Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Baby Zel


__ADS_3

Setelah semua selesai, terlihat Jen sedang memandang wajah putranya. Sembilan bulan lebih ia selalu membawa putranya itu kemanapun ia pergi. Putra yang selalu ingin ia lihat, ia timang, dan ingin selalu ia sentuh.


"Jen, semua sudah beres ya. Mami mau keluar dulu. Pesan mami kamu jangan tidur dulu ya Jen."


"Jen jadi gak ngantuk mi, liat baby boy ini" kata Jen


"iya sayang itu lebih baik. Nanti ada suster yang akan memeriksa keadaan kamu" mami


"iya mi, terimakasih mi"


"sama sama, kamu anak yang hebat. Axel tolong di jaga Jen ya . Biar tidak mengantuk"


"baik dok, terimakasih" Axel


Dokter dan dua suster lainnya keluar ruangan. Terlihat para orang tua masih setia menunggu di sana.


"Dokter gimana anak saya,?" tanya bunda


"Baik kok mbak, semua sudah selesai. Jen dan bayinya dalam keadaan baik."


"kita bisa masuk dok?" mamah


"boleh silahkan masuk, tolong Jen di ajak interaksi ya mbak, supaya tidak mengantuk" mami


"baik dokter" bunda


Setelah dokter meninggalkan ruangan Jen, para orang tua segera masuk ke dalam. Jen dan Axel kompak melihat ke arah pintu yang terbuka. Mereka bisa melihat raut wajah bahagia dari orangtuanya.


"Jen" bunda mempercepat langkahnya dan segera memeluk Jen yang masih tiduran.


"bunda" kata Jen mengelus lengan bundanya.


"selamat ya sayang, maaf bunda tidak menemani kamu. Tapi kamu ibu yang hebat." kata bunda mengurai pelukannya


"tidak papa bun, ini semua juga berkat doa bunda dan semuanya."


"Jen, mamah khawatir sama kamu. Tadi kata Axel mamah dan bunda suruh tunggu di luar" mamah yang sekarang memeluk Jen


"iya mah tidak papa, yang penting sekarang Jen dan baby boy baik baik saja" Jen


"Jen,, terimakasih kamu sudah berjuang melahirkan cucu laki-laki papah" kata papah


"Ayah bahagia Jen, kamu anak yang hebat" puji ayah


"terimakasih papah, ayah." Jen


"hay boy, daddy sudah tidak di anggap di sini" kata Axel yang duduk di sebelah ranjang Jen, tepatnya di sebelah bayi mereka.


"kamu akan terkalahkan dengan hadirnya jagoan kita semua" mamah mendekati baby


"ganteng sekali cucu eyang," puji mamah


"boleh gendong Jen?"


"boleh mah" Jen


Mamah menggendong cucu pertama nya, ia sangat bahagia sekali. Papah, ayah dan juga bunda juga tidak mau kalah, mereka ingin menggendong ataupun menyentuh bayi lucu itu.


Anak Jen dan Axel terlahir malam ini, pukul sembilan lebih tiga puluh empat menit. Dengan berat badan tiga kilogram, panjang lima puluh satu centimeter. Bayi itu memiliki kulit yang putih juga hidung mancung. Bahkan rambutnya pun hitam dan terbilang lebat.


"oek oek" bayi yang berada di gendongan bunda pun menangis.


"oouuu sayang, haus ya? mau minum?" tanya bunda pada baby nya.


"papah tunggu di luar dulu," kata papah


"ayah juga" saut ayah


Setelah para eyang Kakung keluar ruangan, Jen segera bangkit untuk duduk dan memberi minum anaknya.


"hay sayang, mata kamu indah sekali" kata Jen yang melihat anaknya membuka mata.


"iya Jen, kaya mata Axel" mamah


"ya jelas dong, kan Daddy nya" kata Axel.


Jam saat ini sudah menunjukkan waktu tengah malam. Namun Jen belum di ijinkan untuk tidur.


"mas, kamu istirahat aja gak papa" kata Jen yang melihat Axel menguap beberapa kali

__ADS_1


"enggak Yang, mau nemenin kamu" Axel


"biar bunda aja Xel, kita gantian" kata bunda


"tapi bun" Axel


"gak papa, kamu terlihat capek banget itu"


"Axel ngantuk bun, kurang tidur seperti nya, tapi Jen jauh lebih kurang tidur pastinya bun"


"kenapa begitu Jen?" bunda


"gak bisa tidur bun, dan dua hari kemarin perut Jen udah sakit" Jen


"kamu sabar dulu ya, tunggu anjuran dokter" Bunda


"iya bunda, Jen belum ngantuk masih setia sama anak mommy yang ini" kata Jen


"Yang, aku tidur sebentar ya "


"iya mas, kamu tenang aja"


Axel kemudian menuju ke sofa dan menyandarkan tubuhnya di sana. Bunda berjaga dengan mengajak Jen ngobrol, tidak lama kemudian mamah juga terbangun dari tidurnya di ruangan sebelah.


"Yu, kamu istirahat dulu aja. Biar aku yang menemani Jen" kata mamah


"sebenarnya aku belum ngantuk Re" bunda


"gak papa Yu, kamu dari tadi duduk loh. Rebahan sebentar pasti ilang capeknya" mamah


"ya sudah, Jen bunda ke ruangan sebelah ya" kata bunda


"iya bun," kata Jen


"cucu eyang anteng banget masih tidur" mamah


"iya mah, nangis minum terus tidur lagi. Dari tadi gitu" Jen


"namanya juga bayi Jen, kalau udah lari kamu takut sendiri nanti" canda mamah


"hehehe mamah bisa aja," Jen


Pagi harinya, Jen sudah di ijin kan untuk tidur. Baby boy mereka juga sudah mandi dan wangi. Jen berusaha untuk memejamkan matanya, tapi sayang ia tidak merasa ngantuk.


"iya mas, kamu juga sarapan dong" Jen


"kita nanti sarapan Jen, nunggu bibi kesini. Kamu duluan aja" kata mamah


"iya, nanti kalau kamu lapar anak kamu juga lapar." Kata bunda


"baik lah mamah, bunda" Jen yang mengambil alih piring di tangan suaminya


"biar aku suapi aja Yang" kata Axel


"boleh deh" Jen


"oh iya Xel, siapa nama anak kamu?" tanya papah yang sedang duduk di sofa dengan ayah


"namanya Alfarezel Akmar Aldi " kata Axel


"artinya?" papah


"Alfarezel adalah kebaikan, Akmar adalah cerdas sedang kan Aldi dari keluarga Alexander dan Aditama". Axel


"anak laki-laki yang baik dan cerdas dari keluarga Alexander dan Aditama" Ayah


"iya yah" Axel


"nama yang bagus," papah manggut-manggut


"wah, jadi eyang panggil nya apa?" kata mamah


"Zel boleh mah" Jen


"baby Zel? oh lucunya" mamah gemas melihat bayi yang tidur pulas itu.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat mereka semua menoleh.

__ADS_1


"masuk" jawab bunda


ceklek


"Jen.....!!!!" teriak Tamara yang melihat Jen duduk di atas ranjang


"sssstttthhh" kata Axel sambil meletakkan jari telunjuk di bibir nya


"oh maaf maaf" tamara berbisik .


"kamu itu bi, gak liat ada bayi" kata Satria


"maaf lupa, habis nya aku seneng banget" Tamara


"hey salim dulu" Jamil


Jamil, Tamara, Satria, Ari dan Gendis menyalami para orang tua. Kemudian Tamara dan Gendis menghampiri Jen.


"Selamat ya Jen, sory gue kemaren gak nunggu lo bangun" Tamara


"gak papa, gue yang minta maaf karena kemarin gue baru gak fokus dengan apapun selain sakit perut."


"selamat ya mommy muda, anak kamu ganteng banget Jen" Gendis


"makasih Dis" Jen tersenyum


"wah hidungnya" Jamil yang melihat baby Zel


"kenapa?" tanya Jen


"beneran kaya Anna Hamilton" Celetuk Jamil


"iya ini, gak kaya emaknya" Ari


"ish kalian ini. Kan udah gue doain dulu. Lagian ada ayah bunda disini bisa aja lo ngatain gue" Jen


"hehe maaf om, tante." kata Ari


"gak papa, kita paham kok kalau Jen itu tidak mancung" ayah menahan tawanya


"ayah" kata Jen merajuk


"hehehe udah punya anak Jen, jangan marah marah" kata ayah


"ayah juga udah punya cucu" Jen


Setelah itu mereka semua bercanda, sedang para orang tua menuju ke ruang sebelah untuk sarapan.


"mas kamu gak ikut sarapan?" Jen


"nanti aja Yang" Axel


"eh Jen gue boleh gendong gak?" tanya Tamara


"boleh aja, nih" kata Jen yang mengangkat anaknya


"duh gue ngeri deh" Tamara


"ngeri apa? kan pakai bantal gak papa" Jen


"ngeri pengen maksudnya" Tamara


"ukhuk kode" Jamil


"kode keras" Ari


"lamar dulu, nikah, baru kode kode an" kata Axel


"hahahah benar kata Axel" Tamara


"besok aku ketemu papa mama mu" Satria


"biasanya juga ketemu" Tamara


"besok kan beda" kata Satria membuat Tamara salting,


"cie....." Gendis


"tuh, Satria udah siap" Jen

__ADS_1


"aw, aku jadi gemes deh" Tamara menoel noel pipi baby Zel


"anak gue itu" Jen


__ADS_2