
Karena masih pada diam Jamil pun menghampiri Jen.
"kenapa?" tanya Jamil berbisik di mic dan terdengar mereka semua
"itu, " jawab Jen dengan berbisik juga
"oh,,, ok" kemudian Jamil menuju ke Axel
"hey ketos boleh lah minta coklatnya atu?" tanya Jamil sambil mengacungkan jari telunjuknya. Axel pun menggangguk, karena memang Axel mendapatkan banyak coklat dari para fansnya.
"fansnya oppa, minta satu coklatnya yang iklas ya, " seru Jamil
"oke kaka" jawab mereka yang kebanyakan adik kelas
Setelah membawa satu coklat Jamil menuju meja dan meminjam vas bunga lalu membawanya menuju panggung.
"ini buat Julietnya ALFAM" kata Jamil menyodorkan vas bunga dan juga coklat.
Butuh duit...
jreng jreng πΆπΆ
*Gak butuh bunga coklat butuhnya duit
πΆπΆπΆπΆ jreng jreng*
Nyanyi an Jen yang mewakili semua anggota band dadakan. Karena tadi memang uang yang di kasih pak Alex di kantongi Jamil.
"eh elo jangan ngajak ngajak mereka, ntar gue kasih, udah nyanyi dulu" kata Jamil
*Butuh duit
πΆπΆπΆ*
"eddah ni anak, ni atu buruan nyanyi gak enak sama bapak Al" Jamil memberikan selembar uang yang ia dapat tadi.
Jen mulai menarik nafasnya dan bersiap menyanyi
Yen ing tawang ono lintang
wong bagus hhmmmttt
Jen tidak dapat meneruskan lagunya karena di bekap Jamil. Semua pun tertawa melihat mereka , aja juga yang merasa merinding karena Jen menyanyikan ala sinden jawa. Suara Jen yang bagus sebenarnya bisa menyanyi lagu apa saja. Karena Jen juga keturunan Jawa Jen bisalah menyinden.
"jangan lagu itu, gue merinding" kata Jamil lagi sambil melepaskan tangannya dari mulut Jen
"uangnya kurang, lah mereka juga butuh uang, biar semangat ngiringin gue, bukan begitu man teman?" tanya Jen pada personil band dadakan
"teman matre kalian itu, nih bagi bagi" Jamil merogoh saku untuk mengeluarkan uang nya,
"sini biar gue yang bagi" Jen mengambil semua uangnya, memberikan ke Jamil satu lembar,
"nih tiga ratus berdua, tiga ratus berdua, kita tiga ratus berdua Ar, adil kan?" tanya Jen
"ADIL BOS" jawab mereka
"eh munaroh, gue cuma dapet seratus, adil dari mana kalian dapetnya seratus ma puluh" protes Jamil.
"udah lo kan cuma bawa kecrekan paling enteng itu mah, ntar pulang dari sini lo lanjut ke lampu merah pasti dapat banyak" saran Jen dan di iyakan semuanya.
"mana bisa gitu,"
"em maaf om, eh maksudnya pak mau request lagu?" tanya Jen pada pak Alex
"apapun boleh yang penting happy"
"okey everybody siap?" tanya Jen pada semua. Dan di jawab mereka dengan acungan jempol.
"siap siap awas ya gak bisa ngiringi, gue ambil tuh duit" kata Jen
__ADS_1
"sok atuh nyanyi kita pasti bisa, namanya juga band dadakan tidak bagus ya wajar di maaf kan ya pak bu, sedikit curhatan ini tadi tidak latihan apalagi persiapan, semua murni terbentuk beberapa menit yang lalu dan tidak tau lagu yang akan kita bawakan" kata Jamil
"boleh minta tepuk tangan nya biar kita semangat" pinta Jamil dan di sanggupi semua yang menonton.
Jen mengambil posisi dan mulai bernyanyi.
Mau makan mau minum bikin sendiri
Nyuci baju celana nyetrika pun sendiri
Apalagi bila tanggal tua mendekati
Aku bagai perawan yang tak punya suami
Nasib memang nasib jadi begini
Apa apa semuanya ku lakukan sendiri
Lama lama mumet juga eh kalau begini
Bisa talak tilu talak tilu
Alala tum jahe jahe aca aca nehi nehi
Aduh biyung iyong ora sudi
Bila sifatmu terus begitu
pulang saja kau pulang
kerumah orang tuamu
Maunya aku marah aku bingung sendiri
Baru mau ngomong eh malah di tinggal pergi
mondar mandir sendiri bingung mau ngapain
bila ada uang abang kusayang,
bila tak ada jatah kopi pun hilang.....
Lagu kedua yang di nyanyikan Jen juga tak kalah bikin heboh dan membuat semua terhibur.
Memang penuh kejutan, lucu dan unik. batin Axel
Semua kelas sudah menampilkan suguhan yang menarik, tapi hanya ada tiga juara umum dan juara favorit. Dan akhirnya kelas Xll ips 1 mendapat juara Favorit yang mendapatkan hadiah satu juta rupiah plus saweran bapak pemilik sekolah tadi satu juta.
Di belakang panggung
"Jen sayang" panggil mama Rere
Merasa namanya di panggil Jen pun berbalik.
"Tante, om" sapa Jen dan menghampiri kedua sahabat orang tuanya lalu mencium tangan mereka.
"kamu itu pinter nyanyi, kaya ayah kamu" kata pak Alex
"ah om bisa aja, Jen jadi malu" jawab Jen malu malu
"malu maluin kali Jen" celetuk Sasa dan di angguki Tamara
"ih kalian" kata Jen
"kalian itu lucu lucu sekali, Jen tante seneng lho kalau kamu mau main ke rumah tante,"
"iya Jen nanti kita duet hehe" imbuh Alex
"iya om, tante, kapan kapan Jen main main ke sana"
__ADS_1
"eh tante kenalin sama anak tante ya, tapi mana" Rere celingukan mencari. Namun belum sempat ketemu handphone Rere berdering.
"pah, Ayu sama Adi udah nunggu,"
"sayang maaf ya, kapan kapan tante kenalin, ini ayah sama bundamu udah nunggu tante sama om" jelas Rere
"iya tante, om"
"ya udah kita pergi dulu ya semua nya" kata Alex dan di jawab anggukan dari Jen, Sasa dan Tamara.
"sopan juga sama orang tua" gumam Axel yang melihat perilaku Jen terhadap orang tuanya. Ya walaupun tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
"Xel, gue cariin juga, ngapain sih?" Tanya Dio
"oh gue tau, lo liatin mereka kan?" tebak Dio
"apaan sih, tadi gue janjian sama nyokap tapi malah udah pulang" jelas Axel
"ayo beresin panggung" ajak Axel dan di angguki Dio. Sebelum melangkah terdengar suara yang memanggilnya.
"Dio" seru Sasa
Dio berbalik dan melihat Sasa yang melambaikan tangan.
"lo duluan aja Xel" kata Dio dan di angguki Axel
"em Dio gu gue mau balikin hoodie lo, dari kemarin gue lupa" kata Sasa yang mengambil hoodie Dio di dalam tasnya.
"kite duluan ye santan" kata Jen dan Tamara barengan
"eh kok santan, siapa?" tanya Sasa
"Sasa santan" paduan suara Jen dan Tamara kemudian berlari
"hey kampret lo pada" teriak Sasa pada dua sahabatnya. Dio yang melihat itu pun hanya tersenyum.
"eh Dio senyum senyum," kata Sasa malu
"temen lo lucu lucu ya, kamu juga" kata Dio tanpa sadar
"apa?"
"em lo lucu, boleh minta no WhatsApp?" tanya Dio ragu sambil menyodorkan ponselnya.
Sasa menerima ponsel Dio dan mengetikkan nomor ponsel nya.
"ini, em makasih ya buat hoodienya maaf kalau kelamaan"
"iya sama-sama,"
"Dio, gue balik duluan ya"
"iya hati hati di jalan"
Sasa mengangguk dan mulai melangkah ke parkiran. Sasa berjalan dengan senyum yang mengembang, entah kenapa rasanya bahagia sekali.
"masih waras kan Sa?" tanya Jen
"udah edan Jen" jawab Sasa masih senyum senyum
"yeh ngaku dia Jen" saut Tamara
"AAAAAAAAA" teriak Sasa tiba tiba, ia merasa gemas membayangkan tadi.
"kabur Tam, takut nular" kata Jen
"bener banget"
Akhirnya mereka meninggalkan Sasa sendiri. Dan Sasa belum menyadari nya.
__ADS_1
#minta dukungannya dong buat semangat, like dan komen ya π₯°ππ
.......