
Axel mulai melancarkan aksinya, sedangkan Jen menikmati setiap apa yang di lakukan Axel.
"garwo" panggil Jen
"sebentar lagi ya sayang" Axel
"bu...ah..bukan itu maksudnya" kata Jen terbata
Axel berhenti menikmati jeruknya, dan melihat ke arah Jen yang terlihat bingung.
"kenapa Yang? sakit?" tanya Axel
"kamu, em" Jen menggigit bibir bawahnya ia bingung mau menyampaikan sesuatu pada Axel.
"Yang, kalau kamu gitu aku semakin gak kuat ini. Nanti aja ya ngobrol nya, udah di puncak banget" kata Axel membelai wajah Jen
"tapi garwo, aku gak bisa" kata Jen menutup mata
"gak bisa apa Yang?" tanya Axel bingung
"ak,,,,,aku. Ada penghalang di antara kita garwo". jelas Jen
"maksud kamu apa sih Yang?"
"masa kamu gak tahu?" Jen
"enggak, nanti aja sekarang aku udah gak tahan" Axel meraba p*r*t Jen dan akan membuka *e*ana Jen.
"stop garwo, jangan" kata Jen memegang tangan Axel
"Yang?" Axel sedikit frustasi
"Garwo, aku baru datang bulan," kata Jen
"hah?"
"iya penghalang di antara kita" Jen
"Yang? kamu jangan becanda dong. Aku udah siap 78 loh ini" Axel
"aku gak becanda garwo" kata Jen serius
Axel pun langsung lemas dan menjatuhkan diri nya di samping Jen. Tak lupa ia mengacak-acak rambutnya.
"maaf garwo" kata Jen yang kasihan juga ingin tertawa
"terus gimana?" tanya Axel menunjuk sesuatu di bagian tubuhnya
"gimana aku gak tahu garwo" jawab Jen berpaling muka
"Sini Yang," Axel beranjak mengandeng Jen
"kemana?" tanya Jen yang duduk di ranjang
"ikut sebentar" kata Axel dengan puppy eyes nya.
"ya udah tunggu aku benerin baju dulu" jawab Jen
"gak usah, nanti masih di acak-acakan" kata Axel yang menarik Jen. Mau tidak mau Jen ikut kemana Axel pergi.
"kok kesini?" tanya Jen bingung karena di kamar mandi
"hehehe iya, kita lihat air mancur"
"mana ada?" Jen
"ini ada" Axel menunjuk sesuatu
"maksudnya?"
"bantu aku dong Yang, ini juga karena kamu gak ngomong dari tadi" kata Axel memelas dan duduk di closed
"ya tadinya mau ngomong tapi gak kamu kasih kesempatan" kata Jen
"ya aku kan gak tau kalau kamu mau ngomong itu"
"makanya di tahan jangan buru buru" Jen
"kok kamu malah marahin aku sih Yang, korban ini"
"iya maaf, ya udah aku keluar" kata Jen yang akan berjalan membuka pintu.
"Yang, aku kan minta bantuan malah di tinggal" Axel menarik tangan Jen lagi
"bantuan apa aku gak tahu," Jen
"makanya sini belajar besok besok biar tahu" kata Axel menaik turun kan alisnya
"hufh,,, aku harus gimana?" Jen
"ya kamu pegang" kata Axel
"ih gak mau, malu tahu" Jen
__ADS_1
"terus gimana kalau kamu malu, gak kasian sama aku" Axel mulai melemah
"ya udah aku gak liat, biar aku dari belakang kamu" kata Jen
"ya udah boleh," Axel memposisikan diri di depan Jen. Ia menarik tangan Jen untuk memegang selang air mancur
Setelah tangan kanan Jen menggenggam selang itu, perlahan Axel menuntun tangan Jen untuk naik dan turun.
"garwo, kenapa di gerakkan sih tanganku?" tanya Jen yang merasa aneh
"ya gini Yang, biar nanti jadi air mancur" kata Axel
"udah ya" kata Jen setelah beberapa saat
"belum Yang, makanya cepatin"
Jen menuruti apa kata Axel, dan setelah jadi air mancur buatan nya. Jen dan Axel keluar kamar mandi.
"makasih ya sayang" kata Axel sambil menglendoti Jen dari belakang
"kamu mesum banget sih" kata Jen cemberut
"wajar dong sayang, lagian cuma sama kamu istri ku"
"ya udah tidur, ngantuk"
"iya, kamu hadap sana Yang, aku peluk dari belakang" Axel
"kenapa?"
"takut kilaf,"
Akhirnya Jen menurut saja, karena sudah mengantuk.
.
.
.
.
Pagi hari saat Jen bangun, ternyata posisi mereka tidak berubah. Jen tersenyum, entah kenapa rasanya nyaman dan bahagia sekali.
cup
Tiba tiba Axel mencium pipi Jen.
"hem tapi males bangun, kamu mandi duluan ya" Axel
"tumben" Jen
"aku mau berangkat bareng kamu aja"
"biasanya juga gitu kan?"
"maunya semobil sama kamu"
"tapi"
"udah sana mandi, jangan protes" Axel melepaskan pelukannya
Jen pun beranjak mandi karena memang dirinya sudah tidak nyaman dengan tamunya. Selesai mandi dan sarapan, sepasang suami istri yang masih sekolah itu pun menuju garasi.
"masuk Yang" Axel membukakan pintu untuk Jen
"garwo" Jen ingin menolak ajakan Axel
"kamu gak mau nurut?" Axel
"ya mau, tapi aku berangkat sendiri aja"
"Jen" panggil Axel yang tidak ingin di bantah
"kamu nyebelin" kata Jen yang masuk dan duduk dengan kasar di mobil Axel
Axel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak ada obrolan di antara mereka. Axel tahu kalau Jen sedang marah padanya.
Gimana ini, mampus gue kalau pada tahu. Batin Jen
"aku turun di depan aja" kata Jen yang meminta di turunkan di halte dekat sekolah
"terus?"
"Aku jalan, atau nebeng murid" jelas Jen
"gak" Axel tetap melajukan mobilnya masuk ke area parkir sekolah.
"astaga garwo, kamu kenapa sih"
"kamu yang kenapa, aku cuma mau kita berangkat bareng"
"kalau ada yang tahu gimana?"
__ADS_1
"ya pasti tahu kalau kita berangkat bareng, tapi tidak dengan hubungan kita kan?"
"aku belum siap ini"
"kamu cuek aja, ayo turun"
"kamu duluan"
Axel turun, ia bersandar di kap mobil.
Kenapa masih disitu sih . Batin Jen
"ayo turun gak papa" Axel yang lama menunggu Jen pun akhirnya membukakan pintu.
"kenapa di bukain?"
"ayo"
"ish" Jen keluar dari mobil Axel. Banyak yang melihat itu.
"eh itu Jen kan?" siswi 1
"iya kok sama Axel" siswi 2
"wah kak Jen sama kak Axel, cocok banget" adek kelas 1
"apa mereka ada hubungan?" adek kelas
"wah bakal jadi gosip ini" adik kelas
"foto woy" siswi 1
Begitulah beberapa cuitan dari murid murid.
"aku masuk kelas dulu" kata Jen yang memandang Axel sekilas dan mulai melangkah. Karena kelas Jen dan Axel ke arah yang sama, jadi Axel berjalan di belakang Jen.
"kok kamu ngikutin" kata Jen tidak berbalik
"kelas kita searah"
"kamu kan jadi penunggu gerbang"
"apa kamu lupa aku bukan ketos lagi"
Jen diam, dan melanjutkan jalannya. Sampai di depan kelas ada Ari yang sedang duduk menunggu waktu masuk.
"Jen, tumben di kawal, yang baru ya?" celetuk Ari
"diem lo kepo" kata berlalu
"tumben lo sama bodyguard" kata Sasa
"entah gue juga gak tau" Jen
"Jen" panggil Tamara, Jen pun memandang Tamara
"gue boleh tanya sesuatu?" Tamara
"tanya aja" Jen
"kemarin kok kalian bisa tahu kalau gue di club? gue mau tanya siapa bingung"
"sebenarnya Satria yang tahu, dia ngikutin mobil Rendy dan minta bantuan Axel juga Dio. Kebetulan gue lagi dinner sama keluarga jadi gue ikut Axel."
"ngikutin? kok gue gak tau?"
"kata nya pas di supermarket Satria lihat Rendy beli pengaman" kata Jen berbisik
"pengaman apa?" tanya Sasa
"astaga lo gak tahu? bukanya kalian kasih kado garwo itu?" tanya Jen
"enggak tahu" Sasa
"pengaman k*nd**" bisik Jen
"HAH?" teriak Sasa
"jangan teriak" Jen
"terus gimana lagi?" tanya Tamara
"ya udah Satria liatin Rendy keluar eh ternyata ada elo. Ya udah karena Satria peduli sama lo jadi dia khawatir ngikutin kemana kalian pergi" Jelas Jen
"peduli? gak salah Jen?" Sasa
"kalau menurut gue ya salah, dari gue salah ngomong kan. Yang gue liat ya Tam, Satria itu suka sama lo. Coba lo lebih peka, masa iya peduli sampai segitunya" Jen
"segitu nya gimana?" Tamara
"pas dia gak bisa hubungi lo, dia bingung tuh nyari tau di mana lo. Terus kata garwo dia mukul Rendy, dia liat lo di paksa minum sama Rendy. Gue yang liat Satria keluar club mau pulang aja ngeri banget mukanya. Gue yakin dia marah banget" Jen
"iya chat gue gak di buka, dia hanya bilang cari tau dulu" jelas Tamara
__ADS_1