Cinta Jennaira

Cinta Jennaira
Ungkapan


__ADS_3

Jen hanya menggigit bibir bawahnya, sedangkan Axel bermuka datar.


"apa yang mau lo tahu,?" tanya Axel


"hubungan kalian lah," Ari


"seperti yang lo dengar, gue dan Jen sudah menikah beberapa bulan lalu" Axel


"beneran Jen?" Ari


"iya, gue udah sah jadi istrinya Axel. Nih" Jen menunjuk kan cincin nikah mereka


"gue minta sama lo jaga rahasia ini dulu, gue percaya sama lo" kata Axel pada Ari


"tapi kan kalian masih sekolah" Ari


"eh tapi itu tadi pak pemilik sekolah ya, berarti elo anak pemilik sekolah?" sambung Ari


"ya seperti itu" Axel


"paham gue sekarang kok kalian bisa aman. Jen!!!" kata Ari melotot


"apa sih?" Jen


"elo" Ari menutup mulutnya seperti orang yang sangat syok


"apa?" tanya Jen bingung


"jangan bilang lo hamidun duluan" Ari


"enak aja lo, gue belum hamil ya!" Jen


"kita di jodohkan, ada suatu alasan yang membuat gue dan Jen menikah" Axel


"di jodohkan? urusan bisnis?" tanya Ari pelan karena takut menyinggung mereka


"bukan, jadi tuh dulu gini ceritanya...." Jen menceritakan awal mula mereka menikah dan di jodohkan


"oh gue kira 😁, maaf ya?" Ari


"gak papa, tapi ingat belum ada yang tahu selain lo, Tamara, Sasa, Satria dan Dio" Jen


"beres Jen" Ari


"thank bro" Axel


Mereka melanjutkan mengobrol dan juga makan malam. Acara dinner para pengusaha berlangsung sesuai rencana. Sampai akhirnya acara pun selesai, Jen yang akan pulang ijin ke toilet sebentar.


Axel, mamah dan papah menunggu Jen di sebuah meja. Terlihat Jen yang kembali dari toilet, berjalan bak model. Cantik, anggun, dan mampu memikat para pemuda yang ada di sana. Bukan hanya pemuda, banyak orang tua yang memuji kecantikan Jen malam ini.


"maaf nona" kata salah satu pengusaha muda yang menghentikan Jen.


"iya pak" Jen


"jangan panggil saya pak, saya Romi" pemuda itu mengulurkan tangannya pada Jen


"em iya tuan Romi" kata Jen menangkupkan kedua tangannya di depan dada


"Mas Romi saja" kata Romi dan Jen mengangguk dengan senyuman

__ADS_1


"boleh saya tahu nama nona?" tanya Romi


"nyonya muda Alexander" saut Axel yang datang dan langsung memakai kan jasnya di bahu Jen. Setelah itu ia memeluk Jen posesif.


"nyonya?" tanya Romi tidak percaya


"iya, karena ini istri saya. Ada perlu apa anda sampai menghentikan istri saya?" tanya Axel


"maaf saya hanya ingin berkenalan, dan saya juga tidak tahu kalau dia istri anda" Romi


"oke. Ayo Yang" ajak Axel pada Jen dan di angguki Jen


"kami permisi" Axel


Nyonya muda yang cantik, apa aku bisa mendapatkan gadis yang sudah menjadi nyonya itu. Alexander, harus aku cari tahu. Batin Romi dengan senyum devils nya.


Setelah meninggalkan Romi, Jen dan Axel menuju ke mobil. Didalam perjalanan pulang Axel semakin cemberut. Jen merasa tidak enak hati.


"garwo" Jen


"Yang, aku gak suka kamu dilirik cowok lain " Axel


"tapi aku gak bisa kan larang orang untuk melihat apa aja. Itu hak mereka"


"tapi kamu terlalu cantik"


" apa aku harus pakai gigi palsu yang tonggos?"


"ya jangan"


"udah lah garwo, yang penting aku milikmu kan?" Jen


"maksudnya?"


"kamu dandan cantik buat siapa?


"kamu"


"ya udah berarti nanti aku mau kamu"


"tapi garwo kemarin udah"


"Yang, kamu gak kasian sama aku? katanya cantikmu buat aku? kalau boleh milih aku lebih suka bawa kamu di kamar"


"em"


"aku dari tadi cemburu loh Yang, masa gak peka"


"iya garwo"


Sesampainya di rumah, terlihat mamah juga baru turun dari mobil. Mamah dan Jen masuk terlebih dahulu.


"kenapa boy?" tanya papah


"gak tahu" jawab Axel malas


"kamu gak suka kalau Jen di lirik cowok lain?"


"jelas dong pah,"

__ADS_1


"berarti pilihan mamah papah yang terbaik kan boy?"


"iya tapi.."


"udah sabar, jadi kamu harus pandai pandai jaga Jen. Jangan sampai Jen melirik yang lain. Bahagia kan dia, buat dia nyaman sama kamu. Anggap aja ujian punya istri cantik" papah


"iya pah" Axel dan papah melangkah masuk rumah dan menuju kamar masing-masing.


ceklek


Axel membuka pintu kamarnya, dilihatnya Jen sedang melepas heels nya. Jen berdiri dan melepas jas Axel yang masih terpasang di bahunya. Kemudian Jen menghampiri Axel yang masih berdiri dan melepas kancing lengan bajunya. Jen memegang dada Axel, perlahan Jen melepaskan kancing kemeja Axel satu persatu.


Setelah terbuka semua Jen membantu melepaskan kemeja itu dari tubuh Axel. Jen menjatuhkan kemeja itu begitu saja. Axel hanya diam dan masih sedikit cemberut. Jen mengalunkan tangan di leher Axel, dengan reflek Axel memeluk pinggang Jen.


cup


Axel mencium bibir Jen, tangan Axel memegang tengkuk Jen untuk memperdalam c*umannya. Jen semakin mengeratkan tangan nya yang ada di leher Axel. Tangan Axel yang satu mulai meraih resleting gaun Jen dan menarik turun. Dalam hitungan detik gaun itu sudah tergeletak di lantai. Axel melepaskan ci*mannya dan menggendong tubuh Jen. Axel membawa Jen ke meja belajar dan mendudukkan Jen di sana.


Axel kembali mencium bibir Jen, dan tangannya memegang dua jeruk kesukaannya. Karena mendengar suara indah dari Jen membuat Axel semakin semangat. Axel juga melahap dua jeruk secara bergantian. Puas makan jeruk, Axel membawa Jen ke ranjang dan di baringkan di sana. Axel segera melepaskan semua yang masih menghalangi niatnya untuk berkelana dengan Jen.


Setelah tidak ada penghalang di antara mereka, Axel mulai masuk kedalam goa. Berjalan perlahan dan semakin lama semakin cepat. Jen pun hanya mengikuti apa yang Axel lakukan, ia juga menikmati perjalanan nya dengan Jen.


"Yanghhhhh" Axel yang sudah sampai puncak memanggil Jen


"eemmhhh" suara Jen saat merasakan kehangatan yang di berikan Axel di dalam goa


Axel masih berjalan sampai akhirnya Jen meremas punggungnya. Axel tahu kalau Jen juga sudah sampai di titik yang ia inginkan.


"cukup ya garwo," kata Jen sambil mengusap wajah Axel


"mau lagi Yang, sekali lagi ya?" rengek Axel


"hhhmm kenapa aku selalu kalah" kata Jen dan tersenyum


"karena kamu tahu kalau itu sumber kebahagiaan ku. I love you sayang" kata Axel dan tiduran di atas t*b*h Jen.


"I love you to" Jen


"hah? aku gak salah dengar kan Yang?" tanya Axel yang mengangkat kepalanya untuk melihat Jen


"enggak garwo, aku sudah mencintai dan akan selalu mencintaimu. Aku berharap kamu juga akan seperti itu"


"pasti sayang, aku sangat mencintaimu. Terimakasih ya Yang, aku senang kamu udah bisa menerima semua ini. Dan menjalani ini dengan penuh cinta. Aku janji akan selalu mencintai kamu, dan kamu istri satu satunya yang akan selalu aku cintai." Axel


"kita masih muda, perjalanan rumah tangga kita akan sangat panjang. Aku harap apapun yang terjadi nanti, kita akan selalu bersama." pinta Jen


"pasti sayang, aku janji" Axel


Mereka pun mengobrol, tidak bisa di pungkiri kalau Axel sangat bahagia dengan ungkapan Jen. Karena memang baru pertama kali ini Jen mengungkapkan rasa cintanya. Obrolan mereka di tutup dengan kegiatan yang tadi mereka lakukan. Pukul setengah dua dini hari Axel dan Jen baru selesai.


"Aku ke kamar mandi dulu garwo" kata Jen.


"aku bantu" Axel menggendong Jen ke kamar mandi dan kembali ke kasur


Mereka tidak mengenakan baju lagi, rasa lelah dan mengantuk yang membuat mereka malas mencari baju. Jen tidur di dada Axel, nyaman dan sangat membuatnya candu. Tidak butuh waktu lama Jen langsung tertidur.


Terimakasih sayang, tanpa kamu minta aku pasti akan selalu menjaga rumah tangga dan keutuhan cinta kita. Batin Axel yang membelai rambut Jen sesekali mencium kepalanya.


Malam yang sangat melelahkan bagi pasangan muda ini, tapi juga membuat bahagia. Axel pun ikut tidur karena besok pagi masih sekolah.

__ADS_1


Dan pagi ini Jen masih tertidur pulas, sedangkan jam menunjukkan pukul setengah enam pagi. Axel menciumi wajah Jen, ia menganggu tidur Jen dengan meraba raba punggung Jen yang tanpa busana. Jen menggeliat kegelian karena ulah Axel.


__ADS_2