugul. Bus yang akan mengangkut mereka pun juga sudah siap, semua rombongan teman Axel pun sudah naik.


Semua sudah siap, Axel meninta Satria buat menjadi sopir Jen dan teman temannya.


tok tok tok


Satria mengetuk kaca mobil Jen


"apa?" tanya Jen.


"pindah belakang, biar gue yang nyetir" kata Satria


"hah?"


"udah sana buruan, Axel yang nyuruh,"


Akhirnya Jen menurut saja.


"hay Tam," sapa Satria


"nanti kita foto yang banyak ya?" Satria


"kenapa?" Tamara


"agar aku tidak berat, saat merindukan mu" gombal Satria


"gombal" kata Jen dan Sasa dari belakang


Didalam bus, Axel yang tadi memberikan arahan pun sekarang akan mencari bangku yang masih kosong.


"Axel, sini aja" kata Mira yang melihat Axel berjalan ke belakang.


"gue di sana aja" kata Axel sambil berlalu


"gue aja yang duduk sini," kata Dio langsung duduk di sebelah Mira


"jauh jauh sana lo, ogah gue duduk sama lo" sinis Mira


"galak amat, ntar gak ada yang suka loh"


"emang situ ada yang suka"


"lah gue punya pacar ya, emang elo retak" Dio


"Retak?" Mira


"iya remaja tanpa kekasih" kata Dio langsung berdiri dan pergi sambil tertawa


"Dio,,,,,,!!!!!! awas lo" kesal Mira


Sedangkan yang lain menertawakan Mirna yang kesal. Axel terlihat gelisah, pikirannya hanya Jen yang berada di mobil lain. Axel menyenderkan kepalanya di kursi bus, ia mengingat tadi malam. Senyum manis terukir di bibir Axel. Entah kenapa ia bisa menginginkan hal itu.


Makasih Yang, kamu perlahan sudah mau memberikan hak ku. Aku janji Yang, hanya kamu pertama dan sampai akhir nanti wanita satu satunya yang aku sentuh. Batin Axel yang tersenyum sambil memejamkan matanya.


Namun sayang semua itu di perhatikan oleh Dio. Dio merasa heran dengan tingkah Axel pagi ini.


"Xel, lo gak kesambet kan?" tanya Dio.

__ADS_1


__ADS_2