
Setelah menghabiskan makan nasi liwet, mereka kembali ngobrol. Sedangkan beberapa cewek juga ikut membantu ibu membersihkan dapur juga alat masak yang kotor.
"mbak Jen beneran udah nikah?" tanya ibu
"iya bu, itu tadi suami Jen"
"genteng, cocok sama mbak Jen" ibu
"hehehe" jawab Jen
"udah kalian ke depan saja, biar ibu yang terusin, tinggal masukkan ke rak piring kok" ibu
"iya bu" jawab Jen, Indah, dan juga Dita
Terlihat Axel sedang mengobrol dengan Jamil dan juga Ari, entah apa yang di obrolkan mereka tapi terlihat serius. Sedangkan yang lain terlihat sibuk dengan ponselnya sesekali berfoto ria.
"kalian ngomongin apa?" tanya Jen pada ketiga cowok itu
"rahasia cowok" Jamil
"gaya lo" Jen
"Jen sini deh kita selfi" ajak Leni
"oke lah"
"biar gue fotoin aja" kata Roni
"boleh lah" Leni memberikan ponselnya
Setelah berganti beberapa kali gaya, Roni memberikan ponselnya.
"bagus gak? tanya Dita antusias
"pasti lah" Roni menahan tawanya.
"heh apaan ini" Leni berteriak kesal
"hahahaha" tawa Roni meledak saat melihat cewek cewek itu kesal.
Pasalnya foto yang ada di ponsel Leni foto mereka yang benar-benar hancur. Dimana mereka berebut posisi dan saat baru akan berganti pose, bahkan mendapatkan bonus foto dari Roni yang berselfi ria.
"astaga lo bener bener ya" Sasa mengejar Roni dan akan mencubitnya.
"ampun Sa, gue becanda kali" Roni
"gak ada ampun ya" Sasa masih mengejar Roni, bahkan sekarang dengan membawa sapu yang di berikan Ari.
"rasain lu" Leni sambil cekikikan
"Yang" panggil Axel menyodorkan ponselnya
"apa mas?" Jen
"liat aja" Axel
"wah bagus, nah ini baru bener" kata Jen saat melihat foto mereka tadi di versi yang benar, bukan seperti Roni.
"kirim dong" pinta Tamara.
"nanti bagi ke Indah, Dita, Leni, Sasa ya. Disini gak ada nomernya" kata Jen
"siap" kata Tamara
"Yang, kita balik duluan yuk, aku mau ketemu sama bang Jo" kata Axel
"eh iya kita udah lama ya gak ke tempat bang Jo" Saut Sasa yang sudah kembali duduk karena capek
"nanti kan malam minggu, boleh lah kita kumpul di tempat bang Jo" Tamara
Sasa dan Tamara melirik Jen, sedangkan Jen nyengir dan melirik Axel.
"Tidak perlu aku jawab seharusnya ayang tau kan, hasil dari nakal yang dulu" kata Axel dengan senyuman menyebalkan
__ADS_1
"iya, enggak" Jen
"apa Jen" Sasa
"hasil balap liar" kata Jen sambil mengelus perut nya.
"sekarang yuk keburu malam" kata Axel
"pamit ibu dulu" Jen
Setelah berpamitan kepada ibunya Indah, dan juga teman-temannya Jen dan Axel memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Mereka langsung menuju ke bengkel bang Jo.
"kok tumben kamu pulang siang?" tanya Jen
"weekend Yang" Axel
"papah aja gak kenal weekend"
"aku masih belajar, belum seperti papah atau ayah"
"tapi aku suka" Jen
"kenapa?"
"kamu punya waktu buat aku"
"ya akan aku usahakan Yang, mungkin setelah ini pekerjaanku juga banyak. Aku juga minta pengertian kamu ya" Axel meraih tangan Jen dan menggenggam nya.
"iya mas, tapi aku jadi gak enak sama kamu."
"kenapa gak enak?" tanya Axel melihat Jen sekilas
"kamu capek capek kerja, tapi aku belum bisa bantu apa apa" Jen menunduk dalam
"hey sayang, aku ini kan kepala rumah tangga, sudah seharusnya aku bekerja keras untuk keluarga ku lah. Kamu jangan berfikir yang macam-macam." Axel mengelus tangan Jen dengan ibu jarinya.
"tapi kan,..." Jen
"ssstt apa yang ingin kamu lakukan lagi? kamu itu sudah membantu banyak pekerjaan aku Yang," Axel
"siapa yang nyiapin baju aku setiap mau kerja?" Axel
"aku"
"yang nyiapin setiap aku mau makan?"
"adek" Jen menunjuk dirinya sendiri, Axel sempat tersenyum melihat tingkah Jen yang menyebutkan dirinya 'adek'.
"yang beresin kamar?"
"adek"
"yang nyuci dalaman?"
"adek"
"yang melayani setiap aku pengen sesuatu?"
"adek juga"
"kamu tau pekerjaan rumah, seperti masak, menyapu, ngepel, nyuci baju itu kerjaan siapa?" Axel
"istri" jawab Jen menunduk menyadari dirinya belum melakukan itu
"salah!!"
"kok bisa?"
"itu tugas semua tugas suami," kata Axel
"ya enggak lah mas" Jen
"kamu baca deh Yang, cari di internet. Mas takut salah kalau menjelaskan. 😁" kata Axel sambil nyengir
__ADS_1
"ah sok tau kamu" Jen
"dibilangin juga, istri yang melakukan pekerjaan itu semua karena bentuk cinta dan sayang pada suami. Dirinya ikhlas dan mau membantu meringankan beban suaminya. Kalaupun suaminya ingin menyewa jasa pembantu itu tidak masalah" kata Axel
"ya ya mas"
"yang paling penting itu adalah, kamu selalu ada di saat aku membuka dan menutup mata. Ada di saat aku butuh kamu, menemani aku di susah maupun senang. Selalu cinta sama aku dan anak anakku nantinya. Dan yang paling membuat aku senang adalah setiap saat kamu siap sedia aku ajak jalan-jalan ke puncak gunung 😀. Udah itu aja Yang, gak yang lain lainnya" kata Axel tersenyum
"iya yang terakhir itu agak susah" Jen
"orang enak di ajak jalan-jalan kok, susahnya di mana?"
"itu mah mau kamu mas" kata Jen kemudian turun dari mobil karena memang mereka baru sampai. Dan Jen bisa mendengar suara tawa Axel yang baru akan turun.
"sore bang Jo" sapa Jen
"hey sore, apa kabar?" Johan menjabat tangan Jen dan Axel bergantian
"baik bang" jawab Axel
"ayo masuk" ajak Johan, ia sempat mencuci tangan sebelum ikut masuk ke ruangannya.
"udah berapa bulan Jen?" tanya Johan
"empat bulan bang, doain ya" kata Jen
"pasti lah, gimana Xel?" tanya Johan yang melirik Axel.
"gimana perkembangan bulan lalu bang?" Axel
"ya meningkat cuma sedikit lah, tapi lebih bagus dari bulan sebelumnya. Lo liat dulu deh" Johan memberikan sebuah map.
"mas aku ke belakang ya, cari angin" kata Jen
"iya, hati hati Yang" Axel
Setelah beberapa saat Axel membaca laporan dari Johan, ia mengangguk seperti yang ia harapkan. Pekerjaan bagus dan bisa di andalkan.
"bang" Axel menatap Johan dengan serius
"jangan gitu muka lo, gue jadi grogi 😁" canda Johan
"hehe tapi ini serius bang" Axel
"oke" Johan siap mendengarkan apa yang Axel sampaikan
"aku mau minta tolong lagi bang, mungkin beberapa bulan kedepan aku sedikit sibuk di kantor juga kuliah. Apa abang bisa?" Axel
Johan menyandarkan tubuhnya di kursinya, seperti sedang berfikir.
"gimana ya Xel, jujur nih gue sedikit pusing buat ngerjain ini. Biasanya gue cuma mikir keluar masuk barang di bengkel ini dan bagi hasil dengan lo. Udah di luar kepala. Lo tau kan maksud gue, bengkel lo itu besar dan punya beberapa cabang. Gue takut gak mampu" jujur Johan
"ini buktinya abang mampu, mungkin karena memang belum terbiasa" Axel
"gue coba sebulan lagi ya, kalau sekiranya gue mampu ya lanjut kalau memang sulit gue mundur ya," Johan
"iya bang gak papa. Makasih sebelumnya" Axel
"sama sama," Johan
Akhirnya mereka kembali membahas tentang pekerjaan. Sedangkan Jen sedang duduk menikmati angin sepoi-sepoi di belakang bengkel.
"kangen juga di sirkuit ini, pengen nyoba tapi..." gumam Jen mengelus perut nya.
"Tapi apa?" tanya Axel.di belakang Jen
"ish kamu ngagetin" kata Jen
"hehehe pulang sekarang?"
"ayo" kata Jen
"nanti malam kumpul Jen" saut Johan
__ADS_1
"hehe maaf bang, udah pensiun saja" Jen
"hahaha iya percaya," kata Johan melirik Axel