Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Foto


__ADS_3

Pagi ini Jen berangkat ke kampus di antar pak Bejo, karena Axel sudah berangkat ke Bali kemarin sore. Tapi entah kenapa ia merasa Axel susah sekali di hubungi. Tadi malam ia hanya memberikan kabar kalau akan dinner bersama beberapa pebisnis. Dan sampai sekarang pun ia masih belum bisa menghubungi Axel. Bahkan Dodi juga sulit sekali di hubungi.


"Jen, kamu kok melamun?" tanya Gendis yang duduk di samping Jen. Saat ini mereka berada di kantin


"enggak kok"


"jangan bohong, aku melihat. Kamu kenapa ada masalah?"


"gak papa kok Gendis"


"ya sudah, tapi jangan melamun ya. Apa kamu mau makan sesuatu?" Gendis


"makasih Dis, gue..."


Ting


Jen tidak jadi meneruskan apa yang ia katakan karena ponselnya bunyi. Dengan segera Jen membuka pesan yang ternyata sebuah gambar dari Axel.


Apa ini? gak mungkin. Kenapa Axel mengirim foto seperti ini. Batin Jen yang memperbesar foto itu.


"Jen" panggil Gendis dengan menyentuh lengan Jen


"katanya gak melamun?" tanya Gendis lagi yang melihat Jen menengok


"ak... aku" Jen benar benar bingung untuk menjelaskan , dadanya bergemuruh saat mengingat foto Axel yang di kirim Dodi tadi malam.


"Jen" panggil Romi yang baru datang


Sama seperti Gendis yang tadi memanggil, Jen hanya menengok begitu saja.


"ikut aku sebentar" Romi


"mau apa kak?" Jen


"sebentar saja ini penting" Romi meraih tangan Jen


"sory kak, tangan di jaga" Jamil yang baru datang daei toilet memperingatkan Romi


"Ayo Jen" kata Romi yang sudah melepaskan tangannya


"Kemana Jen?" tanya Jamil


"gak tau" kata Jen yang sudah berdiri


"gue ikut" Jamil


"terserah" Jen pasrah saja agar segera selesai, dan ia ingin segera menghubungi Axel.


"ada apa kak?" tanya Jen yang sudah di hadapan Romi, sedangkan Jamil dan Gendis berdiri dengan jarak dua meter.


"hhmm sebenarnya ini masalah sensitif, tapi kamu mengajak teman mu" kata Romi


"langsung ke intinya saja kak"Jen


"kamu boleh liat ini" Romi menyodorkan ponselnya, dengan malas Jen mengambil ponsel Romi.


Deg, foto Axel sedang memeluk seorang perempuan, foto itu di ambil dari arah samping. Jen menghilangkan pikiran negatif nya, tapi semakin memperbesar gambarnya semakin jelas.


"ada beberapa foto" kata Romi dan Jen menggeser layar ponselnya.


Dan lagi ada foto Axel yang terlihat dari belakang sedang merangkul perempuan itu masuk ke kamar hotel. Walaupun dari belakang, bisa di pastikan itu Axel. Dan foto yang tadi dikirim oleh Axel...... Jen menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak percaya itu.


"Jen kamu gak papa?" tanya Romi

__ADS_1


"dari mana kakak dapat foto itu?" Jen


"aku melihat, dan kebetulan aku ada di sana tadi malam"


"maksud kakak?"


"aku hadir di acara dinner itu, Axel di Bali kan?"


Tes,


Cairan bening lolos tiba tiba dari mata indah Jen. Jen mencoba menghubungi Axel dan tidak mempedulikan orang sekeliling nya.


"arhh" geram Jen


"kamu yang sabar ya, dan ingat Jen kamu tidak sendiri" kata Romi


Jen mengetikkan nomornya di ponsel Romi, dan mengembalikan kepada Romi.


"kak tolong di kirim foto tadi" Jen


Tanpa menunggu lama Jen bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.


"Jen" panggil Gendis dan mengejar Jen


"Jen tunggu" Romi juga mengejar Jen


"apa yang lo lakukan?" Jamil menarik tangan Romi


"bukan urusan lo," Romi mengibaskan tangannya dan membuat tangan Jamil terlepas


Jen berjalan cepat, entah kemana kakinya melangkah. Air mata yang sedari tadi ia pertahankan akhirnya keluar dengan begitu derasnya. Jen berhenti di parkiran, dan pas sekali dengan Tamara yang akan menuju motornya.


"pinjam" kata Jen yang merebut kunci motor Tamara dan segera naik motor itu.


"lepas Tam..!!!" suara Jen meninggi dan membuat Tamara bingung. Ia melihat Jen yang berderai air mata.


"elo kenapa Jen" Tamara menjadi panik. Tanpa menjawab pertanyaan Tamara, Jen langsung mengenakan helm dan tancap gas.


"Jen..!!! lah gimana sih lo" kata Jamil pada Tamara yang membiarkan Jen pergi


"ada apa sih?" tanya Tamara


"gue susul Jen" Jamil yang akan menuju motornya di cegah Romi


"dia butuh waktu" Romi


"dia itu hamil, kalau ada apa-apa lo tanggung jawab?" kata Jamil


"apa hamil?" tanya Romi


Jamil tidak menjawab pertanyaan Romi dan lebih memilih pergi.


"Tam, itu Jen gimana?" panik Gendis


"gue yakin Jen pasti baik baik saja, lo ada kelas?" Tamara


"kemana biasanya Jen pergi?" tanya Romi


"bukan urusan kakak, ayo Dis" Tamara menarik Gendis menjauh


"Jen hamil? tapi kok.....gue harus cari Jen" kata Romi


Sedangkan Jen yang kalut pun melajukan motornya ke mall dimana bunda dan mamah berada.

__ADS_1


"kamu kemana sih mas, kenapa tidak mau mengangkat telepon ku. Foto foto itu, dia siapa mas?" gumam Jen.


Foto yang dikirim Axel tadi pada Jen adalah, foto perut sampai paha seorang perempuan yang di tutup dengan jas Axel. Terlihat tangan perempuan itu yang lentik, juga cat kuku berwarna merah. Tangan itu sedang menyentuh pahanya sendiri. Wajah perempuan itu sama sekali tidak terlihat dari beberapa foto yang ia liat.


"tega kamu mas, kamu menghiyanati aku. Aku kecewa sama kamu mas" Jen menangis saat mengingat itu semua


Setelah beberapa menit, Jen memarkirkan motor Tamara di parkiran. Ia berjalan cepat menuju ke toko bunda juga mamahnya.


"Jen" panggil bunda yang melihat kedatangan Jen


"kamu kenapa sayang? ada yang sakit?" tanya bunda khawatir


"bunda..hiks hiks" Jen menangis sejadi jadinya di pelukan bunda.


"ssst sst kamu kita masuk ya," bunda menuntun Jen ke ruangannya.


"loh Yuk, Jen kenapa?" tanya mamah


"gak tau Re, baru datang langsung seperti ini" bunda Ayu


"minum dulu sayang" mamah memberikan segelas air putih


Jen menghabiskan isi dalam gelas itu, perlahan tangisnya semakin menghilang. Jen masih menata hati juga nafasnya yang belum stabil.


"cerita sama kita ya?" kata bunda mengelus kepala Jen


Jen mengeluarkan ponselnya dan membuka foto yang tadi di kirim Axel dan Romi. Setelah itu memberikan ponselnya kepada bunda, sedangkan Jen kembali menangis. Perih sekali melihat semua itu, kenapa semua itu bisa terjadi. Jen merasa tidak memiliki salah yang fatal terhadap Axel. Tapi kenapa Axel melakukan itu pada Jen.


"kamu tau dari mana sayang?" tanya mamah


"mas Axel sama temen kuliah Jen mah"


"sayang kamu sabar dulu, biar mamah menghubungi Axel ya". mamah


Beberapa saat mamah mencoba menghubungi Axel tapi tidak di angkat. Sedangkan Dodi dari tadi juga tidak bisa di hubungi.


"astaga kenapa tidak bisa semua, kalian dimana sih" gerutu mamah


"kamu yang tenang ya, ingat baby disini" bunda


"tapi bun, gimana Jen bisa tenang. Apa salah Jen bun? kenapa mas Axel seperti itu?" Jen


"belum tentu sayang, kamu percaya kan sama suami kamu?" bunda


Jen menggeleng lemah, ia benar-benar tidak tahu harus seperti apa. Perasaan nya saat ini hancur dan hatinya sakit. Kalau benar Axel melakukan itu, tidak tahu lagi apa yang harus Jen lakukan. Apakah Jen bisa memaafkan kesalahan Axel yang ini.


"mah, Jen mau pulang ke rumah bunda, terlalu sakit kalau Jen pulang kerumah mamah. Disana banyak kenangan Jen dan Axel" kata Jen dengan tertunduk


"Jen kamu harus dengerin penjelasan Axel dulu, mamah janji semua akan baik baik saja"


"maaf mah, untuk saat ini Jen benar benar ingin sendiri. Ijinkan Jen pulang dengan bunda mah, Jen mohon" Jen


"Re, biarkan dulu Jen sama aku. Tolong kamu urus Axel ya" kata bunda


"aku sudah menghubungi mas Al, Yuk. Biar mas Al yang jemput Axel." mamah


"sayang maafin Axel ya, mamah yakin Axel anak yang baik." kata mamah pada Jen


"maaf mah, Jen belum bisa" kata Jen terbata


"ayo pulang bun, Jen mau pulang" Jen


"Re, aku dan Jen pulang dulu ya. Nanti kita bicarakan lagi masalah ini. Biar Jen tenang dulu dan Axel pulang" bunda

__ADS_1


"iya Yu, titip Jen dan baby-nya."


__ADS_2