
Setelah selesai acara di kafe Satria, mereka memutuskan untuk pulang. Namun rencana menginap di rumah Tamara tidak jadi, karena Axel berubah pikiran. Tamara dan Gendis yang akan menginap di rumah Jen.
"Tam, memangnya gak papa menginap di tempat Jen?" tanya Gendis yang satu mobil dengan Tamara
"sepertinya gak masalah Dis, kan mereka yang minta kita menginap di sana"
"nanti kalau mertuanya Jen marah gimana?" Gendis
"setahu gue sih enggak ya, mereka baik banget kok. Mungkin lo juga udah kenal mertua Jen"
"aku gak kenal mereka Tamara"
"liat saja nanti 😁"kata Tamara
Terlihat mobil Axel memasuki sebuah gerbang, di susul dengan mobil Tamara. Kesan pertama Gendis saat melihat dari depan rumahnya saja sudah sangat mewah. Gendis hanya diam dan takut untuk turun dari mobil.
"ayo Dis," ajak Tamara
"kamu yakin Tam?"
"iya, lo tenang aja"
"tapi kan aku dari kampung, mana bajuku kotor dan jelek. Ini rumah apa istana?" Gendis
"Gendis lo tenang aja, gak bakalan di usir dari sini. Ayo" Tamara turun terlebih dahulu dari mobil.
Axel sudah masuk, sedangkan Jen masih menunggu di depan halaman. Perlahan Gendis turun dan menundukkan kepalanya, Tamara yang gemas pun menarik Gendis pelan.
"kenapa?" tanya Jen
"aku takut Jen" jujur Gendis
"takut apa?"
"ini istana ya, aku merasa kotor" Gendis
"ini rumah Gendis, kita semua sama jangan berfikir seperti itu. Udah ayo" ajak Jen
Mereka melangkah masuk, saat menginjak ubin keramik Gendis melepas alas kakinya. Dengan buru buru Gendis menyusul Jen dan Tamara yang sudah berada di depan pintu.
"sayang" sapa mamah
"mamah" sapa Jen mencium tangan mertuanya, di ikuti Tamara dan terakhir Gendis.
"mah ini Gendis teman Jen"
"oh kamu teman Jen yang dari Jawa?"
"iya bu" jawab Gendis
"ojo celuk bu, celuk mamah utowo tante (jangan panggil bu, panggil mamah atau tante)" kata mamah
"iya Tante," Gendis tersenyum
"eh kalian udah makan belum, ikut tante yuk" mamah mengajak mereka ke dapur.
"udah tadi di kafe Satria Tante" kata Tamara
"ah iya, tadi Tante di undang tapi sayang banget Tante gak bisa datang"
"Gendis manis sepatu kamu mana nak?" tanya mamah yang menyadari kalau Gendis tidak pakai sepatu
"di lepas di depan tante" kata Gendis
"Astaga kenapa di lepas 😁, udah kaya ke masjid aja kamu itu" kata mamah
"rumah nya bagus tante, sepatu Gendis kotor"
"gak papa Gendis, orang mamah gak nyuruh kamu ngepel" Jen
"iya betul, kamu jangan takut takut gitu. Tante gak galak kok. Bi tolong buatin minuman untuk mereka ya, sama nanti siapin kamar" mamah sudah di beritahu Axel kalau nanti teman Jen akan menginap.
"iya nyah siap" Bibi
"Yang,,, kamu ganti baju dulu sana. Kasian babynya gak nyaman" kata Axel yang menghampiri Jen di dapur.
"iya, gue tinggal sebentar ya" pamit Jen
Setelah kepergian Jen, di meja makan tinggal mamah, Tamara dan juga Gendis.
__ADS_1
"mah, kopi papah mana?" tanya papah yang datang ke dapur
"ya ampun lupa pah," mamah menepuk jidatnya
"bapak pemilik kampus" kata Gendis reflek
Membuat semua orang yang ada di sana melihat ke arah nya, Gendis pun menunduk takut.
"dia temennya Jen pah," jelas mamah yang tau kalau papah bingung.
"selamat malam om" sapa Tamara dengan menjabat tangan papah
"kamu Tamara kan, saya masih ingat" canda papah dan Tamara mengangguk.
"sa.....saya Gendis pak" Gendis juga mengulurkan tangannya.
"kamu yang dari Jawa itu ya?"
"iya pak" jawab Gendis
"Gendis, Tamara itu kamarnya udah siap, kita ke sana yuk" kata Jen
"iya kalian istirahat dulu saja," mamah
"bakalan kedinginan nih" celetuk papah yang melihat Axel menarik kursi
"enggak juga" Axel
"yang bener,??? Jen nanti kalau tengah malam Axel ketuk pintu jangan di bukain" kata papah
"hehehe iya pah" Jen
"papah apaan sih," Axel
"udah Jen kalian istirahat sana, kunci pintu Jen. Nanti ada yang kelaparan" papah
"makan lah kalau lapar" Axel
"liat aja nanti" kata papah
"pah, mah Jen ke kamar dulu ya." kata Jen
"Yang, aku gak di pamiti?" Axel
.
.
.
Ketiga gadis itu pun menuju ke lantai dua rumah ini. Tadinya Axel melarang Jen untuk naik ke lantai atas, namun dengan janji manis Jen membuat Axel mengalah. Sesampai di depan kamar, Jen membukakan pintunya.
"wah bangus banget" gumam Gendis
"kalian mau ganti baju gak?" tanya Jen
"boleh deh, tapi jangan daster kaya punya lo itu" kata Tamara menahan senyumnya
"eem jangan salah, daster kek gini aja selalu menjadi pilihan utama para ibu muda dan para gadis." Jen
"masa?"
"ck gak percaya, daster ini serbaguna tau." Jen
"serbaguna apa? cuma buat di rumah tidur kan?" Tamara
"ish lo liat itu artis cantik yang suka pakai daster, auranya gak luntur kek gue. Orang ke pasar pakai daster, ngater sekolah, nyuci, melakukan pekerjaan rumah, beli cemilan, nongkrong malam malam, dinas siang malam, tidur, dan yang paling penting bisa membangkitkan semangat suami naik turun gunung. The power of daster itu" jelas Jen
"maksud nya dinas siang malam apa Jen?" tanya Gendis polos
"ya itu kan ibu ibu suka pakai daster di siang dan malam saat melakukan pekerjaan rumah dan tugas istri.." kata Jen nyengir
"kalau semangat suami naik turun gunung itu gimana?"
"em itu...." Jen
Duh gue salah ngomong nih, kenapa mulut gue lemes banget sih. Batin Jen menyentuh bibirnya.
"hey jawab" kata Tamara dengan muka yang menyebalkan.
__ADS_1
"gue ambilin baju buat kalian aja, bye" Jen berlalu agar tidak menjawab pertanyaan Tamara.
"hahaha" suara tawa Tamara
"Tamara, kenapa?" Gendis
"gak papa Dis, itu Jen mati kutu" kata Tamara masih dengan tawanya.
Setelah beberapa saat Jen kembali dengan dua pasang piyama miliknya, yang berada di kamar lamanya dengan Axel.
"ini kalian ganti baju dulu" kata Jen, dan Tamara yang memutuskan untuk ke kamar mandi dulu.
"Jen, ini kaya di hotel ya? eh tapi hotel yang pernah aku nginap tidak sebagus ini" Gendis
"lo pernah menginap di hotel?"
"iya dulu pas di ajak ibu ke hajatan saudara, cuma sekali itu aja" kata Gendis tersenyum malu
"hehehe gak papa Dis, besok gue ajak nginep di hotel lagi."
"gak usah Jen, di sini aja sudah kaya di hotel. Jen tadi bapak pemilik kampus kan?"
"iya itu papah mertua gue"
"jadi ini alasan kenapa kamu dulu gak ikut MOS?"
"ya yang pasti karena hamil Dis" Jen
"iya Jen, aku beneran baru tau kalau kamu hamil,"
"maaf ya Dis, bukan maksud gue bohong sama lo, tapi memang gue belum siap aja" Jen
"gak papa Jen," Gendis
"gue udah selesai Dis, lo gantian deh" kata Tamara
"iya Tam"
"Jen, hamil enak gak?" tanya Tamara tiba tiba
"kenapa lo tanya gitu?" tanya Jen yang sudah bersandar di ranjang
"penasaran aja"
"lo mau macem-macem?"
"enggak lah, gue kan butuh pengalaman"
"ya enak gak enak sih Tam, tapi di bawa happy aja" Jen
"jawaban yang tidak valid" Tamara menghapus make up nya.
"hahaha besok lo juga pasti merasakan."
tok tok tok
"Yang" panggil Axel
"Jen suami lo?" Tamara
"iya mas" teriak Jen
"Yang, sini dulu" kata Axel yang sudah membuka pintu.
"hmmmm ada apa sih mas?" Jen berjalan menghampiri Axel
"kita tidur di situ yuk" Axel menunjuk kamar lamanya.
"mas..!!" Jen tidak setuju
"aku gak bisa tidur Yang,"
"bisa udah sana"
"ada yang kurang loh Yang"
"udah di kasih semua tadi"
"ah..!!!" Axel menarik pinggang Jen dan menguncinya. Perlahan Axel mencium bibir Jen.
__ADS_1
Axel lupa kalau mereka sedang berada di depan pintu, sedangkan Tamara duduk membelakangi mereka di meja rias berbalas pesan dengan Satria.
"astagfirullah.." Gendis yang melihat itu pun reflek menutup matanya.