
Setelah di dorong dan di rayu Jen juga Sinta, akhirnya Sasa memberanikan diri untuk membuka pintu.
ceklek
Perlahan pintu di buka oleh Sasa, bahkan Sasa hanya memperlihatkan kepalanya saja. Setelah tahu siapa yang berdiri di depan pintu Sasa melongo dan kemudian nyengir. Jen dan Sinta di buat buat bingung, karena mereka tidak tahu siapa yang ada di luar.
"suut" panggil Sinta dan Sasa pun menengok ke belakang.
"siapa?" tanya Jen tanpa suara, Sasa hanya nyengir dan perlahan membuka pintu dengan lebar.
Terlihatlah Axel dengan wajah kesalnya, bahkan aura Axel terlihat mencekam dan seperti ingin menerkam orang hidup hidup. Jen dan Sinta yang melihat itu pun hanya bisa terdiam dan bingung. Sedangkan Sasa perlahan mundur dan menuju samping Jen.
"Garwo" sapa Jen sambil nyengir. Sejujurnya ia takut melihat Axel yang seperti itu.
"ikut gue" kata Axel pada Jen. Jen hanya diam dan menunduk.
"udah sana, keburu meledak" kata Sinta yang bergumam gumam dan menyenggol bahu Jen dengan bahunya. Bahkan ketiga gadis itu menunduk semua.
"gue serem Jen" Sasa yang semakin merapatkan tubuhnya ke Jen.
"ekhem" deheman Axel
"Tamara gimana?" kata Jen berbisik
"urusan kita, lo jinakin dulu suami lo" Sasa berbisik juga
"oke" Jen
"JEN" panggil Axel
"i... iya garwo" Jen memberanikan diri melangkah maju.
"kami permisi," kata Axel yang sudah menggandeng Jen dan menuju unitnya.
"huh" Sasa membuang nafas panjang nya.
"kenapa mistis gitu auranya" Sinta
"gue, juga baru lihat dia kaya gitu. Apa mungkin marah" Sasa
"mudah mudahan Jen gak kenapa kenapa deh," Sinta
"kayaknya Jen bisa mengatasi, itu Axel kan bucin bgt kalau sama Jen" Sasa
"amin, udah ayo tidur" Sinta.
.
.
.
__ADS_1
Di unit 123 Axel menekan kode untuk membuka unitnya. Setelah pintu terbuka Axel menarik Jen untuk masuk, Jen hanya diam tidak banyak tanya. Axel melempar tas ransel nya ke sofa. Axel masih diam dan membawa Jen ke kamar. Di hempasan kan nya Jen di atas kasur, lalu Axel menuju kamar mandi.
Tahan Xel, tahan,..!! jangan sampai lo nyakitin Jen, ingat kata papah dan ayah. Batin Axel
Axel membersihkan diri untuk menenangkan dirinya agar tidak emosi. Bagaimana tidak emosi jika Axel mengetahui kelakuan Jen. Axel bisa tahu semua itu dari laporan seseorang yang memang selalu memantau Jen. Orang itu akan mengikuti kemana Jen pergi, bahkan setiap harinya akan berganti orang agar tidak di curigai oleh Jen. Dan apapun hasil nya akan di laporkan ke grub chat yang berisikan ayah, papah, Axel dan para orang yang mengikuti Jen. Sebenarnya tidak hanya Jen saja, mamah dan bunda juga sama.
Axel keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk di pinggangnya. Ia menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Bahkan Axel menggunakan celana di depan Jen yang masih terduduk di atas kasur. Jen yang melihat itu pun hanya melongo. Bahkan Jen merasa Axel sangatlah ganteng dan terlihat lebih segar. Tanpa kata Axel pun keluar kamar begitu saja hanya menggunakan celana kolor.
Kenapa Axel diam aja, apa dia marah? apa dia tahu kalau gue tadi balap liar? eh tapi tau dari siapa?, kenapa perasaan gue gak enak sih. Batin Jen bertanya-tanya, kemudian ia memutuskan untuk membersihkan diri.
Setelah keluar dari kamar mandi, Jen hanya menggunakan kimono karena bajunya gantinya masih di unit Sinta.
Ngomong ngomong ini unit Axel bukan ya? tapi kok gak pernah cerita, gue juga gak tahu. Kalau bukan punya Axel terus punya siapa? tapi tadi Axel kok bisa ganti baju. Berarti punya Axel.
Jen yang masih di sibuk dengan pikirannya sendiri, tidak menyadari bahwa Axel sudah kembali ke kamar dengan membawa segelas air putih.
"pakai baju gue di lemari" Axel
hah dia pakai lo gue? bener bener marah. Batin Jen sambil menuju lemari.
Jen mengambil salah satu kaos Axel yang kebesaran. Jen memakai kaos itu di kamar mandi. Saat keluar, terlihat Axel sudah merebahkan tubuhnya dan juga menutup mata. Perlahan Jen naik ke sisi ranjang yang kosong.
Merebahkan tubuhnya di samping Axel, ada jarak di antara mereka.
"hmmt garwo" panggil Jen ragu ragu
"tidur, udah pagi. Jangan pancing lagi emosi gue" jawab Axel pelan, memang saat ini jam sudah menunjukkan jam dua dini hari.
Jen menerima bantal dari Axel dan memeluknya. Sedangkan Axel menggunakan tangan nya sebagai bantal. Jen memandang Axel yang tetap memejamkan mata tanpa menghiraukan Jen.
Kenapa rasanya kurang, biasanya kamu mau peluk aku. Tapi kenapa sekarang bantal yang kamu berikan. Batin Jen
Dan perlahan Jen ketiduran, karena lelah dan sudah mengantuk. Sedangkan Axel membuka matanya dan menghadap ke arah Jen.
Kenapa sih Yang kamu bandel banget. Aku merasa gagal mendidik kamu. Maafkan aku kalau membuat mu bingung. Mendiamkan kamu sejujurnya itu sangat sulit buat aku. Tapi aku takut tersulut saat kita berbicara. Biarkan kita berfikir dulu, dan berdamai dengan perasaan masing-masing. Maaf sayang, semoga kamu tahu apa yang kamu lakukan ini salah. Aku anggap ini hukuman buat kamu. Agar kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama. Batin Axel sambil memandang wajah Jen yang tertidur pulas.
Muach 😗
Axel mengecup kening Jen. Setelah itu ia mengambil ponselnya.
.
.
.
Pagi ini saat Jen membuka mata, dilihatnya Axel sudah tidak ada di sampingnya. Jen mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar. Kemudian ia mengerjab ngerjab kan kembali matanya. Memastikan kalau dirinya tidak sedang bermimpi.
"loh ini kan kamar gue dulu" gumam Jen
"berarti tadi malam gue mimpi Axel marah? eh tunggu deh gue bingung sendiri" gumam Jen lagi.
__ADS_1
Jen beranjak bangunan akan ke kamar mandi, dilihatnya ia masih mengenakan kaos Axel yang tadi malam ia pakai. Semua itu menambahkan kebingungan Jen. Saat akan melangkah, Jen melihat sebuah kertas menempel di kaca riasnya. Di ambil surat itu dan Jen mulai membaca.
Jangan pergi kemana pun selain mendapat ijin dari aku. Dan aku harap kamu mau menurut denganku. Aku kembali ke Bandung, nanti siang kalau gak sore aku udah pulang. Axel
Begitulah isi surat dari Axel.
"kok gak bangunin gue, berarti dia marah beneran" Jen.
Setelah mandi Jen turun ke bawah karena perutnya terasa sangat lapar. Saat menuruni tangga Jen melihat seseorang yang sangat ia rindukan.
"BUNDA" teriak Jen dan berlari ke arah sang bunda
"Sayang Jen" bunda menyambut Jen dengan pelukan
"Jen kangen banget sama bunda, bunda kapan datang?" Tanya Jen di pelukan bunda
"baru tadi pagi, kamu sehat kan sayang?" tanya bunda
"iya bunda, ayah mana bun?"
"masih istirahat di kamar, capek" bunda
"aku laper bun"
"bunda temenin kamu sarapan, "
"emang bunda udah sarapan?"
"udah tadi bareng ayah dan Axel"
Mendengar nama suaminya, Jen menjadi terdiam dan mengurai pelukannya. Bunda yang tahu pun mengelus kepala Jen.
"ayo sarapan dulu" ajak bunda, Jen tersenyum dan berjalan ke meja makan.
"duh kangen banget sama masakan bunda" kata Jen
"makan yang banyak kalau gitu"
"pasti dong bun" jawab Jen yang menghabiskan makanan di piringnya.
Selesai makan bunda mengajak Jen ke halaman belakang. Halaman yang luas, sejuk dan indah. Jen dan bunda duduk di sebuah sofa panjang yang menghadap ke kolam dan taman.
"gimana Jen selama ini kamu tinggal di tempat suami dan mertua mu? mereka baik kan?" tanya bunda
"iya bun, mamah dan papah sangat sayang sama Jen. Seperti ayah dan bunda"
"kalau Axel?"
"Axel juga baik bun, sayang sama Jen." kata Jen dan tersenyum.
"kamu nyaman kan sama mereka?"
__ADS_1
"nyaman bun" jawab Jen mengelus tangan bundanya, Jen tahu kalau sang bunda menghawatirkan dirinya.