
Satria tersenyum meremehkan saat Rendy bertanya seperti itu.
"cewek lo? tapi lo mau ngerusak dia? gak akan gue biarin." Satria
"Tolong bawa Tamara keluar Di, di mobil gue ada Jen" kata Axel, Tamara yang sudah mabuk berat pun sulit untuk menopang tubuhnya sendiri.
Dio pun segera membopong Tamara untuk keluar.
"tunggu bren****!!!!" Rendy berusaha berdiri
"gue sama Tamara sama sama cinta. Wajar dong kita mau ngelakuin apa aja" kata Rendy sambil cekikikan karena ia juga banyak minum alkohol.
"udah Sat, dia mabok itu" kata Axel mencegah Satria memukul Rendy
"tapi dia kurang ajar Xel,"
"yang penting Tamara, sekarang kita balik aja" saran Axel.
Satria melepaskan cengkraman tangan di kerah baju Rendy. Mereka meninggalkan Rendy yang masih meracau.
.
.
.
Di mobil
"lama banget sih" Jen mulai panik
"mau turun nanti Axel marah lagi. Eh itu kan kaya Dio" Jen membuka pintu mobilnya.
"Dio" panggil Jen dan Dio mendekat
"buka pintu Jen" kata Dio yang mulai keberatan menggendong Tamara.
"Tamara kenapa?" tanya Jen yang membenarkan posisi Tamara.
"mabok berat, lo kunci pintu dulu. Gue ke dalam bentar"
"eh tapi Axel mana"
"tunggu aja" Dio
Jen mengelap keringat Tamara, dan berusaha membangun Tamara.
"kenapa jadi begini sih Tam, maafin gue" kata Jen yang melihat Tamara.
tok tok tok
"Yang" panggil Axel
Jen segera membuka pintu dan turun.
"ini kenapa sih Tamara?" tanya Jen
"dia mabuk berat, gimana kita antar pulang Tamara?" Axel
"gue rasa jangan deh Xel, nanti gimana kalau nyokap bokap nya marah" Satria
"gue telfon Sinta dulu deh" Jen
Jen yang langsung bisa menghubungi Sinta pun meminta pertimbangan dari Sinta. Sinta meminta Jen untuk membawa Tamara ke apartemen Sinta. Mereka pun segera ke sana, di dalam mobil Axel ada Tamara dan juga Jen. Satria dan Dio mengendarai motornya masing-masing.
Sesampainya di apartemen, Satria menggendong Tamara ke unit Sinta. Sinta meminta Satria membawa Tamara ke kamarnya
"cerita nya gimana?" tanya Sinta pada Jen
"aku juga kurang tahu, kita ganti baju Tamara dulu" kata Jen, karena memang Tamara sempat muntah.
"Sat lo tunggu di depan deh" pinta Jen dan Satria yang paham pun keluar.
Di ruang tengah ada Dio dan juga Axel yang menunggu.
"gue gak bisa bayangin kalau kita gak tepat waktu" Dio
"entah lah, besok kita tanya Tamara dulu aja." Axel
__ADS_1
"maksudnya?" Satria yang baru datang
"ya kita gak tahu, apa Tamara dan Rendy memang menginginkan seperti itu. Apa Tamara memang benar benar tidak tahu kalau Rendy akan berbuat nekat dengannya" jelas Axel
"iya juga, semoga tindakan kita benar" Dio
tok tok tok
"siapa?" tanya Satria
"gak tahu, coba lo intip deh" Dio
"elo aja" Satria
Perlahan Dio mengintip dari lubang pintu. Setelah tau siapa yang berada di luar Dio membukakan pintu.
"bebeb" Dio
"Tamara mana beb?" panik Sasa
Dio menunjuk ke arah dalam, Sasa pun segera masuk ke dalam. Setelah beberapa saat menjaga Tamara, Jen keluar menemui Axel.
"garwo, aku nginep sini ya" kata Jen
"di unit kita aja" Axel
"kasian Sinta dan Sasa dong"
"gue nginep sini Jen, gue juga pengen jagain Tamara" Satria
"yakin lo?" Sinta
"kalau lo kasih ijin" Satria
"jangan macem-macem lo" Dio
"kan sama lo juga yang nginep sini" Satria
"tuh Yang mereka di sini. Ayo aku udah ngantuk nih" rengek Axel
"Yang besok aku harus berangkat pagi loh, kita gak bawa baju ganti" Axel
" iya makanya buruan pada tidur, kita juga mau tidur" Jen
"aku gak bisa tidur Yang, kalau gak peluk guling ku" Axel
"guling hidup maksudnya?" Satria
"Jen, itu suami lo kenapa bisa gitu? lo kasih makan apa?" tanya Sasa heran dan menggeleng
"bucin" Dio
"udah tidur sini aja ya" Jen
"di bilangin gak bisa tidur" Axel cemberut
"gaya lo, tujuh belas tahun lebih aja bisa tidur sendiri. Sekarang lagu lagu an gak bisa tidur tanpa pelukanmu" ledek Dio dan mengundang tawa mereka semua
"Yang" panggil Axel dan tidak peduli dengan komentar teman temannya. Jen menghela nafasnya.
"gue ke unit aja ya" kata Jen pada Sasa dan Sinta.
"iya" Sinta
"beres" Sasa
"kalau ada apa-apa kabari gue. Gue di unit 20" Jen
"SIAP" Sasa dan Sinta
"kalian berdua, jangan macam-macam. Jaga mereka dengan benar" kata Axel pada Satria dan Dio. Dijawab anggukan oleh mereka.
Jen dan Axel meninggalkan unit Sinta. Setelah itu mereka tidur, karena memang sudah larut malam. Sedangkan Jen dan Axel masih drama.
"garwo, aku gak ada baju. Masa iya tidur begini" kata Jen menunjuk bajunya.
"pakai kaos aku kaya dulu" Axel yang sudah merebahkan diri
__ADS_1
"kamu ih" kata Jen kesal
"gak pakai baju juga gak papa kan. Malah lebih baik sayang" kata Axel yang sudah beranjak mendekati Jen.
"STOP" kata Jen dan berlalu ke kamar mandi
"ayang" panggil Axel menggoda Jen
.
.
.
.
Keesokan harinya tepatnya pukul setengah enam pagi. Jen dan Axel sudah mandi. mereka menuju unit Sinta untuk melihat teman temannya. Saat mengetuk pintu, Satria yang membukakan nya.
"Tamara gimana?" tanya Jen khawatir
"gak tahu gue, belum keluar kamar" Satria
Jen berjalan ke kamar Sinta, masih sepi sepertinya mereka belum bangun. Setelah membangunkan teman temannya dan sudah pada rapi, mereka berkumpul sebentar.
"ck pantes gak bisa tidur, orang pagi pagi udah pada keramas laki bini" celetuk Dio
"gue tadi yang tahu duluan diem kok Di, lo malah nyeplos" Satria menahan tawa
"kita gak ngapa-ngapain ya" Axel
"ah masak?" Dio
"udah jagan bahas kita, cuma mandi keramas aja kalian heran" Jen
"hehehe iya iya Jenong" ledek Dio
"is bebeb lo Sa," Jen
"kalian sekolah aja, biar gue yang nunggu Tamara. Gue yakin dia masih pusing" Sinta
"lo yakin?" Jen
"yakin lah, nanti pasti gue kabari perkembangan nya" Sinta
"ya udah kalau gitu nanti kita kesini lagi" Jen
"iya gue titip Tamara Sin, kabari gue kalau ada apa-apa" Satria
"lo tenang aja semua aman" Sinta
Setelah itu mereka berangkat ke sekolah, tapi sebelum nya ya pulang ke rumah masing-masing.Di sekolah ada acara serah terima jabatan ketua osis. Semua anggota osis kelas dua belas juga sama, mereka pada pensiun dan fokus untuk ujian.
Tepuk tangan dan cuitan para murid terdengar gaduh, saat Axel selesai menyampaikan rasa terima kasih untuk kepercayaan nya selama hampir dua tahun ini. Selesai acara semua murid di bubarkan untuk kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.
"lengser bos" Dio
"gue merasa lepas dari sangkar" Satria
"thanks kalian udah banyak bantu gue" Axel saat ini mereka berjalan menuju kelas.
"itu kenangan indah kita" Dio
"iya, sebentar lagi kita mungkin terpisah" Satria
"yang penting saling komunikasi tidak akan memutuskan persahabatan ini" Axel
"SETUJU" Satria dan Dio
"Di, ngomong ngomong kemarin hasilnya masih sama lo?" tanya Axel
"masih, nih mau lihat?" Dio
"enggak lah, lo simpan dulu. Nanti kalau dia gak percaya kan lo bisa tunjukkan itu. Tapi kalau dia percaya dan menyadari kita hapus segera vidio itu." Axel
"siap" Dio dan Satria hanya mendengarkan.
Sebenarnya semalam Dio di minta Axel untuk mengambil video Tamara dan Rendy. Bukan untuk apa apa. Mereka tidak mau di tuduh merusak kebahagiaan Tamara dan Rendy. Kegiatan pun berlanjut sampai jam pulang sekolah. Mereka langsung menuju ke apartemen dengan kendaraan masing-masing.
__ADS_1